Senin, 02 Desember 2013

Punggawa Polemik dan Tulisan Kosong Ini

Polemik itu penting. Setidaknya begitu pandangan pribadi saya. Selain menambah pengetahuan, polemik juga bisa menjadi khasanah hiburan dan permainan.

Sebagai sebuah hiburan dan permainan, polemik sebenarnya menghadirkan pula rasa lelah akibat  riah-riuh yang lahir dari polemik itu sendiri.

Segala sesuatu bisa menjadi polemik. Di Mongondow, kue sekelas binarundak pun bisa menjadi bahan polemik.  Jangankan itu, orang salah sebut istilah pun bisa menjadi santapan untuk dipolemikkan.  Jadi jangan heran, jika di Mongondow orang bisa menemukan hal-hal sederhana menjadi bahan polemik atau di-polemik-kan.

Tapi, polemik sebagai sebuah “hiburan” dan “permainan”, setidaknya sedapat mungkin berasal dari bahan yang memiliki bobot untuk di-polemik-kan. Sebab polemik yang bermutu, akan memberi asupan pengetahuan bermutu bagi para penggila polemik. 

Jika polemik  adalah sebuah permainan bola kaki , maka setidaknya pertandingan itu adalah pertandingan berkelas, seperti pertandingan bola kaki Liga Itali atau Liga Champion. Sehingga usai menonton pertandingan, para polemik mania bisa pulang dengan kepala dan hati yang padat berisi. Bukan kelelahan dari penonton yang menundukkan kepala karena pening, mual-mual, dan susah tidur.

Di Mongondow, saya melihat polemik yang mencuat terkadang tidak bermutu untuk dijadikan bahan polemik.  Namun, karena (mungkin) hanya itu yang bisa dijadikan bahan polemik (anehnya penonton pun suka) maka polemik sekelas binarundak pun bisa lahir. Jadi  jangan heran jika penontonnya adalah orang yang itu-itu saja, bolak-balik disitu. 

Polemik yang memiliki bobot alias bermutu, harus melibatkan para polemik mania  yang memahami duduk soal apa yang di-polemik-kan.  Ini sebagaimana yang dikatakan Wibisono Sastrowardoyo, seorang budayawan muda. Ia menulis, sebaik-baiknya polemik adalah yang tetap menjaga kesantunan bahasa. Penggunaan bahasa yang kasar membuat penonton tidak enjoy dan bahkan dengan mudah mengubah penonton menjadi pemain. Kalau penonton sudah menjadi pemain maka dijamin polemik akan menjadi chaos.

Sekarang, bagaimana polemik itu hadir? Kita tidak sedang membicarakan polemik lewat media Surat Kabar atau Koran. Sekarang kita berbicara polemik yang lahir dari dunia internet sebab internet adalah media paling enteng, cepat dan aman untuk mengakomodasi polemik.

Di Mongondow, tumbangnya usaha Warnet, masih bisa digantikan ketersediaan jaringan WiFi yang dijadikan sebagai fasilitas pelengkap para pemilik Rumah Kopi.  Orang bisa dengan mudah menciptakan polemik dari situ sambil duduk minum kopi berjam-jam. Para polemik mania-pun bisa lama berleha-leha disitu sembari menikmati polemik dari smartphone atau gadget yang dimiliki.

Lalu siapa punggawa di Mongondow yang paling produktif melahirkan polemik? Ya, dialah Katamsi Ginano lewat blog pribadinya, Kronik Mongondow.  Hampir setiap apa yang di posting Katamsi disitu, senantiasa menjadi bahan polemik yang terhidang kemudian ditarik penonton tembus ke meja jejaring sosial, menjadi menu santap para polemik mania di facebook

Namun tak hanya sederet artikel Katamsi Ginano dalam blog pribadinya yang melahirkan polemik. Berita maupun artikel di Surat Kabar terbitan Sulut maupun Bolmong, sering pula dijadikan bahan polemik oleh Katamsi Ginano yang diracik sedemikian pedas bahkan brutal dan tanpa ampun. Tak heranlah orang Mongondow percaya; punggawa polemik di Mongondow saat ini adalah Katamsi Ginano.  Ada yang mau membantah??

Jika melihat bahan yang menjadi tulisan Katamsi Ginano hingga berujung menjadi polemik, sebenarnya berasal dari hal sederhana dan biasa-biasa saja.  Jika ditelisik lebih dalam (ini pendapat pribadi), kita bisa memastikan bahwa (kecuali tulisan soal Dumoga) hampir tak ada gagasan baru dan hal-hal padat berisi dalam polemik yang hadir dari tulisan itu. Bahannya memang biasa-biasa saja.

Namun bukan berarti tulisan Katamsi Ginano tidak menarik untuk dibaca. Justru disitulah kita menemukan daya pikat sekaligus kekuatan Katamsi Ginano dalam meramu dan memainkan bahan sederhana menjadi sesuatu yang Waw.

Di ujung jari Katamsi, koran bekas yang jadi pembungkus kacang, sekantong plastik bekas pembungkus Onde-onde yang sudah dilempar orang ke tong sampah, atau selembar layang-layang yang terselip di tiang listrik dan luput dari perhatian anak-anak, bisa menjadi Waw ketika diramu Katamsi Ginano menjadi tulisan yang enak di baca lalu menjadi polemik. Maka tak usah heran pula kita ketika beberapa waktu lalu, ujian kesarjanaan seorang politisi muda di Mongondow yang di tulis Katamsi Ginano (entah lewat sumber mana) pernah menjadi bahan polemik "panas" hingga seorang Lendi Mokodompit pun sempat menjadi  “penulis” lewat artikel yang dimuat Harian Komentar dan Radar Totabuan kemudian dimamah-biak para polemik mania seantero Mongondow.

Polemik terbaru di Mongondow saat ini adalah soal demonstrasi HMI Bolmong Raya beberapa waktu lalu. Tulisan Katamsi Ginano dalam Blog pribadinya terkait aksi tersebut, seperti sebuah pemantik yang jatuh di tumpukan ilalang kering.  HMI  meradang, terbakar, lalu bersusulanlah  tulisan jujut-menjujut sebagai bentuk balasan hingga  menjadi polemik terkini. Tapi sayang seribu sayang, irama polemik yang lahir dari dua kubu yang saling berpolemik, cukup melelahkan untuk sekedar diikuti.

Bagi saya pribadi, tulisan biasanya lahir  menjadi polemik ketika mengandung nilai yang dibelokkan atau bermakna kontroversi lalu ada tanggap-menanggapi. Tulisan sekelas picisan-pun bisa lahir menjadi polemik ketika didalamnya melahirkan kontroversi kemudian ada tanggapan dari para pelaku polemik. Namun, tulisan sehebat apapun dan se-kontroversi apapun itu, tak bakal melahirkan polemik ketika tak ada tanggap-menanggapi.  Jadi kita sudah tahu, kenapa sebuah tulisan bisa lahir menjadi polemik baik di media massa (surat kabar) maupun internet.

Untuk kasus HMI Bolmong Raya, ketika orang tahu dan menganggap apa yang di tulis Katamsi Ginano dalam Blog pribadinya terkait demonstrasi  HMI adalah (taruhlah) omong kosong belaka, maka kenapa harus ditanggapi? Menanggapi tulisan berisi omong-kosong, terlebih dengan tensi yang meledak-ledak lengkap dengan caci-maki bahkan hunusan pisau dan gertakan penggal-memenggal kepala sekalipun, seperti sebuah bentuk pembantahan yang mengatakan bahwa apa yang ditulis sebenarnya bukan omong-kosong belaka. 

Polemik yang memuat bahasa barbar, seperti yang disampaikan Wibisono Sastrowardoyo, cenderung membuat penyimak polemik ikut menyeret diri mereka  “masuk” menjadi “pemain”  ke dalam bahan polemik hingga bisa berujung chaos.  Sangat disayangkan jika polemik yang lahir bukan mengasah intelektualitas para pelaku dan  penikmat polemik menjadi tajam dan berlapang dada, tapi malah menumpulkan bahkan terburuk lagi menyesatkan dan yang paling kekanak-kanakan adalah ketika polemik memungkinkan terciptanya ring tinju.

Jadi, sekedar sebagai selembar kulit jagung kering terhalus ketika kertas untuk melinting tembakau tak ada lagi, saya ingin menyampaikan;  tak perlu tanggapi jika tulisan yang  di unggah atau dimuat dimana saja itu, adalah pepesan kosong belaka.  Atau bersiaplah untuk mual-mual, pening, susah tidur, mungkin berujung ke kantor polisi akibat chaos, pun silahkan pula merugi waktu kemudian lelah tak dapat apa-apa ketika menjadi pemain, penonton atau penikmat polemik-polemik omong kosong se-kosong tulisan ini.

Sabtu, 30 November 2013

Pah!! Mimpi..

Lima bulan lamanya blog ini terlantar. Ibarat kertas; usang berdebu. Ibarat bini;  lama di tinggal laki hingga meronta-ronta hasrat, mengiseng minta dibelai karena jablay.

Ada beberapa teman  bertanya:  kenapa tidak menulis lagi? Jawaban yang seringkali saya beri (ini fakta) adalah:  

"Perkakas untuk mengetik sudah tak ada. Smartphone juga lenyap. Di kampung tak ada jaringan internet. Coba kasih saya perkakas, tato yang melingkar di tubuhmu itu pasti kutulis pula"

Lalu bagaimana hingga tulisan ini bisa ada?

Bersahabat dengan para kuli tinta memang memungkinkan banyak hal menjadi lebih enteng. Saya masih mempercayai ini. Salah satu bukti,  tulisan terbaru ini berhasil di posting.

Tapi sepertinya ada masalah. Setelah  perkakas (sebut saja begitu) untuk mengetik tersedia seperti hidangan makan malam siap santap ada di hadapan, saya malah kehilangan ide, entah mau menulis apa. Jadinya, saya ibarat seorang muslim kelaparan yang di meja makan cuma tersaji babi panggang lezat siap santap.

Tapi beruntung saya adalah "muslim KTP" yang tidak begitu mempersoalkan menu makan apa saja yang boleh dan tidak boleh dibabat tersebab hukum halal haram.

Maka, mari menulis!

Setelah memutar otak beberapa saat sembari memagut filter rokok pemberian sahabat, saya memutuskan untuk memulai tulisan ini dengan mengutip penggalan semacam narasi dari pembukaan sebuah mimpi ketika tepar sepulang dari perjamuan cap tikus beberapa malam lalu di kampung.

..........................
di laut ada cinta
tapi ada air mata
kuyup kering..

Demikian sayup suara itu terdengar, seperti sebuah narasi saat mimpi sedang bermula.

Adegan selanjutnya menggambarkan suasana tepi pantai malam hari. Ada sebuah sampan teronggok di atas pasir dan suara ombak menggemuruh lalu pecah berbusa di bibir pantai.

Narasi kembali terdengar. Saya berdiri dekat sampan. Suasana kala itu gelap. Sejurus berlalu, saya menangkap bayang sesosok tubuh laki-laki yang mendekat ke sampan dimana saya berdiri lalu mendorongnya masuk laut. Ia tidak berbicara. Jangankan itu, peduli akan kehadiran saya-pun tidak.

Ombak pecah dihaluan sampan yang terus di dorong laki-laki pongah ini ke laut. Ia melompat naik kedalam sampan lalu mengayuhnya hingga jauh ke laut, kemudian lenyaplah ia di telan hitam malam.

Adegan berikutnya  adalah ketika sekonyong-konyong saya melihat beberapa bocah dan sekumpulan orang-orang berpakaian PNS (Pegawai Negeri Sipil) menari-nari sambil menyanyikan lagu Balonku Ada Lima. Mereka menari serius. Suasana lantas makin riuh ketika terdengar suara Puka Puka Hensap..Puka Puka hensap..!!  Tak berapa lama kemudian, kumpulan bocah dan PNS ini melompat-lompat tak menentu hingga satu diantara mereka mencair. Ya, mencair. Saya melihat tubuh salah seorang PNS yang tengah ber-hensap-hensap itu tiba-tiba mencair lalu menelusuri bagian terendah sesuai hukum zat cair, kemudian entah.

