Kamis, 23 April 2015

Untuk Sigidad : Tanggapan atas Tanggapan (II)

"Sayang sekali, bukan debat yang saya baca, tapi lurus-meluruskan hal yang tak penting"

ITU pesan via SMS. Disampaikan seorang teman yang mengaku "kecewa" atas silang-tanggap antara Saya dan Sigidad; saya menulis; tanggapan datang dari Sigidad; saya tanggapi balik; Sigidad kembali memberi tanggap; sekarang yang ini hadir dan semoga yang terakhir.

Saya tidak akan membahas lagi (terlebih harus mengulang-ulang perkara yang kurang ditangkap-pahami) terkait apa yang sudah ada sebelum ini.

Para pembaca yang akhirnya berdatangan karena undangan via pesan siaran blekberi mesenjer yang disebar Sigidad, saya yakini saja kelelahan.  Tapi bukan karena tak mengerti, apalagi dituduh berotak tumpul yang suka bermain samurai. Namun lebih dikarenakan (mungkin) ketidak-fokusan semenjak Clash of Clan tak hanya sekadar jadi fardu kifayah yang wajib dijalankan para jamaahnya.

Maka apa pentingnya Ibu Kita Kartini dibanding Archer Queen, Valkyrie, Witch, Golem, Healer, Barbarian, atau Pekka? Terlebih, brodkes yang disebar Sigidad sebagai undangan, masuk ke Android tatkala Gobin sedang bergerak cepat memberikan sumbangsih kerusakan pada bangunan-bangunan sumberdaya. Sehingga fokus mana yang lebih berat timbanganya; War atau ketidak-pentingan Kartini?

Jadi begini, saya heran dan merasa sangat menyayangkan ketika melihat Sigidad senantiasa tergelincir ketika memaknai kata Barat di penutup artikel saya sebelumnya. Tapi saya tahu, Minion lah yang membuat semua itu. Oleh sebab itu saya tak perlu kesal apalagi harus memberitahukannya pada Lava Hound.

Dengan senantiasa mengulang-ulang kalimat yang memberi penegasan berkali-kali pada saya bahwa, Barat tak selamanya buruk, menandakan bahwa logika dan pemahaman Sigidad terhadap kalimat itu (tanpa memandang konteks)  diyakininya sebagai; saya adalah anggota ormas FPI yang mengatakan, Barat atau Eropa itu jahat bin kafir. (Utat, konteks au' utat ah, konteks. Pahami konteks).

Segala sesuatu yang dibicarakan pasti memiliki konteks. Ada bingkai atau frame di situ. Tukang blante di pasar juga demikian. Jangan heran jika mereka memilih menjauhi calo' yang berbusa-busa tanpa memahami konteks, apalagi tanpa frame yang membatasi.

Apa konteks yang ada dalam artikel terkait Kartini yang engkau tanggapi Sigidad? Dalam konteks Kartini, ada suatu kondisi yang terjadi; patriarki, kolonialisme dan imperialisme. Memahami konteks adalah memahami suatu rujukan pada sebuah dimensi waktu berupa rentetan-rentetan peristiwa yang terjadi, dirasakan, dan dialami sebelum kita berkomunikasi lewat tanggap-menanggapi di Blog. Apa kondisi yang ada/dialami Ibu Kita Kartini yang saya bicarakan melalui artikel yang engkau tanggapi? Adalah patriarkal, kolonialisme, imperialisme. Itu yang sedang berlangsung. Kartini ada dan hidup di pusaran itu.

Maka betapa engkau hanyut dalam COC dan nekat bahkan tanpa ada rasa iba pada diri sendiri (saja) ketika terlanjur berani menduga-duga bahwa saya anti Barat. Seolah-olah engkau yakin bahwa Barat bagi saya adalah tumpukan-tumpukan keburukan yang alangkah busuknya sehingga harus dimusuhi.

Hahahahaha, saya yang engkau tahu sendiri; sepanjang hari, selama hampir 2 tahun, berjemur dibawah matahari di atas pasir putih bersama para pemilik mata kucing, rambut blonde, dengan pantat-pantat naujubillah, kok tiba-tiba merasa seperti sedang dipaksa mengenakan sorban di kepala, memegang pentungan, dan menjadi anggota ormas anti Barat. Seolah (tanpa isi kepala) saya nekat dan tanpa ada rasa malu menuduh bahwa Barat, yang saya senang sebab tak hanya bekerja dengan mereka selama hampir 2 tahun, adalah wilayah tempat bercokolnya kebusukan. Tidak Sigidad, bukan itu Barat yang ada dalam kepala saya sebagaimana yang (aneh) engkau pahami secara tiba-tiba dalam tulisanmuOh, my god, wtf  Sigidad? What the hell was going on you 83? 

Lalu apa lagi setelah ini Sigidad? Ah, COC telah banyak merubahmu nak. Mungkin saraf-sarafmu terlampau lelah saja; tugas kantor menumpuk dan COC adalah fardu kifayah.

Rabu, 22 April 2015

Untuk Sigidad: Tanggapan atas Tanggapan


KESALAHAN pertama Kristianto Galuwo alias Sigidad, dalam menanggapi artikel berjudul Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini, yang saya unggah di www.arusutara.com, adalah, dia nekat menuduh (bahkan diawal paragraf) bahwa, saya (penulis artikel itu) membentangkan soal ketidakpantasan Kartini menjadi tokoh emansipasi. (tulisan miring adalah kutipan asli di blog Sigidad)

Jawaban saya adalah; coba Sigidad cari lagi, dimana penegasan saya yang mengatakan bahwa, Kartini tidak pantas menjadi tokoh emansipasi?

Kedua, Sigidad yang lupa pernah membaca link (yang diyakininya sama) soal keraguan akan ketokohan (mungkin maksudnya kepahlawanan) Kartini, sekonyong-konyong kembali nekat “menuduh” yang kedua-kalinya bahwa, saya mengutip link yang dibagikan kawannya (entah siapa kawannya itu) di masa silam itu terkait Kartini yang disandingkan dengan pahlawan perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien yang berdarah-darah di medan tempur.

Ketiga, Aceh memang berbeda kultur dengan Jawa. Tapi soal kalimat yang disampaikan Sigidad mengenai kultur islami, saya merasa malas mendebat itu.

Keempat, Saya tertarik dengan kalimat Sigidad yang menyatakan (saya kutip) : Kaum perempuan begitu dihormati di kalangan Islam. Singkatnya, Cut Nyak Dien berjuang dan mendapat tempat. Tak begitu dengan Jawa. Tak begitu pula dengan Kartini.

Jawaban saya, sekali lagi malas rasanya mendebat apa yang sudah disandarkan Sigdad pada tiang agama yakni Islam lewat kalimat; Kaum perempuan begitu dihormati di kalangan Islam. Meski awalnya saya sempat berhasrat untuk mengatakan bahwa, adat dan adab di Mongondow, memberi banyak contoh pelajaran dan praktek bagaimana memperlakukan dan menghormati wanita, bahkan jauh sebelum para leluhur di sini (Mongondow) dikatai sebagai Kaper! Oleh para pendatang.

Kelima, Soal Cut Nyak Dien dan Kartini yang sama-sama beragama Islam, sebagaimana yang Sigidad ketahui, kenapa beda pandangan (secara islami)? Dipengaruhi latar belakang adat budayakah? Atau diantara dua wilayah berbeda ini, satu diantaranya hanya menjadikan Islam sebagai topeng. Lebih kuat adat mana? Atjeh atau Djawa? Masih ingat salah satu factor yang menjadi pemicu meledaknya Perang Padri di tanah Atjeh? Atau perlu bergegas ke perpustakaan mini Yudien Mirzha Salam di Gorontalo? Ah, Om Gogel sedekat urat nadi.

Keenam, Apa Sigidad yakin, di masa kolonialisme menggerogoti nusantara, penjajahan dilakukan dengan memandang suku adat dan budaya wilayah jajahan? Atau setali-tiga uang, penjajahan tetaplah penjajahan.

