Senin, 10 September 2012

Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani


Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani


Dumoga yang kini terbagi menjadi 4 wilayah Kecamatan (Timur, Barat, Selatan, Utara), adalah wilayah kaya sekaligus "panas" yang terletak di tengah-tengah Kabupaten Bolaang Mongondow tatkala belum dimekarkan menjadi 4 wilayah Kabupaten (Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut) dan 1 Kota (Kotamobagu). 

Bolaang Mongondow (Bolmong) bahkan dikenal dengan julukan lumbung beras, karena keberadaan wilayah gemah ripah loh jinawi ini.

Di level internasional, Dumoga bahkan diklaim sebagai kawasan paru-paru dunia yang turut berperan dalam menjaga keseimbangan ekologi dan iklim dunia karena keberadaan kawasan konservasi; Taman Nasional Dumoga Bone, atau yang kini  berganti nama menjadi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNWB).

Di Mongondow, Dumoga selalu penting dan menarik dibicarakan bukan semata karena ada Taman Nasional disini. Bukan pula soal kandungan emas di Teluk Toraout atau di Superbusa yang sejak era 90-an menjadi pusat mimpi (tak hanya) orang Mongondow yang berbondong-bondong datang ke wilayah ini bermodalkan nyali, samurai, cakram, tombak dan aneka benda tajam lainya (konon ilmu kekebalan tubuh). Namun karena ada mimpi kesejahteraan disini. Bongkah-bongkah mimpi yang akan merubah nasib dari kere menjadi royal, dari melarat menjadi berada, seperti Cebol (nama julukan), Juma’, atau Aske Giroth (Tiga di antara orang Dumoga suku Minahasa yang berhasil dalam usaha tambang tradisonal. Satu diantaranya bahkan pernah duduk sebagai Anggota DPRD Bolmong dari Partai Golkar). Atau sebut juga nama Ajan Bonde, penambang asal Dumoga dari suku Mongondow yang pernah juga duduk di kursi parlemen Bolmong.

Saat ini Dumoga semakin menarik sebab sederet stakeholder di wilayah lumbung beras ini tengah bersemangat dalam euphoria cita-cita pemekaran untuk membentuk Kabupaten Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng), mengikuti 4 saudara kembarnya; Boltim, Bolsel, Bolmut, dan Kota Kotamobagu.

Pemekaran dan pembentukan Bolteng ini malah disebut-sebut sebagai prasyarat untuk melengkapi terbentuknya cita-cita yang lebih besar yakni Propinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR) sebagaimana pula yang tengah digaungkan saat ini oleh para pemukanya termasuk mantan Wakil Gubernur Sulawesi Utara asal Bolmong; Abdullah Mokoginta.

Dumoga Dimata Pemerintah Pusat

Betapa pentingnya Dumoga di mata pemerintah Indonesia sehingga dengan mengatas-namakan rakyat Indonesia, berhutang ke rentenir kelas wahid bernama World Bank (Bank Dunia) sebesar 60 juta dollar AS untuk pembangunan Proyek Irigasi Dumoga yang menghasilkan Bendungan Touraut dan Kosinggolan. (lihat G.J. Aditjondro, "Nasib penduduk asli Mongondow di Sulawesi Utara", Suara Pembaruan, 4 Desember 1992).

Tak hanya itu, pada penghujung 80-an,  B.J. Habibie yang ketika itu menjabat sebagai Menteri, melaksanakan pembangunan SMTP (Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) Mokintob, yang nasibnya kini tinggal cerita tergambar dari sisa-sisa puing bangunan gedung yang murung bak pusara yang telah bertahun-tahun terlantar.

Dumoga Jaman Mokodoludut

Dalam mitologi Mongondow, ada cerita yang mengisahkan soal kemunculan Punu', Datu, atau Raja pertama di jazirah Bolaang Mongondow, yakni Mokodoludut. Mitos ini mengisahkan soal bagaimana sepasang suami istri bernama Kueno dan Obayow di Sungai Ongkag menemukan bayi yang masih terbungkus ari-ari hingga mirip seperti telur. Terlebih lagi kedua pasang Suami Istri ini melihat ada se-ekor burung (mungkin Maleo sebab habitat Maleo umumnya didaerah dekat sungai dan berpasir) di dekat bungkusan ari-ari itu sehingga dikira itu adalah telur burung.