Beberapa saat kemudian, muncul sesosok bayang mansusia berkerudung menyuluh malam gelap tepi pantai kala itu. Sosok itu datang dari arah timur. Muncul dari balik pohon ketapang, beberapa meter dari hutan bakau terakhir. Kerudung dibuka, tangan sebelah kiri mengangkat suluh lebih tinggi. Malam jadi berpendar cahya. Kemudian aneh tatkala wajah Jacques Derrida adalah wajah yang mucul dari balik  kerudung tadi. Mulutnya lantas komat-kamit mengeja bahasa yang entah bahasa apa. Saya tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Tapi karena saya sedang berada dalam mimpi, entah bagaimana memori memerintahkan dan memberi informasi bahwa sosok ini memang ada dan banyak orang mengenalnya, kecuali saya. Ini adalah kesadaran "sepihak" yang hanya lahir dalam mimpi saya ketika itu. Di dunia nyata, saya sama sekali tidak mengenal dia.

Lalu  wajah Derrida dengan mulut yang tengah komat-kamit lambat laun  berubah menjadi wajah seorang bekas menteri di rezim Soeharto. Tapi berubah lagi menjadi wajah pahlawan nasional yang kita kenal sebagai Sultan Hasanudin. Tak lama kemudian wajah ini berganti menjadi wajah seorang penjual daging yang pernah saya temui di Pasar Serasi Kotamobagu. Yang teraneh adalah ketika wajah ini berubah menjadi wajah seorang tukang tifar saguer di Desa Poopo yang ketika ia turun dan menawarkan segelas saguer, berubah lagi menjadi wajah salah seorang tetangga di kampung bernama Rahman. Ya, Rahman. Rahman Mokodompit.

Kira-kira 10 menit yang tak berarti dan tak dimengerti serta penuh omong kosong ini, adegan lantas secara cepat melompat ke suasana dimana saya (dengan begitu saja) sudah berada di depan layar bioskop yang bukan memberi gambar sebagaimana adegan-adegan di dalam film, melainkan tayangan Dunia Dalam Berita yang disiarkan stasiun TVRI. Aneh, bisik saya dalam mimpi yang sedang berlangsung, kok bisa-bisanya program berita andalan TVRI era jadul ini ditonton lewat bioskop.

Namun bukan itu pula yang membuat saya kaget. Melainkan saat menyadari, orang yang duduk di samping saya ketika menonton acara tersebut adalah  seorang tua berpakaian lengkap Pramuka yang mengaku sebagai salah seorang Nabi.  

"Perkenalkan, saya Nabi Nuh," katanya sembari memberi cubitan mata ke arah saya. Tangan kananya ia todongkan, tanda minta berkenalan. Kacu merah putih nampak tertambat rapi di lehernya.

Amboiii... (tepok jidat)  Nabi Nuh dengan seragam Pramuka??  Saat itu saya  saya baru saja menelonjorkan pantat di kursi bioskop.

Sembari menonton Dunia Dalam Berita di layar bioskop, saya sesekali mencuri pandang ke sosok yang mengaku nabi Nuh  ini. Ia tak memelihara jenggot rupanya. Potongan rambutnya rapi, tidak panjang seperti yang biasa digambarkan di buku dan komik-komik di perpustakaan sekolah.

Masih agak kaget dengan sosok yang mengaku Nabi Nuh, adegan lantas berganti ke suasana pematang sawah dimana petani yang sedang membajak sawah tidak lagi menggunakan bantuan kerbau, sapi, atau tracktor melainkan bison-bison Amerika yang alangkah anehnya sebab memakai sepatu merek Simbada.

Hanya semenit menyaksikan itu, adegan selanjutnya membawa saya berada di tengah-tengah orang yang tengah bernyanyi lagu Lady Gaga di kolong-kolong jembatan. Saat melihat ke arah barat dimana matahari hendak tenggelam, saya melihat sekonyong-konyong seluruh gedung terbalik, jembatan juga terbalik, tetapi mobil-mobil yang lalu lalang tidak jatuh. Kereta api yang tiba-tiba melaju entah datang dari arah mana, sontak berubah jadi Anaconda yang mulutnya melahap kurungan Ayam Sabung.

Azan subuh terdengar menggelegar dari corong Toa yang menggema tak peduli. Bersahut-sahutan dari kampung satu ke kampung lainya. Saya tahu itu bukan lolongan serigala saat purnama tiba sebagaimana yang sempat saya tonton dalam film-film Amerika. Rasa haus seperti dehidrasi yang meronta ditenggorokan membuat saya terbangun dari tidur. Sembari mencari tenaga untuk bangkit, saya meraba-raba sekitar memastikan bahwa saya tidak akan menyenggol perabotan atau apapun yang bisa menimbulkan bunyi termasuk barang-barang yang bisa jatuh lalu pecah seperti porselin kesayangan Ibu yang pernah berantakan tempo hari.

Usai memberi penyaluran pada rasa haus yang meronta, saya sadar baru terbangun dari mimpi. Layaknya sebuah mimpi, tak selamanya memiliki jalan cerita. Mimpi memang acak, setting-nya juga tak jelas. Meski memiliki kecepatan memori yang naujibillah.  

Pah! Mimpi.....

Senin, 24 Juni 2013

Catatan Dari Pendukung "Walikota" Matt Jabrik

Saya bukan pendukung pasangan TB-JADI. Bukan karena saya tercatat sebagai penduduk Bolmong Induk yang tak memiliki hak pilih dalam pesta politik Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Kotamobagu (Pilwako KK). Bahkan seandainyapun saya diberi kesempatan pindah kependudukan menjadi warga KK dan memiliki hak pilih, belum tentu saya mau menjadi pendukung pasangan TB-JADI, apalagi mencoblosnya ketika berada di bilik TPS.

Hal ini jauh berbeda dengan kakak perempuan saya (juga rata-rata sanak-keluarga di KK) yang begitu mengidolakan pasangan berjuluk Kota Untuk Semua.

Kegigihan Kakak perempuan saya dalam mendukung pasangan TB-JADI memang tak secuilpun menganggu jalan nafas saya. Jangankan itu, celotehnya yang nyaringpun tak sanggup mengusik. Tapi saya punya pendapat bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah "kegilaan" teraneh, lagi pula "lucu". Kenapa demikian? Alasanya adalah (sama seperti saya) ia tercatat bukan sebagai warga KK yang otomatis tak memiliki hak pilih. Ia juga bukan anggota atau pengurus partai pengusung pasangan TB-JADI, tak tercatat pula (setahu saya) sebagai tim sukses serta anak pinaknya secara resmi dengan mengantongi Surat keputusan (SK), bukan pula penyandang dana yang siap menjadi penyokong, sebab yang saya tahu ia hanyalah sosok orang kantoran asal Mongondow yang bekerja  di Manado dan tergila-gila mengidolakan Tatong Bara, yang senantiasa memanfaatkan akhir pekannya di Kota Kotamobagu, lalu ikut nimbrung berbaur bersama teman-teman tim sukses TB-JADI, entah sekedar bakarlota atau apa, yang pasti bukan perancang strategi dan tak-tik pemenangan sebagaimana orang yang telah digaji untuk tugas-tugas yang demikian itu.

Tapi jangan tanya kalau soal dukung mendukung di media sosial pun di dunia BBM (BlackBerry Messanger) dengan Personal Messages yang tak hanya menggigit namun juga bikin kubu kandidat dengan rivalitas yang tinggi bukan cuma kena cubit tapi juga tamparan yang paka-paka dobol. Atau kecerewetan dimanapun berada; di pasar, kantin, warung, teras rumah, salon, atau di tempat-tempat dimana orang berkumpul termasuk di pesta resepsi pernikahan hingga khitanan, mulutnya yang cerewet, dengan nada nyaring, dan ceplas-ceplos, alangkah menggelegar mengumandangkan hal-hal menyangkut Tatong Bara - Jainudin Damopolii (TB-JADI). Mulutnya bak megaphone yang tengah dipegang aktivis saat turun demo. Mirip pula corong Toa di pasar senggol tatkala lebaran tiba, pun bak petir yang enteng mematahkan dahan pohon beringin.

Teguran dari bos tersebab absen yang bolong gara-gara memaksakan diri ikut kampanye TB-JADI bukan sekali dua diterimannya. Toh,ia tetap nekat.

Tetapi, baiklah. Kita tinggalkan itu dan mari melihat kenyataan yang kini terpampang dihadapan warga KK dimana siang tadi  24 Juni 2013, TB-JADI berhasil meraup suara terbanyak di Pilwako KK. Meski kenyataan ini belum diumumkan secara resmi melalui pleno KPU KK, kita nyaris tak sekedar tahu bersama namun juga yakin dan percaya bahwa perhitungan yang dilakukan versi kandidat dan telah terserak begitu cepat terutama di media jejaring, BBM dan situs berita online, adalah perhitungan yang tingkat keakuratanya lebih dari sekedar betul. Jika ada yang tak percaya maka, manjo bataru!

Kemenangan TB-JADI bukan berarti kemenangan yang tanpa gosip. Namun namanya gosip, kadang memusingkan untuk dibuktikan. Tapi ada satu keyakinan diantara kita yang tahu sama tahu dan yang hidup pada jaman dimana buang air kecil saja tak gratis, nekat bertanya; dari kantong siapa milyaran duit yang dibagi-bagi itu dirogoh? Adakah milyaran itu tak harus dikembalikan ke empunya? Ini milyar non, bukan gombyar :D

Amboy, cumak gosip rupanya. Dan karena itu gosip (taruhlah begitu) maka untuk menghindari hal yang nanti bikin mumet, saya masih tetap memilih untuk berani jujur mengatakan bahwa, saya bukan pendukung TB-JADI yang percaya bahwa dalam perhelatan Pilwako KK, terkhusus lagi di moment Malam Bakupas, Serangan Fajar atau apapun istilahnya, ada prinsip ekonomi klasik bicara disitu. Tabur tuai pasti ada. Yang menabung dan yang tanam saham juga pasti akan memetiknya nanti.

Saya bukan pendukung pasangan TB-JADI. Bukan pula penyorak. Saya orang luar pagar. Apa alasannya, akan membutuhkan ruang panjang untuk menjabarkan disini. Namun yang terpendek adalah; saya pendukung Matt Jabrik Calon Walikota Kotamobagu 2013 - 2018.

Akhirnya, kepada pasangan TB-JADI selaku kandidat yang sudah bisa dipastikan berhasil menggeser kursi Djelantik Mokodompit, semoga kalian tidak menjadi pasangan yang angkuh, sombong, dan belagak tak peduli pada rakyat Kota Kotamobagu. Tak mencontohi sisi buruk pendahulu. Tak melupakan siapapun mereka para pendukung yang telah bekerja meski dengan peluh yang hanya setetes. Saya yang bukan pendukung kalian, akan memantau (bukan berarti tumereng) kinerja kalian selaku Walikota dan Wakil Walikota Kota Kotamobagu sekalipun saya bukan warga KK, bukan Anggota DPRD, bukan LSM, bukan apa-apa, melainkan warga Bumi yang mengidolakan Matt Jabrik menjadi Walikota.

Lalu kepada kandidat yang kalah, tak perlu bicara sama Tenno Haika Banzai, apalagi membungkuk kepada matahari kemudian melakukan Harakiri. Percayalah, bumi memang masih sedang berputar.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 23 Juni 2013

Libido Malam Bakupas Pilwako KK

"Apapun yang terjadi malam ini, tetap saja besok rakyat Kotamobagu memilih. Atas keinginan mereka-lah pemimpin daerah itu terpilih. Dengan alasan apapun..:D"

Demikian Personal Messages yang saya baca dari sahabat saya Matt Jabrik (Ahmad Ishak) di kontak BlackBerry Messanger (BBM) tatkala tulisan ini sedang saya ketik memakai perangkat Blackberry.

Di Passi, jarinan internet telah terputus sejak 2011. Penyebabnya seringkali terjadi pencurian kabel jaringan di Batu Moloda (perbatasan Passi-Gogagoman) ditambah lagi perangkat komputer juga laptop yang tak tersedia lagi dirumah saya tersebab "lagi ada kase skolah" (di gadaikan) kata istilah anak-anak Mongondow saat ini. Hehe...

