Rabu, 25 Februari 2015

Palu Arit di Dada Putri Indonesia 2015


Sepulang dari Warung Kopi Korot Jalur Dua Kotobangon, usai membahas rencana penggarapan film pendek berjudul "Melly" bersama para sahabat photografer Kotamobagu, nada SMS di handphone saya berbunyi.

Saya baru tiba di kampung Passi dua malam lalu itu, dan baru saja membuka pintu Rumah Pemuda Merdeka (RPM), tempat saya biasa berkumpul dengan teman-teman pemuda di kampung yang haus akan pencarian ruang kreasi dan pemikiran-pemikiran non-mainstream.

Ketika melepas ring bag berisi notebook yang tak bekerja lagi karena beberapa bagiannya meminta untuk dipreteli tukang komputer, saya berselonjor di kursi yang akan melahirkan debat jika disebut sofa.

Pesan itu lantas saya bukan dan pada pokoknya berisi tentang gegernya foto yang diunggah Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri, di akun Instagram miliknya. Buntut dari unggahan foto itu, Anindya jadi buah bibir kalangan Netizen.

Apa pasal hingga foto itu jadi buah bibir netizen dan aktivis medsos? Rupanya bukan semata soal predikat yang berhasil disabet Anindya di ajang Puteri Indonesia 2015, melainkan foto diri sang putri yang mengenakan caping dan kaos berwarna merah dengan gambar palu arit di dada.

Usai berbalas-balasan sebentar, saya lantas izin pamit lalu masuk ke jaringan menelusuri tautan itu (yang dikirim teman via chating) sekadarnya saja.

Tak lama kemudian saya kembali, dan lahir untaian tanya; lantas apa yang dianggap penting dengan gambar di dada Puteri Indonesia itu? Terlebih ada kelompok yang meradang seolah langit runtuh dan cepat membenarkan bahwa memang ada bahaya laten (dari dada itu) yang kini terpampang secara membahana badai dan nyata di pelupuk mata, untuk kemudian (mungkin) harus dibasmi hingga ke akar-akarnya?

Pembaca, di jaman pasca reformasi yang sudah berjalan selama 17 tahun ini, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat simbol palu arit? Penyiksaan di lubang buayakah? Sebagaimana yang digambarkan dalam film ngaco buatan rezim pamarentah orde baru Soeharto, dimana PKI ditampilkan sebagai sekawanan mahluk buas yang tak berperi-kemanusiaan dan tak bertuhan?

Jika itu jawabannya, maka tak bisa disangkal lagi, Anda masih merupakan pasien orde baru (Orba) korban propaganda dan cuci otak rezim Soeharto dan kroninya, sehingga siapapun yang memakai kaos bersimbol palu arit (meski di era Android), Anda akan dengan picik menuduh bahwa si sampean itu pendukung PKI, atau berprasangka bahwa para sampean itu adalah produk bahaya laten generasi ketiga yang terbukti tak ada matinya. (Tak tahukah Anda bahwa komunisme telah lama runtuh di NKRI dan bangkrut di negara asalnya, Soviet).

Sejak 1965, ratusan juta rakyat Indonesia memang disusupi kepercayaan bahwa PKI adalah pelaku penculikan sekaligus pembunuhan 7 jenderal. Dan pada tahun-tahun selanjutnya, kepercayaan itu semakin terpelihara secara laten ketika kita disuguhi film yang nyata-nyata adalah bahan propaganda Orba. Meski (sebenarnya) dalam film itu juga kita menyaksikan adegan penculikan dan pembunuhan terhadap para jenderal, justru dilakoni pasukan Cakrabirawa (TNI) yang dikomandani Letkol Untung. Dan adegan demi adegan selanjutnya (selain siksaan), adalah; kita menyaksikan peperangan antara tentara melawan tentara,  bukan tentara (TNI) melawan anggota partai (PKI).