Saat pasangan suami-istri ini mendekat, burung itu terbang menghindar dan setelah diperiksa ternyata ada seonggok bayi yang terbungkus kantong ari-ari. Sontak suami-istri ini mengambil dan membersihkan bayi itu di Sungai Ongkag dan dibawa ke tempat tinggal mereka di bukit Bumbungon.

Malamnya, tatkala bayi ini dibawa ke Tudu In Bumbungon atau Puncak Bukit Bumbungon, terdengar bunyi guntur dan kilat bersahut-sahutan di langit, kemudian turun hujan lebat. Konon terdengar pula bunyi semacam hentakan langkah yang datang beruntun dari segala penjuru yang dalam bahasa Mongondow disebut Doludut. Bunyi ini dipercaya berasal dari langkah para Bogani (manusia yang digambarkan kuat dan keramat pemimpin setiap wilayah pedukuan yang tersebar di seluruh Bolmong).

Para Bogani ini konon gempar tatkala mengetahui kelahiran seorang bayi yang bakal menjadi pemimpin nanti. Oleh sebab itulah bayi ini, oleh para Bogani dinamai Mokodoludut, yang  berarti sebuah kehebohan atau kegemparan oleh adanya suatu peristiwa.

Berdasarkan kesepakatan para Bogani yang menggelar keputusan di Tudu In Bumbungon inilah, tatkala dewasa Mokodoludut diangkat sebagai Punu’ atau Raja Bolaang Mongondow atau dalam bahasa Mongondow disebut; Sinompunu’  (Diangkat menjadi Raja) hingga.
Maka dimulailah kepemimpinan itu turun temurun sampai ke masa Punu’ Tadohe. Pusat pemerintahan kerajaan Bolaang Mongondow ini dimulai di Dumoga yakni di Bukit Bumbungon, sebagai pusat pemerintahan.

Terkait peristiwa kelahiran Mokodoludut ini, ada juga cerita lain yang mengisahkan bahwa Ayah dan Ibu dari Mokodoludut adalah Manggopa Kilat dan Salamatiti yang tak lain adalah pasangan Bogani lelaki dan Bogani perempuan yang tinggal di dataran Dumoga. Oleh cerita rakyat, kedua pasang Bogani ini dikenal juga dengan kesaktian dan kekeramatan mereka.




Dumoga dan Taman Nasional

Di era 50-an, dataran Dumoga yang rata-rata wilayahnya masih merupakan kawasan hutan, didatangi orang Mongondow dari ragam penjuru untuk membuka area penghidupan baru, termasuk yang dilakukan penduduk Passi yang akhirnya membentuk Desa Ibolian.

Tak hanya penduduk lokal yang tertarik mencari penghidupan di dataran Dumoga, sebab tersebutlah kelompok yang datang dari Tondano (Minahasa) atau yang dikenal dari kampung Jaton (Jawa Tondano) yang dipimpin Slamet Nurhamidin dan Tarekat Banteng sekitar tahun 1948.

Kedatangan kelompok Slamet Nurhamidin dan Tarekat Banteng inilah yang menjadi cikal-bakal Desa Ikhwan sekarang ini. Selanjutnya adalah orang-orang yang datang dari suku Minahasa asli termasuk yang bekas tentara Permesta, dan kelompok transmigrasi lokal.