Petikan gitar dari Buyung Algafari Potabuga (Wartawan situs berita kontraonline.com) lewat lantunan lagu Koyow In Mogoguyang mengiringi penulisan saya pada kesempatan kali ini, tepat di dimana warga Kota Kotamobagu tengah larut dalam pesta "Malam Bakupas" Pilwako KK.

Ekhem...!

Benar kiranya sahabat saya Jabrik. Apapun yang terjadi malam ini, tetap saja besok rakyat Kotamobagu memilih. Atas keinginan mereka-lah pemimpin daerah itu terpilih. Dengan alasan apapun.

Mungkin yang dimaksudkan sahabat saya Jabrik,terkait perkara apapun yang terjadi malam ini, di Malam Bakupas Pilwako KK, semua berangkat dari keinginan mereka (warga KK yang tercatat sebagai pemilih dan tercantum di DPT) yang paling kuasa, paling berdaulat, atas pilihan yang telah mereka putuskan. Apapun alasan itu. Atau apapun pengaruh yang menyebabkan lahirnya alasan itu.
Dan atas alasan itu pulalah pemimpin daerah (Walikota-Wakil Walikota KK) terpilih.

Praktek politik uang yang kini tengah menggeliat di Malam Bakupas Pilwako KK, mari kita jujuri secara terang benderang dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa hal itu sudah bukan gosip lagi. Tahu sama tahulah pokoknya. Maka kita tak heran kalau Supermarket Abdi dan Paris Superstore tak seperti biasanya buka hingga pukul 10 malam. Sebuah pemandangan tak biasa memang. Satu pemandangan yang tak kalah menarik adalah, kawasan Katipol atau kawasan Petot (siapa tak kenal kawasan Katipol/Petot di KK) jika pada Malam Bakupas Pilkada Bolmong Induk tutup, maka kali ini, pada moment Malam Bakupas Pilwako KK, masih buka bahkan ketika tulisan ini sedang di ketik.

"Tidak gampang memang ini Pilwako KK". Demikian celetuk sopir-sopir bentor dan Ojek trayek Passi yang mangkal di pertigaan Bank BNI Gogagoman. Bahkan ada gosip yang menyemburkan berita dimana ada para pendukung militan salah satu kandidat yang mengancam akan membakar salah satu rumah (tentu di Kotamobagu) yang dianggap sebagai pangkalan dimana terparkir bergepok-gepok uang siap di distribusikan kepada para pemilih.

Pembaca, saat tulisan ini sedang di ketik, beruntai riak, gejolak, dan libido Malam Bakupas Pilwako KK tengah sange'-sange'nya bergeliat. Mungkin pukul 1 siang kita sudah tahu siapa peraup suara terbanyak. Perkara 300 ribu yang terdistribusi ditengah-tengah kegalauan warga yang tergoncang dalam menentukan pilihan dan naluri tim sukses beserta anak-pinaknya dalam mengoyak-ngoyak basis lawan, biarlah menjadi catatan tersendiri bersama mandulnya Panwaslu.



Powered by Telkomsel BlackBerry®









Catatan Kedua Berpulangnya Ayu Basalamah

"Semoga Ayu beristirahat dengan tenang dan arwahnya diterima disisi-NYA"

Pada kesempatan kali ini, di tengah gejolak Pilwako dan geliat "Malam Bakupas", kita harus senantiasa ingat bahwa di Kota Kotamobagu ada sebuah peristiwa tragis dimana seorang penata rias tewas terbunuh.

Ya, Ayu Basalamah. 17 Juni lalu ia ditemukan tewas terbunuh secara mengenaskan di salonya yang terletak di tengah-tengah kota, beberapa meter dari Bundaran Paris Kotamobagu.

Gejolak Pilwako begitupun manuver tim sukses para kandidat dan semua kaki tangan yang malam ini tengah menggeliat bak gurita, tak harus membuat kita lupa pada peristiwa pembunuhan itu.

Saat ini polisi memang tengah diperhadapkan dengan tugas pengamanan terkait Pilwako. Namun bukan berarti proses pengusutan terhadap peristiwa Ayu menjadi lamban.

Sekedar renungan bagi kita para pecinta kehidupan, anti penindasan, kekerasan dan kesewenang-wenangan, bahwa menolak lupa atas kasus yang menimpa Ayu adalah sebuah kesadaran bahwa hukum harus ditegakkan. Aparat berwenang harus serius menangani kasus ini dan kematian Ayu bukan sebuah kematian biasa yang tinggal sekedar menjadi gumaman tersepi dari balik batin kita yang sesak, atau cuma menjadi penutup kalimat pasrah dengan hiburan bahasa; memang so bagini stow depe jalang-jalang.

Kita sadar bahwa kematian Ayu meninggalkan berjuta pertanyaan bagi kita yang tahu bahwa dengan terseok-seok, telah hampir 3 bulan lamanya ia menantikan keadilan. Ia mengadu tak hanya ke Polres Bolmong namun Mabes Polri hingga ke Komnas HAM. Sayang, kepastian hukum yang dinanti-nantikanya tak urung tiba sampai akhirnya ia terbunuh. Siapa pelakunya, menjadi tugas kepolisian untuk mengungkap dan menyeret tersangka ke pengadilan.

Pembaca pasti tahu ada berderet gosip bernada spekulatif yang beredar ditelinga kita terkait tragedi terbunuhnya Ayu. Baiklah, pada kesempatan kali ini kita lempar jauh-jauh gosip tak jelas itu. Tak usah kita jadikan bahasan dengan asumsi, satu peristiwa bisa jadi tak terhubung sama sekali dengan sebuah peristiwa lain. Untuk perkara ini, sebagai warga negara yang sama-sama menghargai hukum bersamaan dengan adanya sebuah kesadaran akan hak-hak setiap orang dimata hukum, sama-sama kita seret diri kita jauh dari nuansa gosip dan spekulatif. Terlebih duga-duga yang nanti akan menjurus ke fitnah. Jadi untuk perkara gosip dan spekulatif, selesai sampai diparagraf ini.

Namun, soal pelaku penganiayaan terhadap Ayu tempo hari, kepada aparat hukum, kita sama-sama sepakat meminta dan menuntut agar perkara itu di usut tuntas hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. Seret semua pelaku penganiayaan dengan seadil-adilnya.

Selanjutnya bagi siapa saja pecandu film bertema detektif, gangster atau mafia, pasti ada sedikit catatan kecil dan amat sederhana sekali yang menyeruak di alam pikiran kita. Paling sedikit ada tiga catatan diantaranya adalah; Pertama, adakah Ayu merupakan sosok yang terlibat hutang piutang? Kedua, adakah sebuah peristiwa asmara yang bisa meletupkan api cemburu pihak lain yang membabi-buta? Ketiga, adakah bergepok-gepok uang tunai atau barang berharga tersimpan di dalam salon milik Ayu? Keempat, adakah Ayu mengetahui sesuatu yang sifatnya amat sangat rahasia yang dianggap akan membahayakan entah seseorang atau suatu kelompok?
Semoga tabir misteri ini cepat terungkap.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 18 Juni 2013

Catatan Pertama Berpulangnya Ayu Basalamah


Ketika perhatian warga Kota Kotamobagu sekonyong-konyong tersita pada agenda Pilwako yang iklimnya kian panas, ketika sebagian dari kita ditenggelamkan oleh suatu keadaan, pemandangan menggelikan, dan peristiwa2 yang membuat kita resah, pun muak tatkala praktek politik dalam pesta Pilwako KK sungguh tak mendidik karena cuma jadi ajang baku terek lewat perang posko, atribut, perang lagu, saling sindir saling terek dan poleke, tiba-tiba kita gempar oleh berita terbunuhnya Ayu Basalamah.

Ayu Basalamah (seperti yg telah pernah dituliskan), seorang penata rambut dan tukang rias pengantin sekaligus pemilik  Ayu Salon, Senin 17 Juni 2013 siang kemarin sekitar pukul 14:00 Wita, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di salon miliknya, tak  jauh dari Bundaran Paris Kotamobagu.

Berita terbunuhnya Ayu bukan sekedar kegemparan biasa dengan alasan yang biasa pula. Hal ini seperti mengingatkan kita pada suatu kejadian. Salah satunya adalah peristiwa demonstrasi tanggal 1 April 2013 lalu di Bundaran Paris.

Ketika itu para sahabat-sahabat Ayu dan mereka yang bersimpati terhadap sosoknya yang menjadi korban penganiayaan, menunjukan solidaritas lewat aksi demonstrasi .

Solidaritas itu bernama Forum Komunikasi Waria Kotamobagu (KWK). Mereka berdemonstrasi menuntut aparat kepolisian agar serius mengusut tuntas oknum-oknum pelaku penganiyaan terhadap Ayu yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Mari kita seret sejenak ingatan kita ke soal insiden chating Ayu dengan seorang sahabatnya di kontak BBM (BlackBerry Mesangger),terkait dukung-mendukung kontestan asal Boltim di acara Idola Cilik sebuah TV swasta. Buntut dari dukung-mendukung itu tak ayal membuat Ayu tergelincir dan membuatnya "berurusan" dengan Bupati Boltim Sehan Lanjar, tatkala isi chating BBM antara dirinya dan lawan chating-nya di-capture lalu secepat kilat terserak di Gadget menjadi santapan publik.

Ayu didatangi oknum-oknum yang lantas membawanya ke Boltim. Ia dipertemukan dengan Eyang (sapaan Sehan Lanjar, Bupati Boltim). Diketahui Eyang sendiri telah memaafkan Ayu dan tak mempersoalkan lebih dalam terkait caci maki yang dilontarkannya melalui chating BBM tersebut. Urusan Eyang dan Ayu cepat selesai di "forum" saling maaf-memaafkan antara keduanya.

Namun malangnya nasib, entah kenapa lagi, tubuh Ayu yang gemulai harus menerima penyerangan secara fisik oleh sejumlah oknum yang entah atas dasar dan perhitungan apa melakukan penganiayaan terhadapnya.

Sebelum dibawa pulang kembali ke Kotamobagu, Ayu dititip di Polsek Urban Kotabunan. Hasilnya, Ayu babak belur, dan foto dengan keadaan wajah yang lebam membiru, tayang di sejumlah media terbitan Sulut, pun demikian di media sosial.

Ayu tak terima atas kesewenang2an yang menimpanya. Bersama para sahabat se-profesi dan solidaritas Waria (Wanita pria) mereka melayangkan laporan percobaan penculikan dan penganiayaan ke Mapolres Bolmong, didahului dengan gelaran aksi di Bundaran Paris Kotamobagu. Mereka menuntut agar para pelaku penganiayaan ditangkap dan di proses seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.

Merasa penanganan pihak Polres Bolmong lamban, mereka melanjutkan laporan ke Polda Sulut. Setelah menanti dan tak jua membuahkan hasil, laporan dilanjutkan ke Mabes Polri lalu ke KOMNAS HAM di Jakarta.

Masih dalam posisi menunggu berlarut-larut dalam mengharapkan kepastian hukum dan keadilan yang pantas didapatkanya selaku warga negara yang memiliki hak yang sama di mata hukum, Senin 17 Juni 2013 sekitar pukul 14:00 Wita, Ayu telah terlebih dahulu ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan di Salon miliknya.

Kotamobagu sontak geger dan gempar tatkala wilayah ini sebentar lagi akan menggelar pesta demokrasi pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Kotamobagu.

Apa yang menimpa Ayu adalah gambaran yang menyesakkan. Setelah awalnya ia menderita akibat dianiaya oleh oknum-oknum yang telah dilaporkanya ke polisi, akhirnya ia tewas terbunuh entah oleh siapa.

Sebagian dari kita yang ngeri, resah, dan cemas dengan keadaan ini mungkin mengambil satu kesimpulan; Kotamobagu tak aman. Sekalipun bertepatan dengan adanya bala bantuan pengamanan berupa keberadaan ratusan aparat kepolisian yang dikerahkan dengan dana yang tak sedikit ke wilayah ini, dengan tujuan pengamanan sehubungan dengan adanya pesta demokrasi Pilwako KK.