Ketujuh, Kartini dilahirkan dari darah priyayi. Tanggapan saya: Lalu Cut Nyak Dien atau Martha Christina Tiahahu, lahir dari darah apa? darah O, AB, atau darah yang secara kasta lebih tinggi dari priyayi?

Kartini dibebat dengan adat yang begitu lekat.  Lalu Cut Nyak Dien dan Martha Christina Tiahahu, dibebat dengan adat apa? adat alay-kah?

Kartini besar dengan sempurna. Sebab kenapa? Di usianya yang begitu muda, Kartini yang gadis sudah membaui begitu banyak buku. Iya, membaca kerap diidentikan dengan anak rumahan, bukan?

Jika Kartini besar dengan sempurna karena Di usianya yang begitu muda, Kartini yang gadis sudah membaui begitu banyak buku. Lalu, Cut Nyak Dien (tanpa perlu menyebut tokoh perempuan lainnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan) besar dengan apa? gejetkah, fesbukkah, atau Clash of Clan?

Apakah berjuang melawan ketertindasan perempuan dijaman kolonial dan dominasi patriarki yang betapa tengiknya, sudah cukup dengan membaca majalah atau cerpen sembari minum teh dan dada seringkali berguncang karena penasaran (mungkin pula takut) akan dipoligamikan dikawinkan dengan siapa?

Kedelapan, Kartini agamais dan plural?. Ah, mungkin betul. Mengkritik agama bisa lebih agamais dari yang agamais. Begitupun ketika mengkritik Al-Quran yang “konon” tak diterjemahkan. Bisa lebih mulia dari yang sekedar membacanya, tanpa mempraktekkan kemuliaan-kemuliaan yang terkandung di dalam teks-teks suci. Lalu Kartini, apakah mempraktekkan ide dan teks-teks feminisme (berbahasa Belanda) yang konon dibaca dan ada terjemahannya?

Apa yang bisa dipahami bahkan dari ayat-ayat api, jika kita tak tahu maknanya?

Maka apa pula yang bisa dipercaya dari teks-teks feminism yang dibaca Kartini tanpa makna tanpa praktek? Dan tiba-tiba dapat tempat; pejuang emansipasi wanita endonesya. Emansipasi Politik Etis?

Bahkan baginya poligami pun tak masalah meski terpaksa. Nabi juga begitu kepada perempuan, katanya. Lalu Kartini menulis. Itu saja.

Apakah ide dan teks-teks feminisme Eropa yang dibaca Kartini adalah termasuk melanggengkan poligami? Ajaran dan gerakan feminism Eropa macam apa yang menyetujui poligami sebagaimana yang dipasrahi Kartika Kartini?

Kesembilan, Kartini memberontak lewat tulisan? Mana tulisan rebel itu? Bolehkah kita tanyai Balai Pustaka? Hasta Mitra, atau Om Gogel?

Kartini yang terkungkung seorang pahlawan. Pahlawan tak harus berdarah-darah dan terkaing-kaing di medan perang. Bahkan dari balik tembok keraton atau jeruji, sastra bisa berperang. Itu saja.

Sigidad,  yang berdarah-darah dan terkaing-kaing di medan perang, biasannya mati di situ, di arena. Tanpa pernah mendengar lagi namanya disebut, dianggap, atau dijadikan sebagai pahlawan.

Ah, terkadang pahlawan memang lahir tanpa segorespun luka, tanpa setetespun darah.

Kesepuluh, pada jaman itu, di masa ketika Kartini sedang belajar menulis “surat”, kehidupan di nusantara tengah dirundung kegelapan; penjajahan, penghisapan, kerja paksa, feodalisme, dan patriarki. Cahaya nan terang benderang hanya ada di Barat, tempat dimana para imperialisme bertolak kemari. Tujuan mereka datang amat jelas; hendak membawa terang di kegelapan yang betapa gulita dan lamanya terjadi di nusantara. Kolonialisme adalah cahaya yang mereka bawa itu. Cahaya untuk menerangi kegelapan yang telah menua.

Door Duisternis Toot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang. Politik etis, politik balas budi, politik cahaya atas kegelapan yang telah begitu purba berlangsung di nusantara. Kegelapan yang diperbuat kaum imperialis.

Minggu, 29 Maret 2015

Dialog Publik di Korot dan "Kesesatan" Topik Yang Nyaris Berbuntut Adu Jotos

Dalam acara dialog atau diskusi publik (dikemas formal maupun nonformal), memang tidaklah mungkin semua peserta yang hadir dapat diberi kesempatan oleh moderator untuk berbicara.

Kesadaran itulah yang membuat saya harus maklum, meski memang tidak bisa menafikan, kedongkolan yang membuncah ketika berkali-kali (bahkan) memaksa (dengan cara berbisik penuh penekanan) ke telinga moderator, saat melintas di depan meja tempat saya berada, agar kiranya dapat memberi kesempatan, meski 30 detik saja agar saya dapat  berbicara.

Dialog bertajuk “Saatnya Pemuda Bergerak” dengan sub-tema “Posisi Pemuda Dalam Pusaran Pilkada Gubernur Sulut” yang digelar tadi malam di Kopi Korot Kotamobagu, dipimpin oleh Sehan Ambaru SH, selaku moderator sekaligus master ceremony (MC), dan meninggalkan banyak sesal yang percuma.

Sehan Ambaru SH adalah seorang sahabat reriungan di Kantin Pemkab Bolmong Jalur II (2010 silam), Kampus UDK, dan teman ngopi di Korot. Dia juga tercatat sebagai PNS di Pemkot Kotambagu, dan Sabtu 20 Maret 2015 kemarin, baru dilantik sebagai Wakil Ketua I KNPI Bolaang Mongondow. Selebihnya tentang Sehan Ambaru SH, bagi orang Mongondow yang berlangganan koran 5 tahun belakangan, pasti sudah tak asing dengan namanya.

Apa yang perlu dikritisi dengan Sehan Ambaru SH selaku moderator dalam dialog publik tadi malam yang digelar KNPI Bolmong? Dan apa pula yang perlu dikritisi dengan dialog publik yang ikut melibatkan kehadiran para elit politik Mongondow diantaranya Aditya Didi Moha (Anggota DPR RI), Yasti Sopredjo (Anggota DPR RI), Tatong Bara (Walikota Kotamobagu) Ahmad Sabir (Ketua DPRD Kotambagu), Kamran Mochtar (Anggota DPRD Bolmong), Abdul Akdir Mangkat (Wakil Ketua DPRD Bolmong) Herry Coloay (Anggota DPRD Kotamobagu), plus kehadiran Jackson Kumaat selaku Ketua DPD KNPI Sulut yang tak lepas dengan kapasitasnya selaku politisi Partai Demokrat yang namanya mulai dikenal di dunia perpolitikan Sulawesi Utara semenjak mencalon sebagai Walkota Manado 2010 silam.

Pertama, soal Sehan Ambaru SH selaku moderator. Tadi malam adalah kali kedua saya terlibat sebagai peserta dialog publik di Korot yang dipimpin oleh Sehan. Tulisan ini merupakan pula kritikan kali kedua di Leput, yang saya alamatkan kepadanya.

Jika pada dialog sebelumnya, kegagalan Sehan tertangkap lewat aksi sepihaknya yang mengklosing dialog saat baru memasuki sesi ke 2 (padahal dibagi 4 sessi), sehingga memunculkan banyak reaksi dari peserta, maka tadi malam, kegagalan Sehan tertangkap lewat pembiarannya terhadap para (sebenarnya) peserta (tadi malam disebut sebagai nara sumber??) di jejeran meja depan.

Pembiaran itu adalah ketika Sehan selaku pemimpin jalannya dialog memberi kesempatan kepada Yasti Soepredjo memberikan penyampainnya (yang panjang) terkait isu Propinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR).

