Minggu, 15 Maret 2015

Matematika dan Kecurigaan Kita



Saya tidak berani, apalagi tega, untuk semena-mena memastikan bahwa, anak-anak Mongondow seusia saya ketika itu, usai menamatkan SD dan melanjutkan ke jenjang berikutnya, punya kecemasan sama seperti yang saya alami terkait mata pelajaran Matematika. Namun yang jelas, di masa yang telah silam itu, saya menyadari, betapa payahnya diri ini untuk sekedar bersorak secara munafik di dalam kelas dan hanyut dalam euforia yang tak kalah munafiknya ketika seolah-olah berhasil mengerjakan soal Matematika, pada beberapa tahun yang telah lampau ketika tercatat sebagai siswa SMP Negeri 1 Kotamobagu.

Matematika yang sebelumnya saya mamah-biak secara enteng saat masih di bangku SD, tiba-tiba jadi mumet di kepala tatkala deretan rumus dan sebutan yang membacot seperti; contingent, alfa, cosinus, beta (dan anak-pinaknya), menjadi seperti untaian bencana yang berkeluk-keluk dan malimbuku secara tengik di kepala hingga berefek pada naiknya asam lambung, dan yang terparah adalah diare.

Mulanya saya memang menganggap bahwa mata pelajaran matematika hanyalah ledakan kesenangan yang dirasakan tatkala berhasil mengerjakan soal-soal terkait pembagian, pengurangan, perkalian dan penambahan, sebagaimana yang pernah saya rasakan di bangku SD.

Tenyata saya keliru. Penjelasan soal diagonal sisi, diagonal bidang seluruhnya, persamaan kuadrat, bujur sangkar, segitiga siku-siku, logaritma, dan kemumetan-kemumetan lainnya, benar-benar telah merampas kenyamanan dan rasa ganteng di dalam kelas. Apalagi rata-rata guru matematika di jaman itu adalah para ‘killer’ yang bicara dengan mistar, cubitan pedih, dan tak jarang berbentuk tamparan menyakitkan (tentu pula memalukan) tanpa mereka para pendidik itu perlu khawatir kalau tindakan itu melanggar HAM. (terima kasih atas tumbangnya Orba).

Dan betapa memalukannya ketika engkau (yang payah matematika) sengaja dipilih bapak/ibu guru (tentu dengan niatan busuk) untuk tampil di depan papan tulis lalu disuruh mengerjakan kerumitan soal, padahal mereka tahu betul bahwa engkau adalah siswa yang tak hanya payah tapi tuna-rumus. Terkadang kita memang merasa sedih membayangkan peristiwa ini; kau buta rumus, payah matematika, dan guru-gurunya adalah para 'killer'. Ah, betapa ada babak-babak dalam hidup kita di jaman kanak dulu yang kenyamanannya benar-benar terampas.

Maka, tak ada ruang belajar yang lebih berguna (benar-benar terbukti berguna), saat jam Matematika akan masuk, saya sudah duluan minggat dari kelas dan temukanlah saya di Kolam Renang Stadion Gelora Ambang. Siapa sih diantara kita pada masa itu (siswa-siswi) yang mau di-bully; ganteng-ganteng tolol atau cantik-cantik tapi goblok rumus pythagoras. (tepuk jidat).

Maka di situ (Kolam Gelora Ambang) saya merasa lebih berguna, berbobot, dan tentu tetap merasa ganteng, sehingga betapa merdekannya saya mempraktekkan gaya punggung, gaya bebas, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya selam, gaya salto bahkan loncat indah dari ketinggian 10 meter yang menuai aplause meriah kakak-kakak putih abu-abu yang ternyata sudah duluan ada di sana.