Saat ini mungkin belum ada satu setanpun yang tahu siapa pelaku yang membuat Ayu terbunuh. Kita juga mesti hati-hati untuk tak berpikir serampangan apalagi berspekulasi menerka-nerka terkait motif dan latar belakang yang membuat ia terbunuh. Namun diantara kita yang mencoba mendalami seukuran pemikiran kita yang memang terbatas perihal terbunuhnya Ayu, tahu bahwa Ayu memiliki musuh. Soal siapa musuhnya, yang pasti bukan perampok bukan pula maling kelas teri sebab tak ada barang berharga yang raib dari TKP (Tempat Kejadian Perkara). Pun kita yang bukan ahli, bukan polisi, bukan kriminolog, pendeka kata bukan siapa-siapa yang memiliki wewenang dan kapasitas apa-apa, tak mesti serampangan berspekulasi apalagi bergosip lalu memilah-pilih serta mengelompokkan siapa saja musuh Ayu kemudian menjadikannya sebagai bahan diskusi bebas di warung kopi, pasar, terminal, kantin, atau pertamina.

Kita juga bukan seorang victimolog. Kita hanyalah masyarakat yang kini resah, gelisah, cemas, dan galau ketika rasa aman tinggal di rumah sendiri seolah terengut akibat peristiwa tragis ini. Sebuah rasa aman yang saat ini sekonyong-konyong telah berubah menjadi momok mengerikan. Bayangkan, seorang penata rias tewas terbunuh di salon miliknya yang terletak di pusat kota, di tengah-tengah keramaian, cuma beberapa meter dari Bundaran Paris yang setahu saya lokasi strategis ini telah dilengkapi dengan fasilitas kamera CCTV milik Polres Bolmong. (Semoga CCTV ini masih berfungsi, belum rusak sebab bisa menjadi awal petunjuk).

Pembaca, Ayu telah berpulang meninggalkan serentetan upaya perjuanganya dalam mengharapkan keadilan. Ia dibunuh dengan motif yang hingga kini masih kabur. Pelakunya jangankan tertangkap, diketahuipun belum.

Siapapun pelakunya, pasti ia bukan hantu, bukan pula genderuwo dengan tampang yang menyeramkan, dan yang jelas bukan mahluk luar angkasa. Ia pasti  ada dan tengah bergentayangan di atas bumi yang  fana ini. Mungkin ada di tengah-tengah kita dengan sosok dan wujud yang amat berbeda. Kita bahkan tidak tahu sama sekali. Polisi tetap masih di beri tugas dan kepercayaan sekaligus tantangan untuk mengungkap semua tabir dan teka-teki ini. Jika berhasil layak dapat bintang. Sedangkan kita selaku masyarakat yang kini merasa keamanan, ketentraman,dan keselamatannya terusik, maka sewajarnya siaga; Ada pembunuh disekitar kita.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 17 April 2013

Selinting Berita Cuaca

Cahya matari siang tadi memang terik menyengat. Di recent update dunia  'Bebekiyah' (BlackBerry Messenger/BBM) berseliweran serapah, maki dan kutuk. Saya malah girang sebab ada 4 potong celana jeans ditambah se-ember kaos dan kemeja yang harus dijemur.

Baru usai ritual tengah hari tua ini, saya dikagetkan dengan bunyi klakson mobil buatan Jepang berwarna hitam yang memasuki halaman rumah kediaman keluarga di Passi.

Rupanya seorang kawan yang dia ini tercatat sebagai warga Kota Kotamobagu. Ia tak datang sendiri. Ada seorang menemaninya. Saya lantas diminta berkenalan tatkala sedang menuntun mereka menuju salah satu ruangan yang biasa dijadikan tempat ngobrol.

Setelah berbasa-basi bertanya kabar, lalu rokok dan kopi, kami bicara ngarol-ngidul kemana-mana. Tak hanya soal rumah makan di Kotamobagu yang menyediakan menu spesial bebek rica-rica, tapi ledakan bom di Boston Amerika Serikat kemarin juga tak dilewati. Paling lucu hingga membuat teman perempuan disampingnya kerap memberi cubitan, adalah ketika topik merembet ke Alaska di tenda dan gundukan-gundukan iglo suku Eskimo, dan soal tradisi dimana manusia-manusia kutub ini akan memberi jamuan berupa perempuan (bahkan Istri sekalipun) kepada tetamu yang datang kemudian menginap di kediaman mereka yang berselimut salju.

Dari belahan Alaska, ke masa reruntuhan Soviet, politik Apartheit, prostitusi terselubung di Manado, menuju ke Korea Utara, Pulau Buru, Hercules, John Key, tambang Namlea, hingga akhirnya ke soal Pilwako Kota Kotamobagu.

Nah, disini akhirnya saya tahu bahwa kawan saya ini adalah pendukung salah satu kandidat diluar pasangan kandidat yang saat ini terkenal bukan karena program atau visi-misi-nya, melainkan rivalitas antara keduanya yang telah menjadi konsumsi publik tak hanya di Kota Kotamobagu namun di seantero Bolmong Raya bahkan Sulut.

Seperti keran bocor, kawan satu ini mulai menyemprotkan isi ledengUtamanya yang kabur-kabur, hitam, coklat ke-abu-abu-an, berbau, sedikit menyakitkan, juga yang bernuansa seronok. Begitu berapi-api hingga sekonyong-konyong membuat saya justru merasa tengah dituntun menuju sirkus dan kebun binatang. Paling aneh adalah ketika apa yang ia semprotkan justru menimbulkan keterangsangan secara seksual. Maklum ada berentet cerita (lebih tepat omelan berbalut gosip) dari dia berisi hal-hal cabul. ;)

Setelah mendapat kesempatan bicara, saya lantas menyarankan dia agar sedapat mungkin menahan diri, terlebih lagi apa yang diumbarnya  (untung bukan di depan umum) sifatnya adalah pribadi seseorang. Apalagi lidah akan mudah bercabang jika memperguncingkan hal tersebut. Hal ini saya sampaikan pada dia mengingat gelagat yang ia tunjukkan sepertinya akan mengarah ke suatu rencana dimana ada niatan untuk sengaja mempergunjingkan 'keburukan' orang yang sifatnya pribadi ke publik. Apalagi sasaranya adalah untuk menjatuhkan terkait Pilwako. Bahkan celaka pula untuk dirinya sendiri apabila yang diumbar hanyalah fitnah belaka alias jauh panggang dari fakta. Bahkan sekalipun itu fakta, alangkah tidak terhormatnya menjatuhkan seseorang dengan cara ecek-ecek apalagi mengorek-ngorek 'kelemahan' yang sifatnya private. Beda kalau itu soal kasus (macam korupsi) yang mengamputasi hajat hidup orang banyak.

***

Tiga jam bicara. Kopi sudah dingin, tinggal sekali teguk, maka amblas. Langit mulai nampak mendung dan cepat menghitam. Guntur pecah bergemuruh. Saya minta waktu menarik pakaian di tali jemuran dan memilih mengeringkanya di mesin. Sejurus dengan itu kawan minta permisi. Cuaca memang cepat berubah. Tadinya panas terik menyengat, tiba-tiba mendung, hitam, basah dan dingin dalam sekejap.

Dalam politik, segala sesuatu memang memungkin bahkan memaksa untuk bisa terjadi. Seperti berita cuaca hari ini.

Senin, 01 April 2013

Bangkitlah Kaum Waria Kotamobagu

Bergetar dan haru! Sedikitnya dua kata itu yang sontak merayapi sanubari tatkala Senin 1 April 2013 siang tadi, saya menyaksikan aksi demonstarsi yang dilangsungkan komunitas Waria dan para pendukungnya di Bundaran Paris Kotamobagu.

Mereka berdemonstrasi menggelar orasi terkait kasus penganiayaan yang dilakukan oknum aparat kepolisian dan Satpol PP terhadap teman mereka Ayu Basalamah belum lama ini. Dalam orasi itu mereka menuntut agar pihak kepolisian mengusut tuntas pelaku kasus kekerasan dan menjadikan hukum sebagai panglima tanpa pandang bulu.

Saya baru mengetahui beberapa jam sebelum demo itu berlangsung, melalui update status seorang teman di kontak BlackBerry Messenger (BBM). Isinya adalah ajakan untuk memberikan solidaritas terhadap Ayu Basalamah, korban kekerasan oknum Polisi dan Satpol PP.

Teman kontak BBM ini adalah sahabat dekat Ayu yang berprofesi sama; penata rias kecantikan. Pendek kata untuk urusan salon-menyalon dan dekorasi puade mereka adalah ahlinya.

Mari pending sejenak soal itu dan kita renungkan kembali prahara hingga berbuntut aksi yang mereka lakukan di Bundaran Paris siang tadi.

Kekerasan

Ya, kekerasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh yang 'kuat' terhadap yang 'lemah' harus di baca sebagai sebuah 'dosa' yang harus di lawan tak hanya dengan doa atau dengan tangan mengelus dada--lalu perkara usai--melainkan dengan aksi atau tindakan nyata.

Saya bukan berarti mengatakan atau menganjurkan bahwa aksi atau tindakan nyata yang dilakukan untuk membalas tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban,  wajib pula dibalas dengan kekerasan atau kesewenang-wenangan oleh korban terhadap pelaku kekerasan dan kesewenang-wenangan itu.  Kita tidak  bicara dalam konteks revolusi, chaos atau huru-hara yang terjadi dalam sebuah state (negara), apalagi pemberlakuan hukum rimba dalam menuntaskan suatu perkara sekecil atau sebesar apapun itu.

Dalam konteks Ayu, aksi atau tindakan yang wajib dilakukan sebagai respon atas apa yang dialaminya adalah dengan penegakan hukum. Sadar, mengerti dan paham bahwa ada hukum di negara ini adalah modal dasar bahwa siapapun pelaku kekerasan dan kesewenang-wenangan, tentu akan berhadapan dengan hukum.
 
'Kekarasan' yang dilakukan Ayu melalui percakapan (chating) pribadi menggunakan  fasilitas/aplikasi BBM antara dirinya dengan seseorang (hanya berdua) sebagai lawan chating, lalu menyinggung seseorang diluar sana yang dalam percakapan itu disebut Lanjar (telah terserak di media massa bahwa orang yang dimaksud dalam percakapan itu adalah Bupati Boltim Sehan Lanjar), adalah 'kekerasan verbal' dalam bentuk teks yang hanya diketahui oleh 2 orang, yakni Ayu dan lawan chating-nya. Hal itu tak jauh beda ketika misalnya saya mengirim SMS ke adik saya yang sedang terlibat demontrasi mahasiswa dijalanan terkait naiknya harga BBM (Bahan Bakar Minyak), kemudian didalam isi SMS itu saya memberi makian terhadap Presiden SBY karena sakit hati tatkala pemerintah senantiasa menaikan harga BBM.

Atau ketika sedang diatas sampan di tengah Danau Mooat, saya sempat berkirim chating BBM dengan seorang kawan wartawan di Lolak, menyoal diterimanya investor  kelapa sawit masuk Bolmong, kemudian saya dikompori bahwa salah satu kawasan hutan Mangrove di Inobonto kini beralih fungsi alias dirusak dan ditanami sawit oleh pihak perusahaan, maka saking geram dan kecewanya saya lantas memaki Bupati Bolmong Salihi Mokodongan melalui chating BBM. Atau taruhlah makian itu saya lakukan secara refleks lewat hubungan telefon antara dua orang belaka, maka pertanyaan saya adalah; apakah itu sebuah bentuk pelanggaran hukum atau apa? jika hukum maka hukum apa? pidana-kah atau perdata? bagaimana pula dengan lawan bicara saya yang tanpa sepengetahuan saya ternyata merekam, menyimpan lalu menyebarluaskan isi percakapan atau 'penghinaan' itu ke publik?

Jikalaupun kekerasan verbal atau kekerasan dalam bentuk teks itu dilakukan lewat perbincangan dua orang secara pribadi belaka, lalu dianggap merupakan pelecehan, penghinaan, atau perbuatan tidak menyenangkan dan berkonsekuensi hukum, maka saya yakin semua aparat penegak hukum akan kerepotan menangani ribuan kasus penghinaan terhadap pejabat, dan semua sel, penjara, Rutan mapun Lapas tak akan mampu menampung ribuan (mungkin jutaan) warga negara di republik ini.

