Kamis, 05 Maret 2015

Sekelumit Rasa Tentang [Masih] Dunia Lain


Jangankan mendefinisikan geliat rasa yang melongok berkeluk-keluk dalam dada, untuk mencari kata yang sekedar tepat saja, saya masih merasa kesulitan terkait reaksi apa yang jujur saya rasakan saat pertama kali menonton [Masih] Dunia Lain. Sungguh saya seolah kehilangan kata-kata, sehingga di situ, kadang saya merasa tak perlu sedih. 

Namun setelah digumuli dengan sabar tanpa perlu merasa putus asa, apalagi muntah-muntah lalu nekat bertindak bodoh setelah berhasil mendapatkan obat serangga, tak ada kata yang lebih tepat dimunajatkan ke Tuhan Yang Maha Kuasa agar senantiasa menjaga kesehatan Nico Oliver dan Citra Prima beserta semua kru yang terlibat dalam [Masih] Dunia Lain di Trans 7.

Berlimpah puji, rasa hormat, haru, bangga, dan pengakuan penuh takjub, pantas kita kalungkan ke leher mereka. Dan bukankah sesama anak bangsa harus saling dukung dan selayaknyalah bongkah-bongkah penghargaan kita usungkan atas bakat, karya, dan dedikasi mereka terhadap ilmu yang tak semua orang bisa memilikinya.

Lalu, negara dan bangsa mana yang begitu tega membiarkan kejeniusan, keunikan, dan keunggulan (3K) warganya, dicomot secara komersil oleh perusahaan media untuk tampil menakut-nakuti penduduk negeri—dari Merauke hingga Sabang—lewat tayangan program reality show se-sukses [Masih] Dunia Lain di Trans 7?

Padahal 3K yang dimiliki oleh Nico Oliver dan Citra Prima, betapa tidak dimiliki manusia lain di belahan negara dan bangsa manapun di dunia ini, sehingga apalah arti seorang Albert Einstein dibanding Nico Oliver dan Citra Prima yang tak usahlah difitnah sebagai tukang tipu penduduk negeri?

Tayangan [Masih] Dunia Lain di Trans 7 sebenarnya menambah kesadaran kita bahwa wilayah nusantara ini tak hanya dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang gemah ripah lo jinawi, tetapi diberi pula kelebihan mulia yang diturunkan kepada orang seperti Nico Oliver dan Citra Prima dan segenap kru—begitupun bintang tamu—yang terlibat dalam [Masih] Dunia Lain.

Badan antariksa Amerika Serikat boleh pulang pergi ke bulan dan menaruh robot di permukaan planet Mars. Tetapi adakah orang NASA punya kemampuan berdialog langsung dengan mahluk gaib? Bertegur sapa dan ber-assalamullaikum-man dengan mahluk astral penunggu pohon mangga  dan siluman 3 ekor macan?

Kejeniusan dua orang fisikawan Francois Englert dari Belgia dan Peter Higgs dari Inggris peraih penghargaan Nobel Fisika tahun 2013, tentu bukan apa-apa dibanding Nico Oliver dan Citra Prima yang telah melompat jauh lebih maju menembus ruang massa.

Francois dan Peter yang merupakan penemu teori “Higgs Boson” atau yang mereka sebut “Partikel Tuhan” membutuhkan waktu hampir 50 tahun dalam memulai penelitian intensif untuk menemukan apa yang dijuluki "Partikel Tuhan" tersebut.

Berbeda dengan Nico Oliver dan Citra Prima, kedua warga Indonesia yang dianugerahi 3K ini, tak butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat menembus ruang dan waktu kemudian berdialog dengan mahluk gaib.

Tapi apalah artinya Nico Oliver dan Citra Prima tanpa menggandeng seorang pria bersorban putih yang menambah kesadaran kita kembali bahwa Indonesia memang dikarunia manusia-manusia unggul yang memiliki banyak kelebihan unik dan gaib. 