Apa dampak dari pembiaran itu? Arah diskusi mangkir dari tema dan mengarah ke isu PBMR sehingga out of context dengan tajuk yang sudah ditetapkan; Saatnya Pemuda Begerak/Peran pemuda Dalam Pusaran Pilkada Gubernur Sulut.

Maka jangan heran jika peserta yang diberi kesempatan selanjutnya oleh Sehan dalam menanggapi isu tersebut, seperti gayung bersambut, meneruskan topik dan isu yang dilontarkan Yasti Soepredjo.

Kedua, soal fungsi dan peran dialog. Ajang diskusi yang sebenarnya hanya sebatas wadah pengemasan isu terkait posisi dan peran pemuda yang ditekankan untuk; bergerak dan menentukan sikap terkait pilkada gubernur, tak ayal terjungkir balik dari tujuan.

Kenapa? Sebab yang terjadi tadi malam, peran dan fungsi dialog tersebut sekonyong-konyong justru bergeser ke (semacam) momen penjaringan kandidat bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang umumnya diperankan partai politik. Ini tergambar dari ungkapan para peserta (termasuk elit politik yang dihadirkan dan disebut sebagai nara sumber?).

Diantara kita yang hadir tadi malam pasti masih ingat pernyataan para peserta yang diberi kesempatan moderator memegang mic dan berbicara. Rata-rata pointnya (selain terjebak dengan topik PBMR) adalah; penjaringan dan penetapan nama bakal calon kandidat yang harus diusung untuk maju dalam pilkada gubernur.

Sialnya lagi nama-nama yang disebutkan (dijaring) justru jauh panggang dari PEMUDA. Helooooo... bukankah seharusnya kita membicarakan soal PERAN dan POSISI PEMUDA DALAM ARUS PUSARAN PILGUB sebagaimana topik dialog? Dan tengoklah tajuk yang ditetapkan panitia : SAATNYA PEMUDA BERGERAK. Lain soal jika tajuk tadi malam diganti; SAATNYA PEMUDA MENJADI TIM SUKSES. Dan sub-tema diganti; PERAN PEMUDA DALAM MENJADI TIM SUKSES DI PILKADA GUBERNUR SULUT.

Lalu apa yang semakin memperparah jalannya dialog? Adalah tidak adanya sikap “pertobatan” dari Sehan selaku moderator untuk kemudian membawa dialog kembali pada topik dan tema yang diusung, yakni SAATNYA PEMUDA BERGERAK dan POSISI PEMUDA DALAM PUSARAN PILKADA GUBERNUR SULUT.

Ketiadaan “pertobatan” sang moderator sehingga berbuntut pada “sesatnya” berderet pernyataan yang keluar dari para peserta secara berjamaah, alhasil hanya melahirkan ketiadaan gerak pemuda dalam mengidentifikasi peran dan posisinya dalam pusaran Pilgub Sulut, sebagaimana tujuan yang diharapkan.

Memang, diluar dari semua itu, secara obyektif, Sehan tampil prima, bersemangat dan begitu keasyikan dalam memimpin jalannya dialog. Kita patut mengakui itu sebab tak semua orang mampu melakukan apa yang dilakukan Sehan tadi malam. Sehan seperti merasa sedang di atas angin dan menikmati peran yang dimainkannya. Seperti ada tujuan yang terselip diantara 'atraksi' todong-menodong mic kepada peserta yang terpilih.

Tetapi performance prima sekaligus segar dan agak memukau itu, justru tercela setelah sempat terjadi insiden antara peserta dengan moderator dan peserta dengan peserta di menit-menit terakhir hingga nyaris berakhir dengan adu jotos. Dan semua itu akibat dari pembiaran topik dan sikap buru-buru seolah langit runtuh jika sudah lama-lama berdialog.

Sudah kali kedua dalam kesempatan dialog publik, Sehan seperti moderator yang sejak awal begitu terburu-buru dengan waktu seolah-olah akan ada gempa menimpa Korot jika jam dinding sudah mendekati pukul 12 tengah malam, sementara dia masih memberikan kesempatan kepada satu-dua peserta untuk berbicara.

Ini nampak sekali. Seolah Sehan begitu ketakutan dengan waktu yang sudah mulai mendekati pukul 12 tengah malam. Kenapa?? Apa karena sudah mengantuk? Kecapean jadi moderator? Kelaparan? Bukankah ada 100 kopi korot tersaji plus makanan?

Maka apa yang terjadi selanjutnya akibat sikap dia yang buru-buru hendak mengklosing acara sebagaimana yang pernah dilakukan pada acara sebelum itu?  Denny Mokodompit (DeMo) salah seorang peserta yang merasa tak kebagian mic padahal jauh-jauh datang dari suatu urusan di seberang dan bela-belain datang ke Korot mengesampingkan anak-istri yang sudah rindu di rumah, sontak protes.

Terjadi perdebatan antara Sehan dan DeMo disaksikan secara agak menegangkan (juga lucu) oleh para peserta. Sehan yang bersikukuh tak ayal gelagapan tatkala mic dari tangannya dirampas paksa oleh DeMo. Dihadapan para peserta termasuk tamu dari pengurus DPD KNPI Sulut, Manado dan Tomohon, nampak sekali mereka (Sehan dan DeMo) seperti dua orang bocah yang saling berebutan lolipop.

Saling rampas mic itu seperti tontonan bonus terhadap para hadirin yang berakhir dengan kemenangan DeMo selaku peserta dan kekalahan Sehan selaku moderator. Sehan nampaknya harus belajar kata ikhlas sebagaimana penggalan “pidato” Aditya Didi Moha ketika diberi kesempatan bicara di awal. Dan keikhlasan itu tergambar setelah ia mengalah dari ‘superioritas’ DeMo yang sempat mengancam; “so lama kita ndak pukul orang jadi jang sampe kita pukul orang gara-gara ndak kase bicara di sini”

Buntut dari “kesesatan” topik yang terjadi sudah sejak awal dialog, membuat isi pernyataan DeMo cepat tertuduh “sesat” karena menggaungkan kembali topik PBMR. Sehan menyela dan DeMo balik menyela dengan alasan; sejak dari tadi moderator tidak menyela penyampaian Yasti Soepredjo (meski panjang-lebar) soal PBMR, termasuk kawan-kawan peserta lainnya. DeMo juga mengaku berhak bicara berhubung kapasitasnya selaku Panitia Pemekaran PMBR.

Saat kembali terjadi saling sela dengan kalimat yang saling menekan dan panas, seorang peserta lainnya sontak berang lalu bangkit dari kursi kemudian dengan nada lantang mengecam DeMo yang dianggap sudah “sesat” topik tapi tetap bersikukuh bicara apalagi dinilai menyinggung. 

Saling rampas mic kembali terjadi. Sehan yang dibantu beberapa peserta  akhirnya berhasil mengambil-alih mic dari tangan DeMo yang terus-terusan memohon agar bisa diberi kesempatan bicara.  DeMo yang dipaksa harus pasrah lantas berjalan ke arah peserta yang menantangnya seperti hendak mengajak duel. Tapi beruntung situasi cepat dipulihkan sehingga terhindar dari adu jotos.

Sebagai catatan, sebaiknya kedepan, dialog publik yang berlangsung di Kopi Korot harus terjaga dari pemangkiran topik, sehingga terhindar dari “kesesatan" secara sistemik dan berjamaah di kalangan peserta dalam mengeluarkan pendapat, supaya dialog yang harusnya memberi asupan wawasan dan kecerdasan tidak berakhir dengan adu jotos gara-gara pembiaran atas “sesatnya” topik.

Dan kepada sahabat reriungan Korot, saudara Sehan Ambaru SH, sudah dua kali Anda tampil prima, segar, dan agak memukau, dalam memimpin dialog. Tetapi ingat, sudah dua kali pula kepala Anda hampir benjol diketok mic oleh peserta.