Mengapa demikian? sebab hampir setiap hari, di depan Tipi , di dapur, di tempat judi, terminal, kolong jembatan, SPBU, rumah bordir, rumah sakit, atau pendek kata di hampir semua tempat dan kesempatan, kerap kuping kita mendengar makian rakyat sebagai bentuk kekesalan terhadap para pejabat publik.

Jika dalam kasus Ayu, (taruhlah) ia dianggap melanggar hukum karena memaki Bupati Boltim Sehan Lanjar lewat percakapan (ingat; percakapan pribadi saja) melalui BBM dengan seseorang, maka yang paling berhak mengadukan Ayu ke aparat berwenang adalah Bupati Boltim Sehan Lanjar. Polisi yang menerima laporan lantas membuatkan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) terhadap Sehan Lanjar yang merasa terhina dan dilecehkan. Pengaduan atau laporan yang disampaikan Sehan Lanjar selaku yang merasa korban tentu harus disertai bukti dan saksi-saksi. Maka tentunya pula seseorang yang melakukan percakapan via BBM dengan Ayu juga harus dipanggil, ditanyai, diperiksa, termasuk motif apa yang membuatnya hingga meng-capture dan menyebarkan isi percakapan pribadi tersebut, terlebih tanpa sepengetahuan apalagi atas persetujuan Ayu selaku lawan chating (pribadi).

Selanjutnya jika dalam pemeriksaan tak terbukti bahwa Lanjar yang dimaksudkan Ayu adalah Sehan Lanjar baik dalam kapasitas pribadinya mapun pejabat publik, maka laporan yang dilayangkan tak kuat secara hukum. Ayu bahkan bisa menuntut balik.

Sebaliknya jika dalam pemeriksaan kepolisian terbukti bahwa Lanjar yang dimaksudkan Ayu adalah Sehan Lanjar baik kapasitasnya secara pribadi maupun pejabat publik maka yang menjadi tugas polisi selanjutnya adalah menelusuri apakah Sehan Lanjar baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik (Bupati Boltim), pernah tidak menjanjikan perkara yang disoal? (pemberian pulsa kepada rakyat Boltim) lalu mengingkarinya? Disini kecermatan, kecerdasan, kejeniusan dan profesionalitas penyidik kepolisian layak di uji.

Jika dalam pemeriksaan Sehan Lanjar (terutama dalam kapasitasnya sebagai Bupati) tak terbukti secara hukum bahwa yang bersangkutan pernah menjanjikan pulsa terhadap rakyat Boltim, maka disini posisi Ayu terjepit. Lalu terkait lawan chating Ayu, bukan berarti yang bersangkutan lolos dari jeratan hukum sebab dialah orang pertama yang meng-capture lalu menyebar-luaskan isi perbincangan pribadi itu kemana-mana sehingga Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronika telah siap-siap menantinya.

Sayangnya dalam kasus Ayu, yang terjadi adalah aksi kekerasan dan kesewenang-wenangan yang alangkah tragis dan ironi-nya dilakukan secara brutal oleh oknum-oknum aparat yang punya kewajiban melindungi rakyat. Santer juga isu beredar (sudah bukan rahasia berjamaah) bahwa oknum aparat ini  berada di-lingkaran kekuasaan Bupati Boltim Sehan Lanjar.

Terkait motif yang melatar-belakangi perlakuan kekerasan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap yang lemah Ayu Basalamah sehingga nekat mengambil sikap main hakim sendiri, mungkin cuma mereka (pelaku) dan Tuhan yang tahu.

Kebangkitan Kaum Marjinal

Ya, saya senang dan terharu melihat aksi yang dilakukan komunitas Waria di Kotamobagu siang tadi terkait solidaritas mereka terhadap kawan yang lemah (siapapun dia, baik bersalah atau tidak).  Sebuah pemandangan yang saya terjemahkan sebagai kebangkitan kaum termarjinalkan yang bangkit melawan tatkala kesewenang-wenangan ditancapkan kepada mereka yang lemah dan 'minori,sekalian pembelajaran penting terhadap orang Mongondow agar jangan malu-malu turun demonstrasi ke jalan mengeskpresikan perlawanan atas ketertindasan sebab demonstrasi dijalanan bukan ajang cari muka, bukan ajang makang puji, tekeng jago, dan bukan dosa. Demonstrasi (apalagi dalam menuntut kebenaran dan keadilan) adalah tindakan mulia dan beradab.

Mengakhiri tulisan saya kali ini, saya hendak menyerukan; Bangkitlah Kaum Waria Kotamobagu!! Ke depan akan ada banyak rintangan baru lagi yang akan kalian hadapi. Jangan berhenti disini. Tetap bangkit melawan!!

Sabtu, 30 Maret 2013

Perang Bendera dan Tafsir Mimpi Tukang Pasang Togel

Foto : LimzPaputungan

Kamis 28 Maret 2013, atau dua hari lalu, usai memperbaiki keran air yang bocor, bunyi SMS dari handphone yang sedang di charger di teras rumah kediaman Ayah - Ibu di Ikayang (Passi), menyita langkah saya yang hendak ke kamar mandi.

Datangnya dari kenalan. Di kontak saya edit sembarang nama dia menjadi Master Togel. Soal nama kenalan satu ini, para pengunjung yang sempat membaca tulisan saya di sini, berjudul: Pilwako KK: So Pernah Kwa Ni Pelem, pasti sudah tahu.

Ya, dialah si Master Togel yang ahli dalam urusan syair-menyair mimpi untuk dipasangkan sebagai angka Togel (Judi Toto Gelap). Isi SMS yang ia kirimkan begini; "Ndak percaya ngana? co turung dulu ngana dari Passi kong ba lewat di Gogagoman. Datang hitung sandiri sapa pe bendera paling banyak...wkwkkkwk"

Saya tersenyum acuh membacanya. Ingatan kembali melambung ke SMS tempo hari yang pernah saling kami kirimkan. Salah satu kutipanya pernah saya muat dalam tulisan : (http://uwinmokodongan.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html)

Setelah merapikan perkakas yang digunakan memperbaiki pipa bocor tadi, saya membalas isi SMS itu; "Iyo, nanti mo ka bawah. Ini rencana abis mandi ada mo ke Jarod lay " .  

***

Ritual di kamar mandi usai. Setelah berganti pakaian berbau harum karena dicuci memakai pewangi, saya menghidupkan mesin kendaraan. Tak  lupa saya mengajak serta ponakan yang dari segi postur kami sudah sama tinggi, meski lebih gemukan dia. Rasanya baru kemarin sebuah ingatan terpampang bagaimana saya menangkap dia bertelanjang dibawah hujan di tengah lapangan. Menyadari ponakan yang cepat tumbuh dewasa, sepertinya menyadarkan saya bahwa umur sudah makin tua saja.

Saat hidung kendaraan baru memasuki kelurahan Gogagoman, amboy isi hati cepat bergumam; benar telah terjadi perang bendera disini. Bendera Partai Amanat Nasional (PAN) pengusung pasangan Calon Walikota Tatong Bara - Jainuddin Damopolii, yang sebelumnya jarang di wilayah yang konon dikuasai pasangan Djelantik Mokodompit - Rustam Simbala, kini bak ber-loyang-loyang pakaian yang dijemur secara serampangan dari tiang listrik satu ke tiang listrik lainya. Melintang zig-zag dari rumah seberang kiri jalan, ke rumah seberang kanan jalan,. tepat di atas jalur lalu-lintas.  Seperti orang-orangan di sawah.

Saya tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Ponakan di samping cuma cengar-cengir. Dagunya lalu ia taruh di dashboard mobil kemudian dihadapkanya muka memelototi kesemrautan bendera dari balik kaca depan mobil. Ia bicara; "Dorang da pasang tadi malam amper siang ini. Pas kita somo pulang Passi kwa kong bakudapa dengan dorang pe group. Dorang di motor da baku-baku bonceng kong mulai nae ba pasang. Kita sedang masih dorang pangge brenti".  

Saya bertanya, siapa saja mereka yang ia sebutkan itu? Tanpa beban, sederet nama ia tumpahkan sembari tertawa. Saya jadi tambah terkakak mendengarnya. Dari setengah lusin nama yang ia sebut, saya mengenal sedikitnya 3 orang yang rata-rata berusia ABG. Seorang diantaranya bahkan terlalu saya kenal, sampai-sampai saya berani taruhan besar jika diminta bisa menebak celana dalam warna apa yang dipakai orang itu, tatkala sedang beraksi dari tiang listrik satu ke tiang listrik lainya.

Sepanjang Gogagoman hingga di perempatan lampu merah dekat Mesjid Raya Baitul Hikmah, saya dan ponakan ketawa-ketiwi penuh gunjingan. Salah satu yang jadi pokok gunjing adalah imbalan yang diterima para pemasang bendera yang mengendarai motor tengah malam buta. Lucunya lagi bendera yang dipasang gerombolan pemuda bau kencur pengendara motor tengah malam buta ini, bukan cuma satu warna saja melainkan dua. "Lucu dari dorang da pasang bukang cuma bendera PAN tapi Golkar lagi. So mabo lay stow kwa dorang".  tutur ponakan.

Setelah mengantarkan ponakan ke Kantor Polres Bolmong karena adanya suatu urusan yang harus ia kerjakan, saya memacu kendaraan ke Rumah Kopi Jarod Sinindian.

Di Jarod, setelah memesan Goroho dan Es Teh, saya rogoh handphone dari kantong celana lalu mengirim SMS ke Master Togel; "Butul kang, so mulai baku ambor bendera dorang". SMS lantas berbalas; "Makanya, sama deng itu hari kita ada bilang, ngana hitung joh sapa pe bendera paling banyak ta ambor di Kotamobagu ini, noh so dia itu tu mo menang. Kita so syair ni mimpi. Kuat pokoknya. Sapa paling banyak, so dia berarti itu".

Satu minggu kemudian

Sore tadi, saat meluncur dari Passi hendak ke rumah peninggalan Alm. Kakek saya sebelah Ayah, di Jalan Soeprapto Kelurahan Gogagoman, pemandangan terkait perang bendera makin terasa. Gogagoman yang konon adalah basis Djelantik Mokodompit, kini jalanan-nya dipadati warna biru.

Tapi bukan berarti kubu Kuning tak melakukan perlawanan. Duet Kuning dan bendera Moncong Putih yang tahu 'musuh' sudah datang ke halaman, memberi perlawanan meski memang agak diamuk Badai Biru yang mulai tampil mendominasi.  Tak main bendera saja, spanduk dan baliho pasangan Tatong Bara - Jainuddin Damopolii pun mulai terpancang, berdiri kokoh di tanah Gogagoman.

Saat hendak menyelesaikan tulisan ini, saya kembali mengirimkan SMS ke sahabat saya, sang Master Togel. Isinya singkat saja; "Pengaruh so tu bendera-bendera itu?".  

SMS pun cepat berbalas; "Bukang soal depe bendera, tapi tempo hari ngana da ba tanya toh, sapa yang mo untung, noh sesuai kita pe mimpi, sapa pe bendera paling banya ta sebar di Kotamobagu, noh so dia yang mo untung. Jadi ngana so boleh data joh".

Saya tersenyum membaca balasannya. Lalu senang bukan kepalang tatkala membaca isi SMS yang ia kirim selanjutnya; saya kena 2 angka ekor nomor Togel dengan pasangan tinggi, yang keluar Edisi Sabtu 30 Maret 2013 ;)

Hore saya menang Lotre.... 

Kamis, 28 Maret 2013

Mawar Hitam Kedua Untuk Anggota DPRD Fraksi Partai Golkar

 Jika telah ada mawar hitam pertama untuk Anggota DPRD Bolmong Fraksi Partai Golkar, maka ini adalah kali kedua untuk mereka..


Menyimak pentas politik di Mongondow ibarat kita menonton salah satu channel di televisi yang lebih banyak menyuguhkan program acara yang itu-itu saja. Kalau bukan sinetron ya lawakan Olga yang selain tak lucu, juga mengesampingkan segi kwalitas dan tak pula mendidik.
Maka dengan berterus terang dan dari lubuk hati yang paling dalam, lawakan yang biasa diperankan Olga di layar tipi malah membuat saya kehilangan selera bergaul.