Dialah Muhammad Arif Budiman atau dalam tayangan [Masih] Dunia Lain dikenal dengan sapaan Kang Arif.

Sembari berkomat-kamit melafalkan doa terlebih dahulu, Kang Arif memulai percakapannya dengan jin, syaitan, hantu gentayang, arwah penasaran, perempuan jelmaan macan berekor panjang, terkadang siluman ular dan buaya, dan segala demit beserta jin turunannya. Biasanya Kang Arif memulainya dengan mengucapkan Assalamualaikum kepada jin dan sebangsanya itu melalui peserta Uji Nyali di acara [Masih]Dunia Lain.

Terkadang dengan sedikit gerakan silat yang dibuat-buat, Pimpinan Majelis Zikir Silahturahmi Umat Cahaya Illahi ini, mengusir syeitan dari dalam tubuh peserta Uji Nyali (segmen dalam [Masih] Dunia Lain) sembari menempelkan telapak tangannya di wajah peserta yang kemasukan jin.

Pembaca, melihat kelebihan Kang Arif saat berdialog dengan syeitan, kadang di situ saya tidak merasa sedih apalagi mual-mual. Terlebih lagi  di saat Kang Arif yang berilmu tinggi itu berhasil pula mengusir syeitan—yang hobi mendesis-desis lewat mulut peserta—cukup sekali tepuk di punggung.

Saya justru merasa amat khawatir dan kasihan kepada peserta yang kecapean, sehingga terkadang di situ sekonyong-konyong saya berdoa—daripada sedih lalu muntah—agar peserta diselamatkan dari amukan perempuan jelmaan macan ekor panjang. Bagaimanapun juga peserta itu adalah seorang pemuda yang butuh diselamatkan karena sebagaimana kata Jaksa Agung HM Prasetyo; sudah kewajiban bersama menyelamatkan generasi muda Indonesia karena masa depan bangsa ada di pundak generasi muda.

Tapi betapa sedihnya saya karena seorang mahasiswa jurusan Fisika ITB, Anike Nelce Bowaire (dari Papua), yang memperoleh penghargaan First to Nobel Prize in Physic 2005 dalam Kejuaraan Fisika Dunia di Amerika, kemungkinan tidak pernah menonton acara yang mungkin ada kaitannya dengan ilmu Fisika. 

Oleh sebab itu saya senantiasa berdoa—hal yang sudah lama saya tinggalkan—agar Anike yang belajar di  Massachusetts Institute Of Technology (MIT) Amerika Serikat, sekali waktu saja menyempatkan diri menonton reality show ini. Sebab sia-sialah dirimu Anike belajar di Universitas yang melahirkan paling banyak pemenang Nobel dunia, tanpa pernah tahu ada Nico Oliver, Citra Prima, dan Kang Arif  yang betapa pantasnya pula menerima penghargaan Nobel di bidang Fisika, Metafisika, atau entah apapun nanti namanya yang akan disebutkan dewan juri nanti. (Semoga Anike membaca tulisan ini)

Tapi, saya juga tiba-tiba ingat  Yonatan Mailoa. Pada bulan Juni Tahun 2006 silam, saat ia masih merupakan siswa kelas 3 SMA Penabur BPK, Yonatan berhasil merebut Medali Emas Fisika Dunia, setelah memenangkan kompetisi yang diikuti oleh 356 peserta dari 85 Negara. Setahun berikut, usai menamatkan SMA, sama seperti Anike, pada bulan Juli tahun 2007, Yonatan melanjutkan kuliah di MIT – Massachusets Institute Of Technology, Amerika Serikat.