Kepada kita pengunjung setia Kopi Korot, selayaknyalah menjadikan ajang dialog publik yang baru mulai terbangun di Mongondow sebagai ajang penambah wawasan dan pengasah kecerdasan, bukan sebagai ajang untuk sekedar tampil belaka sehingga jauh panggang dari pokok yang hendak dikupas!

Jumat, 20 Maret 2015

Mengukur Kepedulian Negara dengan Program dan Matematika


Anggaplah engkau Chairil Anwar yang mengembara seperti Ahasveroz tatkala ditinggal kekasih, lalu merasa seolah-olah dikutuk-sumpahi Eros sembari merangkaki dinding buta yang tak satu jua pun pintu terbuka. Atau anggaplah engkau Romeo pacarnya Juliet dalam kisah yang ditulis William Shakespeare. Atau (agar lebih local dan familiar) anggaplah engkau Burhan pacarnya Maimunah dalam kisah di sekitar kita.

Tatkala Burhan bersedih dalam duka mendalam karena kalah bersaing dengan Polisi berpangkat Kapten yang menikahi Maimunah, di manakah negara berada ketika gundukan duka itu melempar Burhan ke jurang kepedihan? Lalu di mana pula negara sembunyi ketika Burhan sedang dalam kesusahan? Dan di mana batang hidung negara ketika perabotan rumah, laptop, dan sepeda motor yang dibeli Burhan secara fidusia (kredit) ditarik kolektor perusahaan rente karena menunggak 2 bulan. Padahal jangka kredit dengan kontrak 2 tahun itu, tinggal 5 bulan lunas.

Lalu apa yang dilakukan negara ketika Burhan berniat melanjutkan studinya, namun tak punya cukup biaya. Kemudian apa yang dilakukan negara ketika Burhan sakit tapi tak ada obat, dokter, dan rumah sakit gratis. Apa tindakan negara ketika polisi lalu-lintas menilang Burhan karena pajak kendaraan yang baru lewat beberapa hari lupa dibayar. Apa yang dilakukan negara ketika jalan di desa tempat Burhan tinggal sudah 20 tahun tak pernah diperbaiki. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan terlambat bayar tagihan air dan listrik sehingga sambungan demi kelangsungan hajat hidup itu dipotong petugas PDAM dan PLN. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan tak bisa menunjukkan KTP dan Surat Nikah sehingga tergaruk razia di hotel kelas kampret. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan yang bisulan melihat tetangganya sekarat tapi tak ada kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dan ketika pencuri menggasak harta benda milik Burhan, di mana negara ketika itu? Apakah saat itu juga negara mau mengejar pencuri lalu menangkapnya dan mengembalikan semua harta benda milik Burhan yang dicuri itu? Lalu apa pula yang dilakukan negara terhadap Burhan yang minum alkohol karena ia sekedar mengusir ingatannya terhadap Maimunah? Apa, di mana, apa, di mana, dan betapa banyak ‘apa’ dan ‘di mana’ lagi jujut-menjujut seolah tak ada hentinya??

Diantara kita mungkin ada yang pernah berpikir, negara tiba-tiba ada dan senantiasa hadir seketika tatkala penghasilanmu harus dipotong pajak. Negara juga tiba-tiba cepat ada dan hadir seketika saat engkau hendak mendirikan usaha (meski kecil-kecilan) sebab harus mengurus ijin usaha dan sudah tentu harus bayar pajak. Negara juga hanya terasa benar-benar ada dan senantiasa hadir ketika ia datang sebagai kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, atau presiden.

Tapi dalam keseharian kita, negara memperlihatkan wujudnya sebagai kepala dusun, kepala desa, lurah, petugas pajak, polisi, jaksa, atau hakim. Ketika kita hendak menikah, di situ negara hadir. Mengurus KTP di situ juga negara hadir. Mengurus ijin usaha, di situ juga negara cepat hadir. Ketika hendak keluar daerah di situ juga negara ada lewat surat jalan yang dibuat lurah atau kades. Ketika bayi lahir dari kandungan, di situ negara juga hadir sebagai akte kelahiran.

Sebagian dari kita mungkin ada yang menyederhanakan kesimpulannya dengan pendapat yang mengatakan; negara tak lebih dari sekedar hukum. Ketika engkau melanggar hukum, maka disitulah negara ada dan hadir seketika. (terutama ketika sedang kena tilang)

John F Kennedy, mantan Presiden Amerika Serikat pernah berkata; “Jangan tanya apa yang sudah diberikan negara terhadapmu, tetapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada negaramu”.

Sedangkan Karl Marx mengatakan, Negara adalah alat kelas yang berkuasa untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain.

Kalau menurut Prof. Miriam Budiardjo, Negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah.

Sedangkan J.J. Rousseau mengatakan bahwa, kewajiban negara adalah memelihara kemerdekaan individu dan menjaga ketertiban kehidupan manusia.

Lalu jika kita melayang jauh ke jaman Yunani kuno maka, Aristoteles mengatakan, Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa negara menjamin kehidupan berkebangsaan yang bebas merdeka berdasarkan 5 sila. Negara juga berkewajiban melindungi dan menjamin keselamatan setiap warga negaranya, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan rakyatnya.

Ah, sepertinya butuh ruang lebar dan luas lapang untuk sekedar membicarakan ini. Selain itu akan membutuhkan waktu berhari, berbulan, bahkan mungkin bertahun untuk menyelesaikannya. Tapi saya memang tak bermaksud mengurai-bentangkan sejarah negeri ini hingga sebuah negara berbentuk republik dengan nama Indonesia, disusun dan dibentuk oleh para founding father’s.

Tulisan ini lahir semata-mata lantaran mual-mual menyimak berita di koran, internet, dan tipi. Dan sepertinya terusik oleh rentetan pernyataan yang keluar dari mulut para aparatur negara yang belakangan punya hobi dan pendapat seragam terkait perkara narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba). Spesifiknya lagi adalah kekompakan alasan soal kenapa mereka (negara dan aparatur hukumnya) tega melakukan pembunuhan yang sangat berencana sekali terhadap para narapidana kasus narkoba dengan bersandar pada alasan; demi menyelamatkan kehidupan generasi muda; sebab masa depan bangsa ada di tangan generasi muda; mereka (generasi muda) adalah ujung tombak bangsa yang harus diselamatkan; jika generasi muda rusak, maka rusak pulalah bangsa dan negara.

Amboii… bukankah sekarang kita melihat lahirnya logika kepercayaan (dari negara) yang mengatakan, generasi muda adalah mutiara negara yang harus dilindungi. Dan para pengedar adalah penjahat generasi muda yang pantas dibunuh (eksekusi mati). Karena mereka (para pengedar, kurir, dan sejenisnya) adalah mesin mematikan yang telah membunuh generasi muda dengan angka yang alangkah fantastisnya, yakni 51.000 nyawa per tahun. (apa ini betul?)

Baik, kita sepakat dengan niat kepedulian pemerintah (negara) terhadap kehidupan generasi muda. Tapi benarkah demikian adanya? Mari kita nilai kepedulian negara ini dengan matematika. Lha, kenapa harus dengan matematika? Karena kita percaya bahwa matematika adalah ilmu pasti. Tidak bisa diuber-uber sebagaimana ilmu politik dan cabang-cabangnya. Maka, sembari beriman kepada matematika, mari kita buka apakah kepedulian negara itu nyata adanya atau hanya manis di bibir saja.

Mulailah dari desa tempat kita tinggal. Coba cek, program pemerintah apa yang sedang dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda. Ada tidak? Jika ada, maka program apa itu? Bagaimana bentuknya? Kalau tidak ada, mengapa menaruh percaya bahwa negara/pemerintah benar-benar peduli terhadap kehidupan generasi muda sampe nekat membunuh kurir narkotika.