Tak jarang saya berhasil mempengaruhi teman sekelas untuk keluar dari jam matematika dan mencari manfaat lain (belajar berenang misalnya) ketimbang harus nampak bodoh dan munafik di bangku deretan belakang, atau jadi saksi dengan hati dibebani rasa iba dan campur-aduk yang gimana gitu, ketika harus menyaksikan bagaimana pedihnya mistar itu membabat betis dan pantat siswi (bunga kelas yang kau taksir), karena kepayahannya terhadap soal matematika dan lupa mengerjakan PR. Ini belum termasuk jadi korban bully ketika disuruh berdiri di atas bangku atau dilempar bantalan penghapus (dengan efek dramatis berupa debu putih yang mengepul) karena nampak bak keledai yang cengar-cengir dengan keadaan bodoh karena kepayahan menyelesaikan contoh soal di papan tulis.

Tapi menggencarkan ‘agitasi propaganda’ terhadap teman sekelas untuk mensubstitusi pelajaran matematika (sekali-sekali maksudnya) dengan mata pelajaran Penjas (renang misalnya), bukan tak melahirkan perdebatan dan adu argumen. Oleh sebab itu urat leher saya harus selalu timbul demi meyakinkan paham kepada teman bahwa, tak usah merasa langit seperti runtuh hanya karena bolos mata pelajaran Matematika sekali-sekali saja, sebab pelajaran Matematika hanya sekedar permainan kepintaran di ruang kelas belaka. Sedangkan di luar kelas, Matematika kehilangan eksistensi kecuali dalam kepentingan bertransaksi. Ketidak-berdayaan Matematika terbukti ketika ia tidak bisa diandalkan sehingga gagal menjadi keahlian pribadi yang menyelamatkan. Artinya, Matematika hanya ada dan hidup dalam realitas kelas (sekolah) sedangan dalam realitas sosial (luar sekolah), Matematika tidak memberikan banyak manfaat.

Kepada beberapa teman, saya lantas mencontohkan, misalnya ketika pulang sekolah lalu engkau dihadang sekelompok pemalak (anggap begal di jaman sekarang), tidak mungkin keahlian Matematika yang dimiliki akan menyelamatkanmu. Kecuali terapan ilmu yang ada di Penjas yakni; Sprint 100 Meter, Marathon, atau mengandalkan tendangan Karate.

Ambil contoh pula ketika kapal yang engkau tumpangi hendak karam, tidaklah mungkin engkau mengandalkan pengetahuan matematis dengan terlebih dulu mencari kertas buram lalu mencakar-cakar rumus di situ lalu membahagi kurung dan mengalikan berapa kedalaman laut dikalikan dengan berapa derajat kemiringan kapal, kemudian dibahagi-kurang dengan jumlah penumpang. Sebab dalam keadaan begitu, keahlian matematis sama sekali tidak diperlukan. Tetapi jika engkau jago renang, maka keselamatan diri dapat dijamin. Begitupun ketika ada orang tua berteriak-teriak histeris melihat putrinya yang cantik sedang diseret ombak, tak mungkin orang tua si tuan putri akan berteriak kepada khalayak di kapal; “siapa yang jago Matematika di sini? Tolong selamatkan anak saya dan sebagai hadiah, kalian akan saya nikahkan”.

Pendek kata, di jaman itu, bagi saya Matematika hanyalah permainan kepintaran yang hanya berlaku di dalam kelas saja dan sebagai penambah nilai rapor. Sedangkan di luar kelas, Matematika dengan rumus-rumusnya betapa payah menjadi peganggan atau keahlian diri yang menyelamatkan. Cukuplah sudah Matematika merampas dan meneror rasa nyaman dalam ruang kelas kita sejak di bangku SD hingga SMA. Dan biarlah Matematika hanya dikejar oleh mereka yang benar-benar tertarik dan serius dengan kubus, persamaan kuadrat, contingent, alfa, cosinus beta, segi-tiga sama kaki, dan pada aljabar.

Oleh sebab itu saya selalu bersyukur, tabiat mensubstitusi Matematika dengan Kolam Renang Gelora Ambang pada masa yang silam itu, benar-benar berguna di episode kehidupan saya selanjutnya. Tak usah dijejer record yang pernah dicapai. Begitupun kisah-kisah haru, romantis, menyenangkan, dan kepahlawanan (Ekheeem..) gara-gara skill jago renang yang dimiliki. Tapi betapa menyenangkan ketika saya diterima dan bekerja dengan orang luar Mongondow di Diving Center sebuah Resort yang letaknya di pulau jauh dengan terumbu karang dan pasir putih nan indah, dimana 98 persen tetamunya bermata bak kucing di rumah Ibu. Di situ kadang saya ikut memanggang kulit dibawah terik matahari bersama para pemilik mata kucing ini selama 1,5 tahun.