Namun tidak dengan ulah para (yang katanya) politisi  di Gedung DPRD Bolaang Mongondow utamanya yang datang baru-baru ini dari Fraksi Partai Golkar. Kelakuan mereka sungguh-sungguh membuat takjub, kadang menggelikan, dan yang tak kalah penting adalah membuat tawa kita bisa meledak sembari geleng-geleng kepala keheranan. Terkait ini tak jarang saya pernah berpikir; hal yang sebenarnya menjengkelkan yang dilakoni oleh para politisi kita, terkadang memang bisa menghibur.

Saya tak perlu mundur ke bilangan puluh tahun ke belakang atau ke jaman dimana Marlina Moha Siahaan berkuasa untuk sekedar menelisik kembali jejak dan gambaran yang pernah terekam dalam perjalanan politik Bolaang Mongondow beserta dinamikanya yang penuh lawakan sekalipun lawakan itu menjengkelkan dan tak berkwalitas. 

Namun dua hari kemarin teseraklah berita di sejumlah media yang bersumber dari sebuah insiden yang katanya adalah ‘pelecehan’ terhadap Anggota DPR RI asal Bolmong, Aditya Didi Moha (ADM) tatkala menghadiri acara HUT Ke 59 Kabupaten Bolaang Mongondow di Kantor Pemkab Bolmong Senin 25 Maret 2013 lalu di Lolak.

Tak tanggung-tanggung ‘pelecehan’ terhadap ADM di kata merupakan kesengajaan pihak Pemkab Bolmong, sebagaimana pula ocehan Abdul Kadir Mangkat yang terliput, terekam, dan termuat di sejumlah media massa terbitan hari rabu 27 maret 2013.

***
Blunder dan tak berpikir panjang. Itulah sikap yang dilakoni Abdul Kadir Mangkat (Ketua DPRD Bolmong) dan kawan-kawannya di Fraksi Partai Golkar tatkala memboikot Sidang Paripurna Istimewa HUT Ke 59 Bolaang Mongondow. Terlebih ketika dengan lantang dan penuh percaya diri, Abdul Kadir Mangkat mengumandangkan di sejumlah media baik cetak maupun online bahwa alasan dia beserta 9 orang Anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar enggan menghadiri Sidang Paripurna semata-mata untuk memberi pelajaran terhadap Pemkab Bolmong karena dianggap telah melecehkan Aditya Didi Moha (ADM) dihadapan banyak orang karena acara pemberian bantuan 1 unit mobil dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang konon diwakilkan pada ADM selaku Anggota Komisi IX DPR RI, telah dihilangkan secara sengaja oleh pihak Pemkab Bolmong dari susunan acara.

Amboy, sampai disini nampaknya ada yang menurut saya aneh, sebab setelah menelisik lebih jauh ke beberapa rekan yang hadir disana, ternyata penyerahan bantuan dari Kemenakertrans itu tetap dilaksanakan. Hal ini juga terbukti dengan tayangnya foto ADM tatkala memberikan bantuan secara simbolis tersebut ke Pemkab Bolmong melalui Bupati Salihi Mokodongan sebagaimanay yang ada di halaman advertorial Radar Totabuan edisi Rabu 27 Maret 2013.

Owh,jadi rupanya tetap ada? Namun nampaknya kedongkolan kubu Golkar terlampau tak dapat di obati. Penghapusan atau penundaan acara penyerahan secara simbolis bantuan 1 unit mobil reaksi cepat untuk keselamatan para pekerja oleh kader andalan yang muda nan energik telah diterjemahkan sebagai bentuk pelecehan di hadapan publik, sekalipun hal itu pada akhirnya tetap dilaksanakan. Apa mau di kata, maraju tetap maraju. Onu bi' po lawang kon tontoll.

Baiklah, sekarang kita bertanya pada mereka yang memboikot Sidang Paripurna Istimewa HUT Ke 59 Kabupaten Bolaang Mongondow yang batal dilakukan dan merupakan sejarah terlucu dan baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah perpolitikan di Bolaang Mongondow:

Pertama, bukankah sikap maraju yang telah mereka lakukan ibarat kata pepatah; menepuk air di ladang terpercik muka sendiri?  Betapa tidak, DPRD Bolmong yang diketuai Abdul Kadir Mangkat adalah lembaga yang seharusnya terhormat selain merupakan pula pihak penyelenggara sekaligus yang mengundang tamu-tamu istimewa yang berdatangan baik dari  jauh-jauh maupun yang paling dekat, sebut saja yang dari Boltim, Kota Kotamobagu, Bolsel dan Bolmut. Maka selaku pihak yang punya hajatan, sebaik-baiknya tuan rumah adalah yang menghargai tamu di atas segala-galanya. Cuma tuan rumah tak beradab yang mampu menelantarkan tamu terlebih meninggalkan tamu dalam keadaan bingung tak tahu apa yang terjadi di dalam rumah tempat diselenggarakanya hajatan.
Bayangkan sebuah pesta ulang tahun; tamu-tamu spesial yang datang dari jauh, berdandan paling spesial nan harum semerbak, namun tiba-tiba si tuan rumah pemilik hajatan dan yang berulang tahun justru memboikot acara, enggan hadir dan membiarkan tamu terlantar dalam keadaan bingung dan derita yang dialaminya.

Kedua, tidak adakah cara yang lebih elegan dan lebih beradab meski tetap pedas dan kritis dalam menanggapi (taruhlah) insiden ‘pelecehan’ terhadap ADM yang konon dilakukan pihak Pemkab Bolmong (entah bagian mana dan siapa yang paling bertanggung jawab), dibanding tak menghadiri Sidang Paripurna Istimewa yang juga dihadiri tamu-tamu dari luar utusan Pemprop Sulut, Polda Sulut, Korem, Danlantamal, Pemkot Bitung, Pemkab Bolsel, Pemkab Bolmut, Pemkot Manado, dan sejumlah daerah lain di Sulut. Tak terkecuali Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), unsur pemuda, tokoh agama, serta seluruh Kepala Desa se-Bolmong. Tak heran jika Gun Lapadengan selaku Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulut mewakili Gubernur Sulut berkomentar kepada sejumlah wartawan bahwa apa yang terjadi dalam hajatan tersebut akan ia laporkan ke Gubernur Sulut. http://www.radartotabuan.com/read/fpg-bolmong-boikot-paripurna-11468

Kekecewaan juga datang dari Anggota DPRD Sulut asal Bolmong, Soenardi Soemantha yang mengaku kecewa atas peristiwa pemboikotan yang dikomandani ketua DPRD Bolmong Abdul Kadir Mangkat. Sama halnya dengan yang dirasakan Wakil Walikota Kotamobagu, Ir. Hj. Tatong Bara dan para Sangadi yang mengaku heran dan kecewa dengan sikap Fraksi partai Golkar. (Bukan tak mungkin para Sangadi yang kecewa ini diam dan dingin telah memberi catatan tersendiri yang bakal dikantongi mengingat pemilu legislatif 2014 juga sudah ada di depan mata).

Padahal kalau mau di pikir menggunakan akal sehat dengan takaran kesabaran yang didasari logika berpikir yang elegan, tak ada salahnya seluruh anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar hadir dalam Sidang Paripurna Istimewa tersebut, anggaplah sebagai bentuk penghargaan dan pemuliaan terhadap tamu. Nanti setelah acara selesai, tamu sudah pulang, baru kemudian segala taring dan kuku yang telah diasah dan diruncingkan, siap-siap untuk ditancap-kaiskan hingga berdarah-darah kepada pihak-pihak yang dianggap paling bertanggung jawab karena telah melecehkan kader FPG se-energik ADM. Gampang bukan? Tak perlu dengan cara bobudukon yang mengutamakan pitam naik turun dikepala, lalu tanpa sadar melakukan hal yang justru blunder, dan membuat malu secara massal.

Tapi inilah ‘hiburan’ (sebut saja begitu) yang bisa kita tonton dari para wakil rakyat kita di DPRD Bolmong. Mereka memang menggemaskan. Saking memnggemaskanya, mereka lupa bahwa ada lawakan (yang sebenarnya tak lucu namun telah menjadi lucu), yang kerap mereka pentaskan dihadapan khalayak. Hingga pada akhirnya apa  yang mereka pentaskan dengan penuh percaya diri itu justru melahirkan lelucon segar ditengah-tengah masyarakat kita. Contohnya seperti yang saya dengar di perempatan kampung Passi sehari setelah pemboikotan itu terjadi; “to laeng bik doman anggota dewan mita nongkon Golkar  tatua kuma?? Totok bik lolongonon?” kata suara itu. “Sin eta bi’?” celetuk salah satu anggota majelis perempatan.  “Ka hajatan tontanik, mo sia no gundang, bo anda namangoy in tamu dak dega’ minayak bi’ no ro ngopi ko onda?”

Tulisan ini juga didedikasikan kepada mereka yang berani-berani, manis dan lucu-lucu!








Rabu, 27 Maret 2013

Tukang Pukul Yang Pilih - Pilih Lawan

Tulisan atas kasus yang menimpa Ayu Basalamah

Kecanggihan teknologi  membuat kita mudah saling terhubung tak kenal keadaan, jarak, batas, dan waktu. Seorang ABG di Mongondow, meski lagi berak sekalipun, tetap masih bisa saling berkirim kabar dan gambar dengan Ayahnya yang lagi berjuang di Namlea. Pun demikian kejadian di belahan antah berantah mana bisa dengan mudah kita mamah. Sama halnya dengan kita yang cepat mengunyah  informasi soal kasus yang menimpa Ayu Basalamah. Ini jaman Gadget, EDGE dan 3G.

Hingga hari ini 27 Maret 2013, seantero Mongondow tahu ihwal kejadian yang menimpa Ayu, termasuk versi terkini  pasca ia dibebaskan dari Polsek Urban Kotabunan.

Meski gosip sudah bukan gosip lagi, dan teman-teman Ayu telah mengetahui siapa pelaku sekaligus penyebar chating pribadi yang di capture dan disebar pertama kalinya hingga menjadi santapan umat ‘Bebekiyah’ (BlackBerry Messenger),  kita sepakat bahwa apa yang telah dilakukan para pelaku penganiayaan (siapapun mereka) terhadap Ayu, terlalu 'mulia' jika  disejajarkan bak tindak-tanduk mafia Sisilia. Bagi saya pribadi, penganiayaan itu cuma satu tingkat dibawah level seorang tukang pukul kelas pamabo yang kehilangan kecerdasan soal bagaimana 'bermain cantik'.

***

Dari bahan bacaan fiksi maupun non fiksi, atau film bertema mafia, kita mendapat pelajaran bahwa kekejaman dan kebrutalan yang dipraktekkan para anggota geng, wajib menjunjung tinggi kedisiplinan. Operasi yang dilakukan juga selalu mengutamakan tingkat kerapian; penghilangan barang bukti, modus operandi yang membuat pelaku dan kelompoknya tidak bisa diendus, meski tetap memberi kesan kejam, brutal, juga dingin.

Tak jarang dalam adegan film mafia kita melihat bagaimana anak buah atau pengikut yang membahayakan kelompok terutama nama besar Don, sepulang dari operasi (sekalipun sukses memberi pelajaran atau pelenyapan terhadap korban), justru menjadi mangsa baru kelompoknya sendiri karena operasi yang dilakukan sembrono dan amatiran, sebab dianggap cuma mencorengi nama besar sang Don.

Konsekuensi terkejam yang bakal menimpa anak buah yang berlaku sembrono bak pemabuk brutal ini adalah: nyawa melayang sebagai pelajaran bagi anggota kelompok lain agar memperhatikan permainan cantik. Sedangkan jika di beri maaf oleh sang Don, maka hukuman paling ringan adalah kehilangan beberapa buah jari tangan, kaki, puting, atau daun telinga.