Jika program kepedulian terhadap generasi muda itu ada di kampung Anda tinggal, maka program apa itu? Apakah alokasi dana sebesar Rp 2,5 juta per tahun itu dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan generasi muda?  yang umumnya berjumlah di atas 500 orang per desa? Buat apa dana Rp 2,5 juta per tahun itu? Jika Rp 2,5 juta itu dibagi rata untuk 500 pemuda, maka Rp 2.500.000 : 500 Pemuda = Rp. 5.000 per pemuda.

Jadi ada Rp. 5000 di kantong 500 pemuda yang diberikan negara sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang agar tidak merusak dirinya dengan cara membeli dan menjadi pecandu narkotika.

Selanjutnya, uang yang gak cukup beli seporsi nasi ini  pun harus dihemat untuk dibelanjakan selama selama 1 tahun atau 12 bulan atau 365 hari.

Jika pemuda yang dapat dana kasih sayang sebesar Rp. 5.000 per tahun harus menghemat uang tersebut, maka berapa nominal perhari yang harus dibelanjakan agar uang kepedulian itu dapat bertahan selama 365 hari (1 tahun)? Maka kita ambil kalkulator dan hitung,  5.000 : 365 = 13,69XXXXXX.... (benar-benar angka sial men!)

Masya Allah,  apa yang dapat dibeli dengan Rp 13 itu?  Sungguh sebuah pelecehan. Bayangkan bro, bayangkan Burhan, pewaris dan penerus masa depan bangsa dikasih 13 rupiah per hari. Preek!

Bagaimana pula kalau jumlah pemuda di kampung lebih dari 500 orang? Segera lempar kalkulator ditanganmu itu Burhan sebelum minus 0,0XXXXXXXX muncul di layar dan membuatmu tak berselera untuk sekedar gosok gigi. Jangan sampai Rp 13  atau minus 0,00 itu akan membuat asam lambungmu naik hingga engkau benar-benar punya niat bunuh diri, atau dengan terpaksa mencari pelarian atas tragedi yang baru kau sadari itu. Menjerumuskan diri ke lembah hitam, misalnya. Semacam jadi begal motor, kurir, arau pecandu kelas tengik.

Lalu, kenapa pemerintah dan aktivis-aktivis pendukung hukuman mati, betapa tidak tahu malunya mengumbar bacotnya di media massa yang secara berulang-ulang dan kompak (seperti dihafal) mengatakan begini; "Ini demi keselamatan generasi muda selaku pewaris masa depan bangsa".

Negara yang menganggap generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa tetapi menelantarkannya, bukankah sama halnya dengan seorang suami pemabuk, menelantarkan anak istri, pelit pula, tetapi selalu minta dilayani meski pada tengah malam buta hingga subuh menjelang? Dan sebagai pemberian tahu pada anak istri bahwa si suami benar-benar peduli dan melindungi masa depan anak-istri, sang suami tak segan-segan membunuh tetangga atau anggota keluarga sendiri gara-gara anak-istrinya 'dijerumuskan' dengan cara mencampur telur dadar dengan jamur tahi kuda, supaya mereka dapat makan dan tahan lapar sehingga kuat menjalani hari sekaligus melayani suami, sembari tetap mempertahankan indeks kebahagiaan atas pelarian dari bencana hidup yang dialami gara-gara terikat hukum pernikahan dengan sang suami pemabuk, pelit, menelantarkan anak-istri dan sebenarnya gagal dalam membina rumah tangga?

Hanya suami sakit, gagal, dan tak tahu malu yang nekat membacot di hadapan publik dengan omongan; “Jangan tanya apa yang telah suami berikan kepada kalian, tetapi tanyakanlah apa yang telah kalian berikan pada suami”.

Apalagi alasan dia membunuh anggota keluarga dan tetangga yang memberi (padahal diminta) telur dadar campur mushroom kepada anak-istrinya (yang sebenarnya ia terlantarkan karena ia sibuk ngurus politik), adalah karena ia begitu merasa peduli kehidupan dan kesehatan anak-istri, dan tak akan pernah memaafkan anggota keluarga maupun tetangga yang dianggapnya telah menjerumuskan anak-istrinya ke dalam bencana hidup. Helloooooo….??? Negara dan suami macam apa itu?

Bagi istri-istri yang berpikir, pasti akan menuntut CERAI, atau segera meninggalkan secara malintang deng manta-manta pa depe laki! :p

Tulisan terkait :

Matematika dan Kecurigaan Kita

Minggu, 15 Maret 2015

Matematika dan Kecurigaan Kita



Saya tidak berani, apalagi tega, untuk semena-mena memastikan bahwa, anak-anak Mongondow seusia saya ketika itu, usai menamatkan SD dan melanjutkan ke jenjang berikutnya, punya kecemasan sama seperti yang saya alami terkait mata pelajaran Matematika. Namun yang jelas, di masa yang telah silam itu, saya menyadari, betapa payahnya diri ini untuk sekedar bersorak secara munafik di dalam kelas dan hanyut dalam euforia yang tak kalah munafiknya ketika seolah-olah berhasil mengerjakan soal Matematika, pada beberapa tahun yang telah lampau ketika tercatat sebagai siswa SMP Negeri 1 Kotamobagu.

Matematika yang sebelumnya saya mamah-biak secara enteng saat masih di bangku SD, tiba-tiba jadi mumet di kepala tatkala deretan rumus dan sebutan yang membacot seperti; contingent, alfa, cosinus, beta (dan anak-pinaknya), menjadi seperti untaian bencana yang berkeluk-keluk dan malimbuku secara tengik di kepala hingga berefek pada naiknya asam lambung, dan yang terparah adalah diare.

Mulanya saya memang menganggap bahwa mata pelajaran matematika hanyalah ledakan kesenangan yang dirasakan tatkala berhasil mengerjakan soal-soal terkait pembagian, pengurangan, perkalian dan penambahan, sebagaimana yang pernah saya rasakan di bangku SD.

Tenyata saya keliru. Penjelasan soal diagonal sisi, diagonal bidang seluruhnya, persamaan kuadrat, bujur sangkar, segitiga siku-siku, logaritma, dan kemumetan-kemumetan lainnya, benar-benar telah merampas kenyamanan dan rasa ganteng di dalam kelas. Apalagi rata-rata guru matematika di jaman itu adalah para ‘killer’ yang bicara dengan mistar, cubitan pedih, dan tak jarang berbentuk tamparan menyakitkan (tentu pula memalukan) tanpa mereka para pendidik itu perlu khawatir kalau tindakan itu melanggar HAM. (terima kasih atas tumbangnya Orba).

Dan betapa memalukannya ketika engkau (yang payah matematika) sengaja dipilih bapak/ibu guru (tentu dengan niatan busuk) untuk tampil di depan papan tulis lalu disuruh mengerjakan kerumitan soal, padahal mereka tahu betul bahwa engkau adalah siswa yang tak hanya payah tapi tuna-rumus. Terkadang kita memang merasa sedih membayangkan peristiwa ini; kau buta rumus, payah matematika, dan guru-gurunya adalah para 'killer'. Ah, betapa ada babak-babak dalam hidup kita di jaman kanak dulu yang kenyamanannya benar-benar terampas.

Maka, tak ada ruang belajar yang lebih berguna (benar-benar terbukti berguna), saat jam Matematika akan masuk, saya sudah duluan minggat dari kelas dan temukanlah saya di Kolam Renang Stadion Gelora Ambang. Siapa sih diantara kita pada masa itu (siswa-siswi) yang mau di-bully; ganteng-ganteng tolol atau cantik-cantik tapi goblok rumus pythagoras. (tepuk jidat).

Maka di situ (Kolam Gelora Ambang) saya merasa lebih berguna, berbobot, dan tentu tetap merasa ganteng, sehingga betapa merdekannya saya mempraktekkan gaya punggung, gaya bebas, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya selam, gaya salto bahkan loncat indah dari ketinggian 10 meter yang menuai aplause meriah kakak-kakak putih abu-abu yang ternyata sudah duluan ada di sana.

