Jumat, 20 Maret 2015

Mengukur Kepedulian Negara dengan Program dan Matematika


Anggaplah engkau Chairil Anwar yang mengembara seperti Ahasveroz tatkala ditinggal kekasih, lalu merasa seolah-olah dikutuk-sumpahi Eros sembari merangkaki dinding buta yang tak satu jua pun pintu terbuka. Atau anggaplah engkau Romeo pacarnya Juliet dalam kisah yang ditulis William Shakespeare. Atau (agar lebih local dan familiar) anggaplah engkau Burhan pacarnya Maimunah dalam kisah di sekitar kita.

Tatkala Burhan bersedih dalam duka mendalam karena kalah bersaing dengan Polisi berpangkat Kapten yang menikahi Maimunah, di manakah negara berada ketika gundukan duka itu melempar Burhan ke jurang kepedihan? Lalu di mana pula negara sembunyi ketika Burhan sedang dalam kesusahan? Dan di mana batang hidung negara ketika perabotan rumah, laptop, dan sepeda motor yang dibeli Burhan secara fidusia (kredit) ditarik kolektor perusahaan rente karena menunggak 2 bulan. Padahal jangka kredit dengan kontrak 2 tahun itu, tinggal 5 bulan lunas.

Lalu apa yang dilakukan negara ketika Burhan berniat melanjutkan studinya, namun tak punya cukup biaya. Kemudian apa yang dilakukan negara ketika Burhan sakit tapi tak ada obat, dokter, dan rumah sakit gratis. Apa tindakan negara ketika polisi lalu-lintas menilang Burhan karena pajak kendaraan yang baru lewat beberapa hari lupa dibayar. Apa yang dilakukan negara ketika jalan di desa tempat Burhan tinggal sudah 20 tahun tak pernah diperbaiki. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan terlambat bayar tagihan air dan listrik sehingga sambungan demi kelangsungan hajat hidup itu dipotong petugas PDAM dan PLN. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan tak bisa menunjukkan KTP dan Surat Nikah sehingga tergaruk razia di hotel kelas kampret. Apa yang dilakukan negara ketika Burhan yang bisulan melihat tetangganya sekarat tapi tak ada kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dan ketika pencuri menggasak harta benda milik Burhan, di mana negara ketika itu? Apakah saat itu juga negara mau mengejar pencuri lalu menangkapnya dan mengembalikan semua harta benda milik Burhan yang dicuri itu? Lalu apa pula yang dilakukan negara terhadap Burhan yang minum alkohol karena ia sekedar mengusir ingatannya terhadap Maimunah? Apa, di mana, apa, di mana, dan betapa banyak ‘apa’ dan ‘di mana’ lagi jujut-menjujut seolah tak ada hentinya??

Diantara kita mungkin ada yang pernah berpikir, negara tiba-tiba ada dan senantiasa hadir seketika tatkala penghasilanmu harus dipotong pajak. Negara juga tiba-tiba cepat ada dan hadir seketika saat engkau hendak mendirikan usaha (meski kecil-kecilan) sebab harus mengurus ijin usaha dan sudah tentu harus bayar pajak. Negara juga hanya terasa benar-benar ada dan senantiasa hadir ketika ia datang sebagai kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, atau presiden.

Tapi dalam keseharian kita, negara memperlihatkan wujudnya sebagai kepala dusun, kepala desa, lurah, petugas pajak, polisi, jaksa, atau hakim. Ketika kita hendak menikah, di situ negara hadir. Mengurus KTP di situ juga negara hadir. Mengurus ijin usaha, di situ juga negara cepat hadir. Ketika hendak keluar daerah di situ juga negara ada lewat surat jalan yang dibuat lurah atau kades. Ketika bayi lahir dari kandungan, di situ negara juga hadir sebagai akte kelahiran.

Sebagian dari kita mungkin ada yang menyederhanakan kesimpulannya dengan pendapat yang mengatakan; negara tak lebih dari sekedar hukum. Ketika engkau melanggar hukum, maka disitulah negara ada dan hadir seketika. (terutama ketika sedang kena tilang)

John F Kennedy, mantan Presiden Amerika Serikat pernah berkata; “Jangan tanya apa yang sudah diberikan negara terhadapmu, tetapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada negaramu”.