Sudah, saya enggan memposisikan diri bak sejarawan sekaliber Anwar Gonggong, lalu masuk lebih dalam mengurai-bentangkan sejarah pergerakan komunisme dunia maupun peristiwa Gestapu di negeri ini. Tetapi adakah ratusan juta rakyat Indonesia saat ini tahu; ada setengah juta rakyat Indonesia (yang disangka dan dituduh sebagai simpatisan dan anggota PKI) dibantai pada era 65-66? Dan ada berapa puluh ribu dari mereka yang luput dari agenda pembantaian itu, dipenjarakan dalam kamp konsentrasi Pulau Buru atau penjara lainnya di negri ngeri ini tanpa proses pengadilan?

Kemudian, pernahkah rakyat Indonesia yang ratusan juta ini membaca kesaksian para pembantai (genosida) ratusan ribu warga yang dituduh PKI itu dalam buku yang diterbitkan Tempo Publishing berjudul; Pengakuan Algojo 1965? Bagaimana pula dengan pengakuan para algojo lainnya sebagaimana yang secara gamblang mereka kisahkan (bahkan lewat film/reka ulang) pada Josua Oppenheimer lewat film dokumenter berjudul Jagal (The Act of Killing). Dan apakah kita rakyat Indonesia sudah menonton sekalius mendengarkan secara seksama dan berulang-ulang terkait kesaksian para pembantai warga yang dituduh PKI itu sebagaimana pengakuan mereka (para algojo) dalam film dokumenter berjudul; Senyap (The Look of Silence)?. Tahukah kita ada berapa juta rakyat Indonesia yang terdiri dari mamak-mamak dan bapak-bapak, om, tante, anak, ponakan, kakek, nenek, dibantai karena mereka itu dituduh simpatisan dan anggota PKI?

Tahukah kita tentang kesaksian para pelaku pembantaian terhadap warga yang dituduh PKI itu soal bagaimana (para algojo itu) memotong payudara seorang perempuan yang dituduh anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia)? Atau kita mungkin bisa tahan melihat bagaimana para pembunuh itu (mengaku secara blak-blakkan) harus minum darah warga (yang dituduh PKI) yang mereka bantai itu, supaya mereka (para algojo itu) tidak ketakutan atau menjadi gila karena perasaan bersalah yang nanti menghantui usai melakukan pembantaian? Atau bagaimana Anda selaku Kakak yang menyerahkan adik perempuannya (yang disangka Gerwani) kepada sang algojo untuk ditusuk perutnya, dipotong payudaranya dan digorok lehernya? Siapa sebenarnya yang lebih buas, beradab, dan bertuhan? Dan pernahkah mendengar pengakuan para algojo itu yang dengan terang benderang mengatakan bahwa kekejaman mereka melebihi kekejaman sebagaimana yang ditampilkan rezim Soeharto dalam film G 30S/PKI?

Pembaca (dimanapun Anda berada), saya tak punya kehendak untuk mendudukkan simbol palu arit itu pada area benar atau salah ketika harus memakainya baik dalam bentuk kaos, emblem, atau merek celana dalam sekalipun.  Ketika kita melihat sebuah simbol itu dari sisi tidak baik, keluarnya juga pasti tidak baik (begitupun sebaliknya).

Palu arit memang lambang komunisme di dunia. Palu mengasosiasikan kaum buruh, dan arit mengasosiasikan kaum tani. Palu arit adalah simbol persatuan antara kaum buruh dan kaum tani. Partai komunis di dunia mengadopsi simbol ini termasuk di Indonesia.

Jika kita melihat simbol palu arit yang dikenakan putri indonesia itu sebagai bentuk dukungan dirinnya terhadap PKI (yang digambarkan tak bermoral dan tak bertuhan) maka bukankah kita telah melihatnya dari sisi negatif dan agak dungu? Dan benarkah bahwa setiap anggota partai komunis itu langsung kita cap tak bermoral dan tak bertuhan? Atau tidakkah kita sadar bahwa PKI sudah lama sirna bahkan dilarang tumbuh di Indonesia? Jangankan anggotanya, warga yang disangka simpatisan saja tak luput dari pembunuhan.

Sampai di sini akan ada mungkin suara lantang berkata; kalau memakai palu arit itu boleh, berarti boleh juga dong pakai lambang ISIS atau simbol-simbol kekejaman Nazi di jaman Hitler?