Tak jarang saya berhasil mempengaruhi teman sekelas untuk keluar dari jam matematika dan mencari manfaat lain (belajar berenang misalnya) ketimbang harus nampak bodoh dan munafik di bangku deretan belakang, atau jadi saksi dengan hati dibebani rasa iba dan campur-aduk yang gimana gitu, ketika harus menyaksikan bagaimana pedihnya mistar itu membabat betis dan pantat siswi (bunga kelas yang kau taksir), karena kepayahannya terhadap soal matematika dan lupa mengerjakan PR. Ini belum termasuk jadi korban bully ketika disuruh berdiri di atas bangku atau dilempar bantalan penghapus (dengan efek dramatis berupa debu putih yang mengepul) karena nampak bak keledai yang cengar-cengir dengan keadaan bodoh karena kepayahan menyelesaikan contoh soal di papan tulis.

Tapi menggencarkan ‘agitasi propaganda’ terhadap teman sekelas untuk mensubstitusi pelajaran matematika (sekali-sekali maksudnya) dengan mata pelajaran Penjas (renang misalnya), bukan tak melahirkan perdebatan dan adu argumen. Oleh sebab itu urat leher saya harus selalu timbul demi meyakinkan paham kepada teman bahwa, tak usah merasa langit seperti runtuh hanya karena bolos mata pelajaran Matematika sekali-sekali saja, sebab pelajaran Matematika hanya sekedar permainan kepintaran di ruang kelas belaka. Sedangkan di luar kelas, Matematika kehilangan eksistensi kecuali dalam kepentingan bertransaksi. Ketidak-berdayaan Matematika terbukti ketika ia tidak bisa diandalkan sehingga gagal menjadi keahlian pribadi yang menyelamatkan. Artinya, Matematika hanya ada dan hidup dalam realitas kelas (sekolah) sedangan dalam realitas sosial (luar sekolah), Matematika tidak memberikan banyak manfaat.

Kepada beberapa teman, saya lantas mencontohkan, misalnya ketika pulang sekolah lalu engkau dihadang sekelompok pemalak (anggap begal di jaman sekarang), tidak mungkin keahlian Matematika yang dimiliki akan menyelamatkanmu. Kecuali terapan ilmu yang ada di Penjas yakni; Sprint 100 Meter, Marathon, atau mengandalkan tendangan Karate.

Ambil contoh pula ketika kapal yang engkau tumpangi hendak karam, tidaklah mungkin engkau mengandalkan pengetahuan matematis dengan terlebih dulu mencari kertas buram lalu mencakar-cakar rumus di situ lalu membahagi kurung dan mengalikan berapa kedalaman laut dikalikan dengan berapa derajat kemiringan kapal, kemudian dibahagi-kurang dengan jumlah penumpang. Sebab dalam keadaan begitu, keahlian matematis sama sekali tidak diperlukan. Tetapi jika engkau jago renang, maka keselamatan diri dapat dijamin. Begitupun ketika ada orang tua berteriak-teriak histeris melihat putrinya yang cantik sedang diseret ombak, tak mungkin orang tua si tuan putri akan berteriak kepada khalayak di kapal; “siapa yang jago Matematika di sini? Tolong selamatkan anak saya dan sebagai hadiah, kalian akan saya nikahkan”.

Pendek kata, di jaman itu, bagi saya Matematika hanyalah permainan kepintaran yang hanya berlaku di dalam kelas saja dan sebagai penambah nilai rapor. Sedangkan di luar kelas, Matematika dengan rumus-rumusnya betapa payah menjadi peganggan atau keahlian diri yang menyelamatkan. Cukuplah sudah Matematika merampas dan meneror rasa nyaman dalam ruang kelas kita sejak di bangku SD hingga SMA. Dan biarlah Matematika hanya dikejar oleh mereka yang benar-benar tertarik dan serius dengan kubus, persamaan kuadrat, contingent, alfa, cosinus beta, segi-tiga sama kaki, dan pada aljabar.

Oleh sebab itu saya selalu bersyukur, tabiat mensubstitusi Matematika dengan Kolam Renang Gelora Ambang pada masa yang silam itu, benar-benar berguna di episode kehidupan saya selanjutnya. Tak usah dijejer record yang pernah dicapai. Begitupun kisah-kisah haru, romantis, menyenangkan, dan kepahlawanan (Ekheeem..) gara-gara skill jago renang yang dimiliki. Tapi betapa menyenangkan ketika saya diterima dan bekerja dengan orang luar Mongondow di Diving Center sebuah Resort yang letaknya di pulau jauh dengan terumbu karang dan pasir putih nan indah, dimana 98 persen tetamunya bermata bak kucing di rumah Ibu. Di situ kadang saya ikut memanggang kulit dibawah terik matahari bersama para pemilik mata kucing ini selama 1,5 tahun.

Baiklah, itu hanya sepenggal kisah di suatu masa yang telah berlalu, dimana Matematika adalah bencana dari rasa nyaman dan keceriaan dalam kelas. Sekarang kita berada pada era dimana Matematika tiba-tiba berubah menjadi hal yang sungguh mencurigakan.

Saking mencurigakannya, kita perlu mendapatkan penjelasan dari mereka para jago matematika yang di hadapan penduduk Indonesia mengatakan; setiap tahun ada 51.000 orang meninggal lantaran narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba).

Dan tak kalah menggetarkannya lagi sampai dada sesak dan nalar kita yang payah matematika seperti tak henti-hentinya dibully adalah, pengumuman yang sering diumbar dan dikutip-kutip seolah itu merupakan kebenaran yang turun dari langit dengan keimanan yang mengatakan bahwa; setiap hari ada 50 nyawa generasi muda melayang sia-sia gara-gara narkoba.

Sehingga jangankan Kejagung dan Kepala BNN, Presiden RI Jokowi pun ikut-ikutan mengumbar sabda dari kengerian yang betapa mengundang curiga itu.

Lalu pernahkah kita mendapat penjelasan bagaimana angka itu didapat? Tidakkah pula kita menaruh curiga kalau angka-angka yang didapat itu diperoleh hanya dengan cara memetiknya di sembarang tempat? Seperti ketika kita begitu mudah memetik daun berulat di halaman sekolah jaman SD dulu lalu menakut-nakutinya kepada teman sebaya putri yang lari terbirit-birit sembari menjerit?

Semoga tidak demikian. Sejak di bangku SD, Guru Agama telah mengajarkan kepada kita agar tak boleh berprasangka buruk. Maka tanpa suudzon, kita anggap saja bahwa angka-angka yang diperoleh itu adalah hasil perbuatan para jago matematika negeri ini yang mereka dapat tak hanya dengan mengkhayal. Soal rumus apa yang dipakai, merekalah yang paling tahu.

Tapi sepayah-payahnya kita dengan matematika—meski tidak demikian kalau dalam urusan bertransaksi—sepertinya harus nekat bertanya; apakah angka itu diperoleh dengan cara membagi jumlah penduduk republik ini dengan angka para pengguna narkoba? Dan hasil yang didapat dari pembagian itu adalah populasi yang membuat kita mudah mengidentifikasi setiap orang yang berpulang ke alam baka gara-gara narkoba? Coba cocokkan dengan populasi tempat kita masing-masing berada dan mulailah menghitung? Begitukah?

Tanpa berburuk sangka sembari tetap berjabat-tangan dengan kelompok anti-narkoba, kita juga punya pertanyaan begini; apakah ada pengklasifikasian jenis narkoba terkait kematian yang disebabkan barang berbahaya itu? Sebab bukankah absurd dan merupakan generalisasi yang semena-mena jika pengklasifikasian yang menyebabkan kemampusan itu tidak ada?

Ah, mulai rumit dan mencurigakan bukan?