Sedangkan Karl Marx mengatakan, Negara adalah alat kelas yang berkuasa untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain.

Kalau menurut Prof. Miriam Budiardjo, Negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah.

Sedangkan J.J. Rousseau mengatakan bahwa, kewajiban negara adalah memelihara kemerdekaan individu dan menjaga ketertiban kehidupan manusia.

Lalu jika kita melayang jauh ke jaman Yunani kuno maka, Aristoteles mengatakan, Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa negara menjamin kehidupan berkebangsaan yang bebas merdeka berdasarkan 5 sila. Negara juga berkewajiban melindungi dan menjamin keselamatan setiap warga negaranya, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan rakyatnya.

Ah, sepertinya butuh ruang lebar dan luas lapang untuk sekedar membicarakan ini. Selain itu akan membutuhkan waktu berhari, berbulan, bahkan mungkin bertahun untuk menyelesaikannya. Tapi saya memang tak bermaksud mengurai-bentangkan sejarah negeri ini hingga sebuah negara berbentuk republik dengan nama Indonesia, disusun dan dibentuk oleh para founding father’s.

Tulisan ini lahir semata-mata lantaran mual-mual menyimak berita di koran, internet, dan tipi. Dan sepertinya terusik oleh rentetan pernyataan yang keluar dari mulut para aparatur negara yang belakangan punya hobi dan pendapat seragam terkait perkara narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba). Spesifiknya lagi adalah kekompakan alasan soal kenapa mereka (negara dan aparatur hukumnya) tega melakukan pembunuhan yang sangat berencana sekali terhadap para narapidana kasus narkoba dengan bersandar pada alasan; demi menyelamatkan kehidupan generasi muda; sebab masa depan bangsa ada di tangan generasi muda; mereka (generasi muda) adalah ujung tombak bangsa yang harus diselamatkan; jika generasi muda rusak, maka rusak pulalah bangsa dan negara.

Amboii… bukankah sekarang kita melihat lahirnya logika kepercayaan (dari negara) yang mengatakan, generasi muda adalah mutiara negara yang harus dilindungi. Dan para pengedar adalah penjahat generasi muda yang pantas dibunuh (eksekusi mati). Karena mereka (para pengedar, kurir, dan sejenisnya) adalah mesin mematikan yang telah membunuh generasi muda dengan angka yang alangkah fantastisnya, yakni 51.000 nyawa per tahun. (apa ini betul?)

Baik, kita sepakat dengan niat kepedulian pemerintah (negara) terhadap kehidupan generasi muda. Tapi benarkah demikian adanya? Mari kita nilai kepedulian negara ini dengan matematika. Lha, kenapa harus dengan matematika? Karena kita percaya bahwa matematika adalah ilmu pasti. Tidak bisa diuber-uber sebagaimana ilmu politik dan cabang-cabangnya. Maka, sembari beriman kepada matematika, mari kita buka apakah kepedulian negara itu nyata adanya atau hanya manis di bibir saja.

Mulailah dari desa tempat kita tinggal. Coba cek, program pemerintah apa yang sedang dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda. Ada tidak? Jika ada, maka program apa itu? Bagaimana bentuknya? Kalau tidak ada, mengapa menaruh percaya bahwa negara/pemerintah benar-benar peduli terhadap kehidupan generasi muda sampe nekat membunuh kurir narkotika.

Jika program kepedulian terhadap generasi muda itu ada di kampung Anda tinggal, maka program apa itu? Apakah alokasi dana sebesar Rp 2,5 juta per tahun itu dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan generasi muda?  yang umumnya berjumlah di atas 500 orang per desa? Buat apa dana Rp 2,5 juta per tahun itu? Jika Rp 2,5 juta itu dibagi rata untuk 500 pemuda, maka Rp 2.500.000 : 500 Pemuda = Rp. 5.000 per pemuda.