Dalam kasus yang menimpa Ayu, seandainya ada orang atau kelompok dan pengikut fanatik seseorang atau kelompok itu, atau yang di anggap barisan setia pengikut atasan, bos besar,atau Don yang merasa terhina, terusik, kelewat meradang hingga naik pitam dan berpikir ada darah yang harus ditumpahkan atau minimal diberi pelajaran gara-gara nama Don dicaci hingga dianggap mengurangi kadar kehormatan dan kemuliaan sang Don, toh ada hal yang jauh lebih 'mulia' dan berkelas, yang bisa dilakukan dengan mengutamakan tingkat 'kebersihan', 'kerapian', 'kelembutan' dan kebijaksanaan.

Jikalaupun harus dilakukan dengan cara kasar, perih nan kejam, penuh nafsu angkara murka, hilang akal sehat tinggal pitam yang naik turun di atas kepala alias bobudukon kata orang Mongondow, tersebab apa yang dilakukan Ayu adalah sebuah aib, dosa, pelecehan dan kebiadaban yang sungguh diluar batas pengampunan, toh setidaknya ganjaran yang akan dihadiahkan terhadapnya juga harus mengutamakan tingkat ‘kedisiplinan’, ‘kerapian’, ‘kebersihan’, dan modus yang tak mencoreng nama baik atasan, pimpinan, atau orang yang patut dijaga kehormatanya. Bukan dengan cara-cara amatir, blunder, dan memalukan. Terlebih khalayak semua tahu siapa Ayu yang saya sendiri mengenalnya tak kurang tak lebih adalah seorang penata rambut dan tukang rias pengantin dengan pembawaan yang kemayu. Atau dengan terlebih dahulu meminta maaf sebesar Gunung Ambang kepada Ayu, saya mengatakan (sekali lagi maaf Ayu bukan bermaksud melecehkan), bahwa sosok Ayu adalah sebagaimana orang biasa mengkategorikan dia sebagai Banci'.

Kabar dari kawan media, dan yang saya dapat dari teman se-profesi Ayu, ditambah serangkaian broadcast yang di kirim sederet umat sahabat Bebekiyah (saya menyebut pengguna BlackBerry Messenger demikian) yang merekomendasikan tautan berisi bahan bacaan terkait hal-ihwal kasus yang menimpa Ayu, maka cukuplah data yang menjadi bahan rujukan bahwasanya kronologi kejadian yang telah terserak dan menjadi kunyahan khalayak, sudah tidak bisa di tutup-tutupi lagi. Olehnya saya tak perlu menuturkan kembali dalam tulisan ini, apa yang menimpa Ayu.

Saya bukan ahli hukum meski tidak buta hukum sehingga berani mengatakan bahwa siapapun oknum yang menyeret, menjemput paksa dan menganiaya korban (Ayu) dengan cara sistim malendong, maka mereka (para pelaku) itu selain melanggar hukum, justru memberi nilai minus pada orang yang dibela gara-gara pembelaan yang dilakukan itu (selain berlandaskan angongong in bobudukon) berlevel amatir dan mengesampingkan kecerdasan akal sehat. Kecuali itu (ini tanggapan pribadi dari saya dan bukan berarti harus di ikuti), yang melakukannya  adalah anak, atau putra dari orang yang telah di hina dan di caci. Sebab di Mongondow, bukan tak ada cerita dan kisah nyata terkait pembelaan demi menjaga harga diri dan kehormatan orang yang dianggap suci dan terlampau tabu nan keramat jika dilecehkan. 

Sekedar berbagi cerita, di Bilalang, sejak kecil saya sudah beberapa kali mendengar cerita penuturan saudara sebelah Ayah soal bagaimana seorang anak memenggal kepala orang gara-gara orang yang kepalanya dipenggal itu memaki orang tuanya.

Dalam kasus Ayu, jika yang melakukan itu adalah bawahan, anak buah, pengikut setia, atau orang-orang yang tak ada ikatan keluarga secara langsung melainkan hanyalah orang dilingkaran kekuasaan Bupati Boltim Sehan Lanjar, yang (taruhlah) tersinggung, tercela, terhina dan marah karena ulah Ayu yang tak terpuji di chating BBM , maka saya ingin bertanya: dimana kalian dan apa yang kalian lakukan tatkala nyawa Bupati Sehan Lanjar dan Istrinya tak hanya di caci-maki melainkan nyawa keduanya terancam oleh berondongan batu dari massa yang mengamuk tatkala menghadang dan mencegat rombongan Bupati sepulang dari Upacara 17 Agustus silam? Dimana??

Kalau memang seorang ksatria dan tukang pukul pengawal setia Bupati, janganlah hanya sekedar menjadi tukang pukul yang pilih-pilih lawan.

Rabu, 20 Maret 2013

PILWAKO KK: 'So pernah kwa ni pelem'


Pasangan mana yang akhirnya akan memenangkan Pilwako Kota Kotamobagu nanti? Pertanyaan ini tentu tengah meracau merayap-rayap tak hanya di benak setiap orang yang tercatat sebagai warga Kota Kotamobagu, namun juga disetiap relung hati siapa saja (dimanapun berada)  yang memiliki hubungan dan menaruh perhatiannya terhadap pesta demokrasi di Kotamobagu.

Ada sejumlah indikator yang bisa dijadikan bahan acuan untuk memprediksi pasangan mana yang punya kans menang. Urusan ini biasanya lazim menjadi kunyahan para analis politik (kita sebut saja dukun politik) mulai dari yang kelas amatir hingga professional, dari kelas daong lemong hingga kelas daong sosoro, atau dari kelas karbitan hingga masa’ pohong.

Namun karena persoalan Pemilukada/Pilwako adalah persoalan ilmu sosial dan ilmu politik yang perlu dikaji dan dipelajari hanya dengan terjun langsung didalamnya, maka siapapun bisa menjadi analis, pengamat, atau tukang ramal sekalipun karbitan. Terlebih ketika banyak dukun politik kelas kaliber belakangan pernah keliru dalam memprediksi pasangan yang bakal menang dalam Pemilukada di Sulut.

Sebut saja ketika prediksi para dukun politik itu meleset di Pemilukada Boltim dan Pemilukada Bolmong 2010 lalu. Alasan lainya adalah, karena Pilwako KK yang saat ini lebih banyak mempertontonkan perang baliho, bendera, spanduk, konvoi, posko pendukung, tembang kenangan, ajang baku terek hingga konon kucuran dana segar dari Tim Sukses salah satu kandidat yang tembus hingga ke urusan ramu-meramu rempah untuk bebek bumbu RW, maka nyong-nyong hingga ABG tukang wora valinggir di Kotobangon pun bisa dengan mudah menjadi dukun politik yang mampu memprediksikan, pasangan mana yang punya kans paling besar dalam memenangkan hajatan Pilwako nanti.

* * *

Saat dalam perjalanan menuju Jarod Sinindian, saya terjebak macet tepat di depan bekas Kantor Pemkab Bolmong karena berjubelnya massa pendukung pasangan MSL – Ishak yang tengah mengarak jagoan mereka  menuju Kantor KPU Kota Kotamobagu untuk mendaftar.  

Saya terpaksa menghentikan kendaraan dan memarkirnya direntetan kendaraan massa pendukung itu lalu masuk berjalan kaki mengikuti  iring-iringan massa yang memasuki halaman Kantor KPU Kota Kotamobagu.

Di tengah kerumunan massa, iseng saya bertanya pada salah seorang yang hadir: “Bagimana kira-kira ni Pilwako KK? Sapa jo yang mo untung?”  orang ini cepat menjawab: “Biar badai biru, kuning, deng merah mo baku malendong akang, tetap torang yang mo untung. Nanti baku lia jo? Katanya mantap penuh percaya diri.  Saya membalas : “Ah, masa. Kiapa boleh bagitu dang?” jawaban pun cepat bersambut: “So pernah kwa ni pelem?” katanya lalu pergi menuju kerumunan massa yang berjubel tepat di depan gedung pendaftaran. Antusias yang ia tunjukkan pada siang itu   menunjukkan sebuah gambaran bahwa dia bukan massa bayaran.

Saya jadi penasaran dengan ungkapanya. Membuat saya ingin mengejarnya lagi berharap mendapatkan kejelasan apa yang ia maksudkan dengan kalimat so pernah kwa ni pelem? Namun orang ini keburu lenyap ditelan kerumunan massa sehingga saya memilih bergabung dengan beberapa kawan Wartawan yang meliput pendaftaran pasangan yang hari itu resmi dijuluki  LARIS MANIS.

Dikerumunan, saya mendengar (meski terpotong-terpotong) pembicaraan yang sedikitnya membahas soal massa pasangan Tatong Bara – Jainudin Damopolii juga Djelantik Mokodompit – Rustam Simbala yang telah terlebih dahulu berkonvoi di hari sebelumnya. Dari perbincangan itu rata-rata omongan tidak pernah merasa gentar dengan massa yang telah berkonvoi. “Kong massa ini hari dang ndak mo rekeng dang?” kata omongan itu diselingi tawa dan olok-olok yang cukup menggelitik. “Torang malah sanang kalo tiap hari dorang ba konvoi. Sebiar kasana sampe dorang hosa di tengah jalan”. Kata omongan dalam kerumunan massa di hari pendaftaran itu.

***

Politik, terutama dalam urusan Pemilukada/Pilwako memang menghadirkan beragam kemungkinan dan kegemparan tersendiri. Sekedar menengok ke belakang, siapa yang tak ingat konvoi  massa pendukung pasangan Bogani pada Pilwako 2009 lalu? Juga rilis hasil survey yang digelar para dukun politik yang menaruh pasangan Bogani (Syachrial Damopolii – Sutomo Samad) dihitungan teratas. Toh pada akhirnya pasangan Djelita (Djelantik Mokodompit – Tatong Bara) keluar sebagai pemenang. Begitupun pengalaman Pemilukada di Boltim yang dimenangkan kandidat yang kalah popularitas dibanding kandidat lain. Begitupun di Pemilukada Bolmong dimana rakyat gempar tatkala pasangan Salihi Mokodongan – Yanni Tuuk berhasil keluar sebagai pemenang meruntuhkan prediksi yang menyebutkan kalau bukan ADM-Norma yang menang maka Limi-Meydi yang bakal jadi Bupati dan Wakil Bupati Bolmong. Namun toh semuanya meleset. Tak tanggung-tanggung kemenangan Salihi-Yanni memberi tamparan paling memalukan terhadap para dukun politik yang berkecimpung di lembaga survey kelas kaliber.

Lantas kandidat mana yang  bakal menjadi pemenang di Pilwako KK saat ini? Selasa 19 Maret 2013 kemarin, saya iseng mengirim chat BBM (BlackBerry messenger) pada  seorang sahabat  dekat yang selain tukang lawak, dia  juga dikenal paling jago dalam urusan syair-menyair mimpi untuk dipasangkan sebagai angka Togel. Tak heran di kontak BBM, saya mengedit nama kontaknya menjadi Master Togel. Saya lantas menanyakan soal siapa menurut dia pasangan kandidat yang punya kans kuat dalam memenangkan Pilwako KK nanti? Pertanyaan saya cepat dibalas sebagai berikut; “Ngana hitong jo, sapa pe bendera deng baliho paling banyak da pasang, so pasangan itu noh yang mo menang. Kita pe mimpi kwa bagitu”.

Saya tahu itu rujukan yang bukan hanya ngawur tapi juga apa yang disebut anak-anak muda Mongondow sebagai Gilingan. Tapi saya memang ingin bermain-main dengan dia. Minimal kepenatan siang kemarin bisa hilang dengan adanya lelucon-lelucon segar. Sembari tersenyum saya kembali mengiriminya chat yang isinya menanyakan kenapa harus bendera dan baliho yang menjadi ukuran? Ia lantas membalas: “Karna romantis itu yang paling banyak bendera”. Balasan chat yang ia kirimkan ini penuh berhias emotion yang menggambarkan orang  tengah terkakak sambil guling-guling, lalu di ikuti chat selanjutnya: “Ngana pasang jo 35 di Sidney, asli kanal ngana. Sudah jo batanya sapa yang mo menang karna so pernah kwa ni pelem”. 

Saya menutup chat yang ia kirimkan ini dengan mengetik: Wkwkwkkwkwkwk…!! Lalu menaruh emotion mata berputar mewakili rasa penasaran saya tatkala kembali berjumpa dengan kalimat: so pernah kwa ni pelem. Namun yang membuat saya sedikit menyesal, adalah ketika tak mengikuti saranya untuk memasang angka 35 di putaran Togel Sidney periode Selasa 19 maret 2013.