Sekali lagi, saya tidak punya kehendak apalagi menyarankan bahwa simbol palu arit itu baik atau malah buruk untuk dipakai. Tetapi kita harus ingat bahwa, peristiwa Gestapu 1965 baru disampaikan lewat satu versi saja, dan itupun versi dari pemerintah. Ketika orde baru berkuasa dan ada itikad suatu kelompok menelisik peristiwa itu untuk sekadar mendapatkan kebenaran sejarah atau minimal ada data pembanding, maka bukan sedikit yang dipenjara tanpa pengadilan. Menelisik kebenaran soal itu di jaman Orba, sama saja dengan cari mati. Dan rentetan pembantaian pasca Gestapu itu, sudah cukup membungkam para sejarawan kita. Ini jelas mengartikan bahwa PKI dan sejarahnya di Indonesia betapa terpental begitu jauh dengan Nazi Hitler yang untaian fakta sejarahnya jelas dan begitu banyak catatan peristiwa pembanding dan terkonfirmasi. Sedangkan soal ISIS, kita sudah bisa tahu bagaimana track record milisi itu sejak kemunculannya.

Kembali kepada Anindya, kepada Tempo.co, ia mengaku memperoleh kaos merah dengan simbol palu arit itu, dari rekannya asal Vietnam. Dia mengenal sahabatnya itu melalui jejaring pertukaran pelajar yang aktif ditekuninya saat kuliah.

"Kaus itu diberikan kepadaku empat tahun lalu," katanya kepada Tempo, Selasa, 24 Februari 2015.

Disampaikan pula olehnya bahwa pertukaran bingkisan itu menurutnya adalah hal yang lumrah. Sesama mahasiswa pertukaran pelajar, dikatakannya, akan membawa suvenir khas daerah asal. Ia juga mengatakan bahwa foto dalam akun Instagram miliknya itu merupakan bentuk penghargaan atas pemberian hadiah itu.

Dalam keterangan foto yang diunggah itu, Anindya menulis, "I am so Vietnam today." Meski belakangan akhirnya ia menghapus foto itu karena merasa tak nyaman terus dibully. Ia juga mengaku melakukan penghapusan itu karena enggan ada orang berkelahi dalam akunnya.

Ditegaskan juga olehnya kalau tak ada tendensi apa pun saat ia mengenakan kaus tersebut. Ia juga membantah kalau pemilihan atribut itu adalah bentuk dukungannya terhadap paham komunis.

Kepada Viva.co.id, Anindya juga mengatakan kalau ia juga memberikan baju Batik pada temannya asal Vietnam yang telah memberikan kaos bergambar palu arit sebagai suvenir balasan.

"Saya kasih baju batik ke dia. Dia foto dengan baju batik itu dia kirim ke saya. Lalu saya juga foto dengan kaus itu karena menghormati teman saya yang telah berikan itu kepada saya. Ya tukeran foto saja di media sosial," katanya pada Viva.co.id

Pembaca, jika kita membenci Anindya (dan meminta agar ia dihukum penjara) karena kelakuannya mengunggah foto dirinya mengenakan kaos bergambar palu arit di dadanya, dan menganggap bahwa itu adalah kebejatan yang tak berperi-kemanusiaan, lantaran palu arit adalah lambang PKI dan PKI adalah biang kerok pembunuh para Jenderal, kita mungkin bertanya; bagaimana dengan mereka para algojo (sekarang masih hidup bahkan berkuasa) yang membantai ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia yang dituduh PKI?

Sampai disini kita mungkin akan mendukung pendapat Gus Dur soal rekonsiliasi (antara pembantai dan yang terbantai) demi sejarah dan kehidupan berbangsa yang lebih baik. Kita juga menjadi ingat usulan mantan presiden kita itu terkait pencabutan Tap MPR No 25 Tahun 1966, meski tak disetujui mayoritas Anggota DPR/MPR di jaman Amin Rais.

Lalu tidak bisakah kita hidup dengan cara damai dalam pengakuan sejarah Gestapu yang sebenarnya (termasuk pasca peristiwa itu)  dan tetap bergandengan tangan membangun negeri tercinta tanpa dendam dan prasangka? Atau kita tetap akan saling tutup-menutupi dalam kedunguan yang penuh dendam dan prasangka?

Foto pembantaian warga yang dituduh simpatisan dan anggota PKI. Sumber : Internet