Kemudian, siapa diantara kita yang pernah membuka sebuah majalah politik terkemuka di Amerika Serikat, ”Foreign Policy” yang merupakan majalah yang masuk jaringan group Washington Post?
Pada edisi Mei 2008 silam, majalah itu menempatkan orang kita Dr. Anis Baswedan (sekarang menjabat sebagai Menteri Pendidikan era Presiden Jokowi), sebagai salah satu dari 100  ”World public intelectuals”, sejajar dengan Al Gore, Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Umberto Eco, Lee Kuan Yew, sejarawan India – Ramachandra Guha dan Penulis Fareed Zakaria.

Dan tengoklah pula di Silicon Valley pusat ITC termasuk pabrik Microsoft di Amerika Serikat, ada 100 ahli IT asal Indonesia yang bekerja di sana. Bahkan konon banyak juga ahli asal Indonesia yang bekerja di NASA.

Ah, seandainya saja kelak ilmu riset teknologi mulai berkembang di sini sebagaimana yang coba dikembangkan anak-anak SMK (meski dapat protes kaum berisik), ratusan tenaga ahli asal Indonesia yang ada di Amerika Serikat pasti akan pulang kampung.

Tapi apalah arti orang-orang itu dibanding Nico Oliver, Citra Prima dan Kang Arif yang sudah bisa berdialog langsung dengan mahluk astral.  Ahli-ahli di bidang IT asal Indonesia ini tentu akan ternganga-nganga melihat kemampuan Nico Oliver, Citra Prima, dan Kang Arif. Sehingga sadar dan malulah mereka ketika selama ini berpikir bahwa ilmu yang mereka milikilah yang lebih maju dan diperlukan dunia terutama rakyat Indonesia. 

Maka perasaan yang menyadari bahwa ternyata mereka tak ada apa-apanya dibanding ilmu gaib yang dimiliki Nico Oliver, Citra Prima dan Kang Arif, negara harus segera menyelamatkan para ahli IT ini sebelum pada akhirnya mereka bunuh diri dengan cara mematuk-matukkan kepala ke tembok karena frustasi dan akibat rasa malu yang akut terhadap keadaan negeri dan penduduknya.

Pembaca, sampai di sini, kenapa kita tidak mengusulkan kepada pemerintah; kiranya kelak, ketika Nico Oliver, Citra Prima dan Kang Arif ini menemui ajalnya nanti, mereka tidak usah dikuburkan. Sebaiknya jasad mereka diawetkan untuk kemudian dimuseumkan. Agar kelak, generasi mendatang nanti akan mengetahui bahwa ketiga orang ini adalah orang-orang pilihan dan memiliki keunggulan yang luar biasa hebatnya. 

Kepada Menteri Pendidikan Dr. Anis Baswedan, kita juga dapat mendesak beliau agar memasukkan ilmu kanuragan dan apapun itu istilahnya yang Nico Oliver, Citra Prima dan kang Arif miliki, ke dalam kurikulum pendidikan di tahun-tahun mendatang.

Menteri Luar Negeri, ragam forum dan lembaga riset, serta lembaga swadaya masyarakat di Indonesia, selayaknya kita dorong untuk berjuang menyuarakan ke dunia internasional, agar menghadiahi penghargaan Nobel Supranatural kepada Nico Oliver, Citra Prima, dan Kang Arif. Begitupun kepada para bintang tamu [Masih] Dunia Lain , salah satunya model dan koki seksi Aiko Sarwosari yang beberapa kali muntah karena kerasukan tatkala melihat sosok siluman harimau dan hantu perempuan murung pada segmen uji nyali [Masih] Dunia Lain.

Tapi apakah ini akan terwujud? Panitia penghargaan Nobel nampaknya akan kerepotan karena tengoklah daftar reality show berikut; Mister Tukul Jalan-Jalan, Dua Dunia, Late Night, dan masih banyak lagi.

Menonton tayangan reality show tersebut, dimana semua presenter dan bintang tamu seksoi berkening lancip bisa dengan begitu mudah melihat dan bercakap-cakap dengan syeiton, di situ kadang saya merasa sende’en.