Baiklah kalau begitu. Sebaiknya mungkin begini, kepada siapapun pembaca yang jago matematika, boleh mengirimkan penjelasannya via email di uwinmokodongan@gmail.com

Tentu akan sangat menyenangkan jika kita dapat menikmatinya secara bersama-sama di Leput. Sehingga Matematika tak hanya sekedar permainan kepintaran di dalam kelas belaka, apalagi momok mengerikan yang telah merampas kenyamanan anak-anak sekolah (terutama bagi yang merasa ganteng dan yang merasa cantik), dan tidak dijadikannya Matematika sebagai alat untuk menakut-nakuti yang alangkah mencurigakannya. Sehingga sepayah-payahnya nalar kita menerima Matematika, tidak se-enteng itu untuk terus diteror apalagi digoblok-gobloki.

Kamis, 12 Maret 2015

Dokter Wirno dan Hujan Malam Itu



Leput Institut mendapat kiriman Cerpen. Penulisnya adalah pembaca Leput. Sepertinya bisa kita nikmati.

Dokter Wirno dan Hujan Malam Itu

KOTA kecil itu sedang diguyur hujan. Terkadang diselingi angin kencang. Di ruang instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit di kota kecil itu, nampak Dokter Wirno ditemani tiga orang perawat. Mereka bertugas jaga malam. 

Dokter Wirno belum lama bertugas di rumah sakit milik pemerintah kota. Istrinya baru saja pulang sesudah mengantarkan 4 bungkus bubur ayam dan gorengan untuk makan malam suaminya dan 3 orang perawat yang ikut berjaga. Itu memang sering dilakukan istrinya setiap jadwal jaga malam suaminya tiba.

Saat itu belum ada pasien masuk. Jadi mereka lebih banyak duduk berbincang. Nanti pada pukul sepuluh malam, seorang pria dewasa masuk membawa pasien seumuran anak SMA. Erang kesakitan terdengar memecah ruangan.

Dokter Wirno dan tiga perawat lansung bertindak. Pasien diketahui bernama Budi, berumur 18 tahun. Ia mengalami luka sobek di kaki dan wajahnya. Pasien mengaku baru saja mengalami kecelakaan.

Luka itu sepertinya perlu dijahit. Tatkala dokter Wirno hendak melakukan penanganan medis, handphone di saku kemeja putihnya berdering. Mulanya ia tak mempedulikan. Tapi setelah berkali-kali berdering, ia permisi sebentar lalu berjalan ke sudut ruangan hendak menerima panggilan telefon itu. Tiga perawat meneruskan tugas sang dokter.

Sejurus kemudian masuk sekelompok orang yang mengaku keluarga si pasien. Saat mereka datang, Dokter Wirno masih terlibat percakapan di telefon. Wajahnya nampak tegang.

Keluarga pasien yang baru tiba ini membentak tiga orang perawat di situ. Dokter Wirno pun tak luput dari cercaan. Wajahnya kini nampak pucat. Keluarga pasien cepat naik pitam tatkala mendapati dokter Wirno sedang bercakap-cakap di telefon padahal ada pasien yang sedan mengerang kesakitan dan butuh penanganan.

Tangan Dokter Wirno lalu gemetar memasukkan kembali handphone ke saku seragam putih-putihnya. Ia lalu buru-buru mendekati pasien.

Merasa bersalah, ia kembali bertugas melakukan penanganan medis. Tak ayal, ketika sedang menjahit luka pasien, bentak dan caci terus menggema ke telinganya. Namun dengan sabar Dokter Wirno terus bekerja menjalankan tugasnya meski dibawah tekanan keluarga pasien. Dia baru tahu kalau pasien yang tengah mendapat pelayanan medis ini adalah keluarga pejabat yang sedang berkuasa di kota itu. Mereka terus mengumbar-umbar hal itu ke telinga Dokter Wirno dan perawat yang ada di situ, seolah rumah sakit itu adalah milik keluarga si pasien.

Dengan sabar, Dokter Wirno terus menjalankan tugasnya. Matanya nampak berkaca-kaca. Ia lantas tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba menetes. Tangannya gemetar. Perawat merasa heran sekaligus kasihan.

Sejurus kemudian, 3 orang petugas kepolisian masuk. Ketika itu Dokter Wirno sedang menjahit luka dibagian wajah pasien.

“Pasien dari mana ini?” Tanya seorang polisi. “Apakah pasien ini bernama Budi?” timpal petugas yang lainnya.

Terjadi ketegangan antara pihak kepolisian dengan keluarga pasien hingga berbuntut keributan. Perawat kebingungan sedangkan Dokter Wirno meminta agar keributan itu dihentikan supaya ia bisa menyelesaikan tugasnya dalam melakukan penanganan medis kepada si pasien.

Usai pasien dijahit, petugas kepolisian meminta agar si pasien dibawa ke kantor polisi karena akan menjalani pemeriksaan. Hal ini membuat keluarga pasien protes.

“Di mana nurani kalian? Tidakkah kalian lihat apa yang sedang dialami pasien ini?” kata keluarga pasien.

“Ada apa ini sebenarnya? Ada apa? Kenapa dia mau dibawa ke kantor polisi? Kasihan dia masih anak-anak” timpal anggota keluarga yang lain.

Polisi beralasan, luka si pasien tak sebegitu parah. Ia bisa dimintai keterangan di kantor polisi. Tapi keluarga pasien terus-terusan protes. Polisi lantas menjelaskan, kalau pasien adalah pelaku tabrak lari yang berbuntut tewasnya seorang perempuan. Dikatakan kalau pasien mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan.

Saling bantah terus terjadi. Perawat bingung. Dokter Wirno melangkah ke sudut ruangan. Di tepi jendela tangisnya meledak. Perawat yang kebingungan mendekat. Tapi mereka cemas menanyakan ada apa gerangan.

Ruang instalasi gawat darurat semakin gaduh. Bunyi sirene sebuah kendaraan polisi terdengar memasuki halaman rumah sakit. Tangis Dokter Wirno kian meledak. Perawat masih kebingungan apa yang terjadi. Di kisi-kisi jendela instalasi gawat darurat rumah sakit itu, hujan terasa seperti jutaan jarum yang jatuh melukai tubuh Dokter Wirno.

“Dok, kenapa Dok,” perawat menghampiri dokter Wirno yang tak bisa meredam tangisnya di tepi jendela.

“Dok, kenapa Dok,” Tanya perawat lagi.

Tak ada jawaban. Isak tangis yang menggelepar di tepi jendela itu adalah kesunyian purba yang membenamkan seluruh kisah.

“Dok, ada apa Dok?”

Mereka baru tahu, yang menelefon Dokter Wirno ketika ia hendak melakukan penanganan medis pada pasien tadi, adalah tetangga barunya. Memberitahukan bahwa istrinya tertabrak seorang pemuda yang ugal-ugalan mengendarai mobil.

TAMAT



Senin, 09 Maret 2015

Wakil Rakyat, Netizen, dan Teori Konspirasi Dibalik Kedahsyatan Akto


Ardiansyah Imban, wakil rakyat asal Bolaang Mongondow Raya yang berhasil memperoleh kursi di DPRD Sulut karena banyaknya dukungan rakyat (sebagian mungkin dari keluarga Akper), urung menjaga mulutnya hingga tanpa malu mencaci-maki anak-anak Akper Totabuan (Akto) di akun fesbuk miliknya, dengan umpatan; menjijikan!!

Para aktivis dunia maya (netizen), baik yang moderat hingga yang radikal, boleh ikut memperkeruh suasana meski hanya bersandar pada miskinnya data. Begitupun para jamaah bebekiyah (pengguna BlackBerry Messenger/BBM), boleh bebas bikin Display Picture dari meme-meme sarkastik dan diparipurnakan dengan status-status pedas yang silih berganti di recent update.

Dan kita para penikmat segala keributan yang mulai mereda seiring dekatnya pelaksanaan eksekusi mati kelompok Bali Nine, sadarkah bahwa ada semacam teori konspirasi yang sebenarnya bermain dibalik semua itu?

Maka simaklah duga-duga yang betapa bebas dan merdeka dianggap sebagai kinta illumoai kon kanalpot gilingan payoi.