Baiklah, itu hanya sepenggal kisah di suatu masa yang telah berlalu, dimana Matematika adalah bencana dari rasa nyaman dan keceriaan dalam kelas. Sekarang kita berada pada era dimana Matematika tiba-tiba berubah menjadi hal yang sungguh mencurigakan.

Saking mencurigakannya, kita perlu mendapatkan penjelasan dari mereka para jago matematika yang di hadapan penduduk Indonesia mengatakan; setiap tahun ada 51.000 orang meninggal lantaran narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba).

Dan tak kalah menggetarkannya lagi sampai dada sesak dan nalar kita yang payah matematika seperti tak henti-hentinya dibully adalah, pengumuman yang sering diumbar dan dikutip-kutip seolah itu merupakan kebenaran yang turun dari langit dengan keimanan yang mengatakan bahwa; setiap hari ada 50 nyawa generasi muda melayang sia-sia gara-gara narkoba.

Sehingga jangankan Kejagung dan Kepala BNN, Presiden RI Jokowi pun ikut-ikutan mengumbar sabda dari kengerian yang betapa mengundang curiga itu.

Lalu pernahkah kita mendapat penjelasan bagaimana angka itu didapat? Tidakkah pula kita menaruh curiga kalau angka-angka yang didapat itu diperoleh hanya dengan cara memetiknya di sembarang tempat? Seperti ketika kita begitu mudah memetik daun berulat di halaman sekolah jaman SD dulu lalu menakut-nakutinya kepada teman sebaya putri yang lari terbirit-birit sembari menjerit?

Semoga tidak demikian. Sejak di bangku SD, Guru Agama telah mengajarkan kepada kita agar tak boleh berprasangka buruk. Maka tanpa suudzon, kita anggap saja bahwa angka-angka yang diperoleh itu adalah hasil perbuatan para jago matematika negeri ini yang mereka dapat tak hanya dengan mengkhayal. Soal rumus apa yang dipakai, merekalah yang paling tahu.

Tapi sepayah-payahnya kita dengan matematika—meski tidak demikian kalau dalam urusan bertransaksi—sepertinya harus nekat bertanya; apakah angka itu diperoleh dengan cara membagi jumlah penduduk republik ini dengan angka para pengguna narkoba? Dan hasil yang didapat dari pembagian itu adalah populasi yang membuat kita mudah mengidentifikasi setiap orang yang berpulang ke alam baka gara-gara narkoba? Coba cocokkan dengan populasi tempat kita masing-masing berada dan mulailah menghitung? Begitukah?

Tanpa berburuk sangka sembari tetap berjabat-tangan dengan kelompok anti-narkoba, kita juga punya pertanyaan begini; apakah ada pengklasifikasian jenis narkoba terkait kematian yang disebabkan barang berbahaya itu? Sebab bukankah absurd dan merupakan generalisasi yang semena-mena jika pengklasifikasian yang menyebabkan kemampusan itu tidak ada?

Ah, mulai rumit dan mencurigakan bukan?

Baiklah kalau begitu. Sebaiknya mungkin begini, kepada siapapun pembaca yang jago matematika, boleh mengirimkan penjelasannya via email di uwinmokodongan@gmail.com

Tentu akan sangat menyenangkan jika kita dapat menikmatinya secara bersama-sama di Leput. Sehingga Matematika tak hanya sekedar permainan kepintaran di dalam kelas belaka, apalagi momok mengerikan yang telah merampas kenyamanan anak-anak sekolah (terutama bagi yang merasa ganteng dan yang merasa cantik), dan tidak dijadikannya Matematika sebagai alat untuk menakut-nakuti yang alangkah mencurigakannya. Sehingga sepayah-payahnya nalar kita menerima Matematika, tidak se-enteng itu untuk terus diteror apalagi digoblok-gobloki.