Pembaca, lantas kandidat mana sebenarnya menurut pembaca yang paling berpeluang memenangkan Pilwako KK nanti?  Please, jangan katakan: so pernah kwa ni pelem. Sebab satu minggu jelang hari pemilihan, saya akan bertemu dengan saudara-saudari untuk memberitahu apa yang seharusnya menjadi keputusan sebelum masuk bilik TPS.

Bagi yang mau mendengar silahkan, yang enggan juga tak masalah.

Sabtu, 09 Maret 2013

Matematika Pilwako, Malam Bakupas dan Serangan Fajar


Adnan Nurman, penulis bidang sosial politik dan ekonomi, dalam bukunya Strategi Pemenangan mengatakan bahwa Pemilukada (Pilwako,red) bukanlah sebuah hitungan matematika melainkan ilmu sosial yang perlu dikaji dan dipelajari dengan terjun langsung didalamnya.  Namun demikian Adnan juga mengatakan, meskipun Pemilukada adalah ilmu sosial, tetap saja ada pendekatan matematika sederhana, yakni: jika ingin menang maka rumusnya adalah penjumlahan dan perkalian dan jika ingin kalah maka rumusnya adalah pengurangan dan pembagian.

*** 
Sudahlah di daerah lain (yang masih dalam lingkup Indonesia raya), tapi di Mongondow, mari kita berani jujur dan berterus terang bahwa tiap tiba Pemilu baik itu Pilgub, Pilbup, Pilwako, Pileg, bahkan Pilsang (kecuali pemilihan ketua kelas), praktek money politik seolah sudah mendarah daging dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pesta demokrasi.  Pemilu tanpa money politik seolah ganjil. Sama halnya dengan orang yang usai mandi kemudian berdandan siap ke pesta tapi lupa pakai celana dalam.  

Praktek money politik yang sudah tak tabu lagi dalam setiap hajatan pemilu tak urung telah melahirkan pendidikan sesat dan brutal yang akhirnya mematrikan sebuah pemikiran dalam batok kepala masyarakat kita bahwa; siapapun calon yang akan tampil nanti, asalkan  berduit, pasti layak dipilih dan calon tersebutlah yang punya kans memenangkan pertandingan. Sedangkan bagi mereka (kandidat) dengan kemampuan financial yang merangkak, silahkan gigit jari. Jangan harap dihari H nanti suara di TPS akan tembus sesuai yang diharapkan, sekalipun kandidat itu memiliki kapasitas sumberdaya manusia mumpuni dan kwalitas kepemimpinan yang didukung dengan ahlak, wawasan, dan disiplin ilmu yang baik dan memadai.  Bersyukur masih ada anggota keluarga yang komit memilih sebab bukan tak ada kejadian yang jadi bahan olok-olok orang di Mongondow;  “sedang ngana pe ipar nyandak pilih pa ngana. Tapi sudah jo herang, tadi malam ngaana pe ipar dapa serangan fajar dari calon sablah”.  

Miris memang hingga kerap  kuping kita mendengar serentetan ungkapan dari masyarakat; “Sapa ngana pe calon so? Yah, dia dang?  Ndak ada doks dia kong stel  ba calon. Bulum sto mopilih. Doks dulu dang toh. Pokoknya sapa yang ba cair, dia tu torang mopilih. Yang nyandak cair, suruh pilih jo pa tiang listrik”.  

Sedemikian parahnya hingga membuat batin kita tak hanya luruh runtuh bersama akal sehat bak dimutilasi ketika harus menyadari kenyataan tatkala money politik di ajang pesta demokrasi telah ikut menciptakan masyarakat pemilih menjadi masyarakat yang transaksional, oportunis dan materialistis.

Di Mongondow, kita mengenal dua istilah populer terkait money politik. Pertama, yang disebut Malam Bakupas, sedangkan yang kedua Serangan Fajar.  Kita mungkin tidak tahu istilah ini mula-mula dibikin oleh siapa. Masyarakat kita memang nampaknya cukup pintar membikin istilah-istilah yang selain populer juga bermakna olok-olok. Namun kita paham bahwa Malam Bakupas, demikian pula Serangan Fajar, merujuk pada suatu moment atau proses dimana warga pemilih dipengaruhi pilihanya dengan iming-iming uang (juga paket sembako) supaya menjatuhkan pilihanya ke kandidat tertentu. Momen Malam Bakupas umumnya berlangsung pada malam jelang hari H. Sedangkan Serangan Fajar lasim dilancarkan pada subuh atau pagi-pagi buta di hari H. Pada moment itu kaki tangan tiap-tiap kandidat beraksi menjalankan misinya.

Baku ambor  dan abis kalu abis adalah semboyan yang mereka gunakan. Pada moment itu kaki-tangan kandidat seolah berubah wujud dimana mereka nampak seperti sekelompok orang dengan gerak-gerik yang tak ubahnya seperti Ninja, sebagian lagi macam sekompi pasukan elit khusus yang cekatan dalam melancarkan serangan ke target, tak sedikit pula berlagak seperti Robin Hood, juga tokoh-tokoh bijak, filsuf, filantropi dan sinterklas yang sebenarnya tak sedikit diantara mereka itu adalah tukang tipu.

Mereka melangsungkan perang gerilya dibelantara pemilih yang terdiri dari ragam umur, status, golongan dan pekerjaan; dari yang pemula hingga manula, duda hingga janda, tukang tenteng martelu hingga pengusaha sogili, dari tukang roti hingga tukang pasang togel.

Perang gerilya yang mereka lancarkan biasanya berjalan mulus sebab longgarnya pengamatan Panwaslu yang tak punya daya dan upaya dalam menghadang ‘tsunami’ Malam Bakupas dan ‘badai’ Serangan Fajar. 

Lucunya lagi, masyarakat yang sebenarnya sudah berpengalaman dan “terlatih” dalam beberapa kali pesta Pemilu, jauh-jauh hari memang sudah tahu kalau akan ada penyerangan ke wilayah mereka pada moment-moment tersebut. Namun bukanya melawan atau sedikitnya bertahan atas serangan-serangan yang dilancarkan secara 'cetar membahana badai', yang terjadi malah memberi signal kepasrahan kepada pihak penyerang bahwa wilayah mereka belum di serang.  

Model serangan yang diharapkanpun sebaiknya adalah serangan yang dilakukan secara bertubi-tubi, membabi-buta, bumi hangus, tak kenal ampun, tanpa tedeng aling-aling, yang dalam istilah militer Amerika biasa disebut Broken Arrow.

Maka bukanlah sebuah kemustahilan, pada moment tersebut banyak warga yang nanti berkumpul berkelompok baik dipinggir jalan, sekedar duduk-duduk diteras rumah, di warung, atau bagi yang malu-malu kucing dan yang takut kena angin malam boleh-boleh saja berdiam diri dirumah asalkan tak perlu mematikan lampu ruang tamu (yang di hari-hari biasa hal itu tak berlaku) lalu memberi celah agak lebar dan genit pintu rumah supaya menandakan belum dikunci seolah-olah ada anggota keluarga yang sedang ditunggu.  

Perlu pula di catat bahwa semua ketidak-biasaan ini (rumah dengan pintu yang terbuka lebar) masih berlangsung meski jarum jam telah menunjukan lewat pukul 12  tengah malam, dimana banyak orang percaya (tak cuma orang Mongondow) kalau cuma demit dan bayongan dimukud yang keluar bergentayangan di jam-jam begitu.

Kalok sudah sedemikian kronisnya fenomena ini maka, mari kita belajar matematiko Pilwako. (Sudah dekat bro..)

Matematika Pilwako : Mengerangkeng 30 Persen Suara

Tanda aman pertama bagi pasangan kandidat yang bertarung di Pilwako Kota Kotamobagu adalah pasangan yang mampu mencapai angka 30 persen suara dari total pemilih di KK yang berdasarkan DP4 kurang lebih berjumlah 91.000 Jiwa. Untuk mencapai 30 persen dari total pemilih tersebut berarti minimal kandidat harus mendapat dukungan sekitar 27.000 suara.  Jika ilmu matematika sederhana kita pakai dalam mengerangkeng 27.000 suara ini lewat rumus penjumlahan dan perkalian memakai strategi Serangan Fajar atau moment Malam Bakupas, dengan asumsi Rp 150 ribu per pemilih, maka yang perlu dipersiapkan kandidat adalah dukungan dana sebesar Rp 4,5 Milyar. Jika harga dinaikan menjadi Rp 200 ribu per kepala, maka biaya yang dibutuhkan adalah Rp 5,4 Milyar. Selanjutnya karena persaingan pasar antar kandidat yang ketat di kantong-kantong pemilih, maka sudah menjadi hukum pasar kalau harga akan melonjak naik sehingga persaingan ditingkatan pasar akan menyentuh hingga kisaran angka Rp 250 ribu per kepala pemilih sehingga angka bayar juga dinaikan menjadi Rp 250 ribu X 27.000 pemilih = Rp 6,7 Milyar lebih.  Perhitungan 27.000 suara ini adalah suara yang sudah dikerangkeng, diluar tambahan suara dari partai pengusung/pendukung dan dari elemen lain semisal kedekatan atau hubungan langsung dengan kandidat berdasarkan visi misi (meski instrument ini paling jarang), wilayah, kekerabatan, keluarga, ormas, atau karena ketertarikan dari faktor lain, sebutlah karena selingkuhanya si A adalah Tim Sukses dari pasangan kandidat bla..bla..bla...

Pertanyaan kita selanjutnya adalah; pasangan kandidat Waklikota-Wakil Walikota mana yang pada 1 minus H Pilwako KK ini memiliki dana sebesar Rp 6,7 Milyar yang siap-siap di kokang lalu diberondongkan habis ke setiap kepala pemilih dalam sekejap (hitungan jam). Pendistribusianyapun membutuhkan kesiapan mental level super sebab asumsi dasarnya adalah uang harus di ikhlaskan hilang, begitupun pertimbangan resiko jika akhirnya Serangan Fajar ini beresiko hingga ke meja Mahkamah Konstitusi. Jawabanya tentu bisa kita petakan dengan sedikit menelisik latar belakang ekonomi (dan faktor-faktor pendukung yang berpotensi) dari masing-masing kandidat yang sudah menabuh genderang perang untuk baku abis dalam Pilwako Kota Kotamobagu saat ini. Djelantik-Rustam kah? Tatong-Jainuddin kah? atau Matt Jabrik (Ahmad Ishak) yang siapa mengira diam-diam sudah ada Bandar Togel dari Singapura yang siap memback-up sosok wartawan satu ini. Maka jangan tanya soal urusan Malam Bakupas dan Serangan fajar kepada sang Bandar Togel yang cuma menganggap hitungan 10 hingga 15 Milyar adalah  tai kuku alias kacang kacang ona'e...


Terakhir yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, saya sangsi dengan pendapat yang menyebutkan bahwa pemilih KK adalah pemilih rasional (rasional bagaimana maksud ente?), atau disebut pemilih cerdas terlebih dikata sebagai pemilih ideologis. Maaf,  bukanya pesimis atau tak sependapat, namun bagi saya,  untuk urusan Pemilukada/Pilwako dan sejenisnya, sampai dengan tahun ini semua masih bergantung doks. Pendapat ini bukan tanpa alasan apalagi hasil imajinasi yang sembarangan (boleh kita debatkan di Jarod Sinindian). Tapi salah satu alasannya (yang tidak perlu panjang), yakni tatkala daftar pasangan kandidat adalah mereka-mereka yang kini hampir dipastikan akan bertarung pada perhelatan Pilwako KK nanti, maka kekuatan finansial masih menjadi faktor yang sangat memperngaruhi. Asumsi inipun bukan semata-mata dilandasi pengalaman Pemilukada yang terjadi di Bolmong Raya. Dan karena pendapat ini adalah pendapat pribadi maka bukan berarti harus di-ikuti. Saya juga memiliki keyakinan bahwa semua kita hingga saat ini masih senantiasa mengharapkan berlangsungnya Pemilukada/Pilwako dimana masyarakat pemilih mau memberikan partisipasinya di TPS bukan karena doks semata.