Sebelum lanjut membaca, sekedar saran, setel lebih dahulu tembang berjudul Kesepian Kita yang dibawakan Tere feat PAS BAND.

Baik, kita mulai lagi dari Ardiansyah Imban.

Kenapa harus Anggota DPR? Kita tahu bersama bahwa umumnya Anggota DPR sedapat mungkin menghindari konfrontasi tunggi personal versus tunggi publik. Apalagi bentuknya adalah memaki rakyat pemilihnya sendiri dalam konteks perkara yang belum jelas. (Tunggi = bibir. bhs.Mongondow).

Sungguh TERLALU ketika yang dicaci-maki adalah konstituen di daerah pemilihan tempat Imban meraup suara signifikan hingga bisa memperoleh kursi di DPRD Sulut dan menjadikannya sebagai Wakil Rakyat.

Mencaci-maki konstituen, adalah tindakan blunder—kalau tidak disebut bunuh diri politik. Inilah yang dilakukan Imban, hingga menimbulkan teori konspirasi; mengapa ia nekat—kalau tidak dikata tolol—melakukan bunuh diri politik? Apakah karena pemilu masih lama? Atau karena ia sekedar cari sensasi karena sudah kehilangan pamor? Atau dari ke 40 rombongan anak Akto yang nonton Dahsyat, salah seorang diantara mereka baru saja memutuskan cinta sang anggota dewan. Atau motif yang melatar-belakangi muncratnya makian itu karena; cinta ditolak, akun fesbuk bertindak. Sehingga hasilnya adalah kekerasan verbal dalam bentuk umpatan; menjijikan! sebagaimana yang ia tulis di akun fesbuk miliknya untuk anak-anak Akto. Lalu siapa juga mengira, Imban kalah bersaing dengan cowok-cowok andalan kampus Akto, sehingga tak heran terjadi generalisir masalah, dan mengumpat anak-anak Akto di fesbuk adalah tindakan yang dianggap wajar. Terlebih itu menyangkut harga diri Mongondow. (helloooooo…???).

Selanjutnya, apa hubungan Ardiansyah Imban dengan Akto dalam sudut kepemilikan lembaga? Sebab kita tahu bersama bahwa, konon pemilik Akto adalah orang yang satu partai dengan Imban? Maka, adakah permusuhan diantara keduanya? Eitss… tak perlu suudzon. Kita hanya bisa menduga-duga saja. Namun pertanyaan-pertanyaan itulah yang sepertinya melahirkan teori konspirasi terkait pembully-an terhadap anak-anak Akto.

Netizen

Kalangan netizen di sini dapat kita bagi dalam beberapa kelompok kategori diantaranya adalah; Pertama, kategori mamak-mamak megapiksel (istilah buatan remaja di Mongondow yang merujuk pada ibu-ibu berisik dan tukang gosip tak hanya di lingkungan tetangga melainkan di fesbuk).

Bagi yang jam terbang pergaulannya menyentuh hingga ke kisi-kisi paling karlota (tukang gosip,red) di lingkungan dedew-dedew (istilah di Mongondow yang merujuk pada remaja putri) dan mamak-mamak megapiksel, maka tak jarang kita menemukan pertengkaran—kadang berbuntut perkelahian—antara mamak-mamak megapiksel dan dedew-dedew gaul. Semua bermula dari (sebagaimana) kata pepatah; ‘mulutmu harimaumu’ hingga berujung pada baku cigi rambu (saling jambak) dan tak sedikit bermuara di meja hijau.

Maka tahulah kita, antara mamak-mamak megapiksel dan dedew-dedew gaul ini sudah tertanam dendam purba sehingga adalah keniscayaan ketika mamak-mamak megapiksel ini betapa berisiknya membully dedew-dedew Akto. Tentu tanpa perlu melihat pokok persoalan sebenarnya. Pendek kata, terbuka sedikit celah, maka hajar, bully!

Selanjutnya yang Kedua,adalah pemuda-pemuda jomblo. Kategori ini akan dengan sangat mudah—dan tentunya akan sangat jahat—membully dedew-dedew di Akto, karena ada sejarah pahit berupa cinta yang tertolak. (Ekhuhu..)

Maka jangan harap mereka akan bersikap netral sekalipun dedew-dedew di Akto tak bersalah ketika tampil dalam acara Dahsyat di RCTI. Sekedar mendapat info burung saja kalau dedew-dedew di Akto tengah mengalami persoalan pelik, para pemuda jomblo yang cintanya ditolak ini tentu akan dengan mudah mendesahkan kalimat; syukurlah kalau begitu. Atau dengan pilihan yang brutal ; Mati jo!

Maka, tak usah kaget ketika kelompok kategori ini akan sangat gesit dan sengit membully dedew-dedew di Akto yang pernah menolak–apalagi mentah-mentah—cinta mereka.

Jadi, beruntai hujatan di akun fesbuk, tak usah ditaruh heran jika memberondong seperti peluru yang keluar dari moncong Kalasnikov dari tangan para pejuang ISIS. Tak usah juga merugi waktu dan membuang-buang umur dengan memberi pencerahan pada mereka soal duduk perkara yang sebenarnya, sebab sama seperti mamak-mamak megapiksel, terbuka sedikit celah, pemuda-pemuda jomblo radikal yang menjadikan akun fesbuk sebagai Kalasnikov, tanpa tedeng aling-aling memberondongkan semua itu ke dedew-dedew di Akto, dengan cara memposting status-status kejam yang mengesampingkan perasaan iba.

Ketiga, adalah Mantan Pacar. Konsep jadul CBSA (Cinta Lama Bersemi Kembali) yang tertolak, membuat para mantan pacar yang mencoba balikkan—namun gagal—menjadikan kelompok kategori ini hampir sama brutal dengan kategori pemuda jomblo. Kelakuan mereka hanya beda-beda tipis; dapat celah, sikat! Mereka yang darah tinggi juga tak peduli pokok persoalannya seperti apa, sebab yang utama adalah rasa sakit hati terbalaskan dengan cara memaki para dedew-dedew Akto di fesbuk karena sadar betul para dedew ini kemungkinan besar telah mengunci pintu hati rapat-rapat untuk mereka yang melancarkan modus CBSA. Maka tak heran jika motto para mantan pacar ini adalah; fesbukku senjataku!

Yang keempat adalah Hiding Marketing. Nah, ini yang paling mutakhir dan sarat kepentingan bisnis. Siapa mengira, keberangkatan mahasiswa Akto di Jakarta—bahkan sempat-sempatnya tampil di acara tak bermutu macam Dahsyat—, merupakan grand design kelompok hiding marketing (pemasaran terselubung) yang tujuannya adalah, melambungkan nama Akademi Keperawatan Totabuan kepada khalayak ramai khususnya di Mongondow. Sekalipun itu dilakukan dengan cara tak lazim dan teknik-teknik marketing terselubung lainnya.

Jadi jangan pikir bahwa keberangkatan ke Jakarta itu hanya ajang jalan-jalan tak bermutu, sebab dibalik urusan itu tersimpan tujuan besar. Hal ini pulalah yang melahirkan teori konspirasi bahwa, hiding marketing berada dibalik keributan yang dimulai dalam tayangan Dahsyat.

Nah,apakah kita inilah kakap yang termakan umpan hiding marketing di belakang Akto?

Sebelum dan sesudahnya, mari kita sudahi segala omong-kosong tentang Akto ini, dan hiburlah diri dengan menyimak keributan antara Ahok dan Haji Lulung. Siapa tahu ini lebih bermutu. *roftl*

Tulisan sebelumnya :

1.  Dahsyatnya Nova Soputan: Dihujat Gara-Gara Hanya Menyebut dari Akper Totabuan (Tanpa Mongondow)

2. Sekali Lagi, Soal Nova Soputan dan Netizen Reaksioner Berisik

3. Sesat Pikir Netizen Reaksioner Berisik di Mongondow