Jadi ada Rp. 5000 di kantong 500 pemuda yang diberikan negara sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang agar tidak merusak dirinya dengan cara membeli dan menjadi pecandu narkotika.

Selanjutnya, uang yang gak cukup beli seporsi nasi ini  pun harus dihemat untuk dibelanjakan selama selama 1 tahun atau 12 bulan atau 365 hari.

Jika pemuda yang dapat dana kasih sayang sebesar Rp. 5.000 per tahun harus menghemat uang tersebut, maka berapa nominal perhari yang harus dibelanjakan agar uang kepedulian itu dapat bertahan selama 365 hari (1 tahun)? Maka kita ambil kalkulator dan hitung,  5.000 : 365 = 13,69XXXXXX.... (benar-benar angka sial men!)

Masya Allah,  apa yang dapat dibeli dengan Rp 13 itu?  Sungguh sebuah pelecehan. Bayangkan bro, bayangkan Burhan, pewaris dan penerus masa depan bangsa dikasih 13 rupiah per hari. Preek!

Bagaimana pula kalau jumlah pemuda di kampung lebih dari 500 orang? Segera lempar kalkulator ditanganmu itu Burhan sebelum minus 0,0XXXXXXXX muncul di layar dan membuatmu tak berselera untuk sekedar gosok gigi. Jangan sampai Rp 13  atau minus 0,00 itu akan membuat asam lambungmu naik hingga engkau benar-benar punya niat bunuh diri, atau dengan terpaksa mencari pelarian atas tragedi yang baru kau sadari itu. Menjerumuskan diri ke lembah hitam, misalnya. Semacam jadi begal motor, kurir, arau pecandu kelas tengik.

Lalu, kenapa pemerintah dan aktivis-aktivis pendukung hukuman mati, betapa tidak tahu malunya mengumbar bacotnya di media massa yang secara berulang-ulang dan kompak (seperti dihafal) mengatakan begini; "Ini demi keselamatan generasi muda selaku pewaris masa depan bangsa".

Negara yang menganggap generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa tetapi menelantarkannya, bukankah sama halnya dengan seorang suami pemabuk, menelantarkan anak istri, pelit pula, tetapi selalu minta dilayani meski pada tengah malam buta hingga subuh menjelang? Dan sebagai pemberian tahu pada anak istri bahwa si suami benar-benar peduli dan melindungi masa depan anak-istri, sang suami tak segan-segan membunuh tetangga atau anggota keluarga sendiri gara-gara anak-istrinya 'dijerumuskan' dengan cara mencampur telur dadar dengan jamur tahi kuda, supaya mereka dapat makan dan tahan lapar sehingga kuat menjalani hari sekaligus melayani suami, sembari tetap mempertahankan indeks kebahagiaan atas pelarian dari bencana hidup yang dialami gara-gara terikat hukum pernikahan dengan sang suami pemabuk, pelit, menelantarkan anak-istri dan sebenarnya gagal dalam membina rumah tangga?

Hanya suami sakit, gagal, dan tak tahu malu yang nekat membacot di hadapan publik dengan omongan; “Jangan tanya apa yang telah suami berikan kepada kalian, tetapi tanyakanlah apa yang telah kalian berikan pada suami”.

Apalagi alasan dia membunuh anggota keluarga dan tetangga yang memberi (padahal diminta) telur dadar campur mushroom kepada anak-istrinya (yang sebenarnya ia terlantarkan karena ia sibuk ngurus politik), adalah karena ia begitu merasa peduli kehidupan dan kesehatan anak-istri, dan tak akan pernah memaafkan anggota keluarga maupun tetangga yang dianggapnya telah menjerumuskan anak-istrinya ke dalam bencana hidup. Helloooooo….??? Negara dan suami macam apa itu?

Bagi istri-istri yang berpikir, pasti akan menuntut CERAI, atau segera meninggalkan secara malintang deng manta-manta pa depe laki! :p

Tulisan terkait :

Matematika dan Kecurigaan Kita