Pada Tahun 1967 datang transmigran asal Jawa dan Bali yang dimukimkan di Tumokang atau daerah di sekitar Kosinggolan. Setelah 1 dekade selanjutnya, para transmigran ini dipindahkan lagi ke wilayah yang sekarang bernama Desa Mopugat, Wherdi Agung, Kembang Merta dan Mopuya. Pemindahan ini (berdasarkan catatan sejarah yang ditelusuri) konon dikarenakan pertimbangan ekosistem dan hidrologi yang ada di kawasan Kosinggolan yang merupakan daerah tangkapan air. Terbukti pada Tahun 1979 kawasan hutan Dumoga ditunjuk sebagai kawasan Suaka Margasatwa Dumoga (SMD) berdasarkan SK. Menteri Pertanian Nomor 476/Kpts-Um/8/79 tanggal 2 Agustus 1979, dengan luas 93.500 Ha. Awalnya, kawasan bekas lokasi transmigrasi Tumokang termasuk dalam wilayah lindung ini. 

Namun pada era 80-an, masyarakat Doloduo yang merupakan masyarakat asli suku Mongondow, melakukan pembukaan kembali kawasan bekas pemukiman transmigrasi tersebut. Mereka menganggap wilayah tersebut adalah wilayah ulayat mereka, meski pemerinta pusat telah menetapkan sebagai kawasan tersebut sebagai Suaka Margasatwa  Dumoga (SMD).

Dalam catatan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone,  perambahan yang dilakukan masyarakat Doloduo ini meluas hingga di kawasan Sindak, Tabang Mororok, Binoanga, Patue, Bolungkuga, Baturapa, dan Tumpa.

Penetapan Taman Nasional Dumoga Bone (TNDB) terjadi pada tahun 1991 lewat Surat Keputusan  Menteri Kehutanan nomor 731/Kpts-II/91 tanggal 15 Oktober 1991, yang merubah fungsi Suaka Margasatwa Dumoga (SMD) menjadi Taman Nasional Dumoga Bone (TNDB). Selanjutnya nama ini berubah lagi menjadi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW)  dengan luas 287.115 Ha.

Masa Eko-Facism

Berdasarkan catatan George Aditjondro yang dimuat surat kabar harian nasional, Suara Pembaruan, 4 Desember 1992, pada tahun 1982-1983 dan di era 90-an, terjadi Eko-Facism yang dilakukan Pemerintah Daerah Tingkat II Bolaang Mongodow, Kodim 1303 Kotamobagu, Polres Bolaang Mongondow, dan Kejaksaan Negeri Kotamobagu, tatkala menggelar Operasi Wibawa I, yang berhasil mengeluarkan para perambah kawasan TNDB.

Operasi ini berlanjut ke Operasi Wibawa II pada tahun 1993-1994  dan berhasil mengusir sejumlah penduduk yang menggantungkan hidupnya di Kawasan TNDB.

Peristiwa Operasi Wibawa I dan II yang dilakukan oleh lembaga dan alat-alat negara dalam pengusiran  penduduk ini, masih membekas dibenak hati orang Mongondow yang menjadi korban pengusiran itu. Saya sendiri pernah mendengar langsung apa yang mereka ungkapkan  dalam Bahasa Mongondow sebagai; no nurub kon pinomula nami (yang membakar apa yang kami tanam).

Pemerintah beralasan bahwa Operasi Wibawa dilakukan sebab praktek pembukaan hutan oleh petani dan pertambangan emas di Toraut, mengancam ekosistem kawasan lindung. Berdasarkan penuturan salah seorang petani asal Mongondow yang pernah terusir di wilayah itu, diceritakan kalau sejumlah bibit cengkeh dan tanaman tahunan yang sudah ditanam oleh para petani itu, dibakar melalui Operasi Wibawa.

Eko-facism yang dilakukan pemerintah terhadap warga Mongondow di dataran Dumoga, tak membuat warga kapok. Pada tahun 1987 warga memasuki kawasan kaya itu lagi  hingga dipermulaan tahun 90-an. Kekayaan yang di kandung Dumoga dan gempar pada awal tahun-tahun itu, bahkan membuat beberapa pemuda Mongondow yang tengah menempuh pendidikan di Manado dan Tondano, pulang kampung dan memilih masuk rimba ketika menyadari, mimpi kesejahteraan sebenarnya berada di wilayah ini.

Puncak kegusaran pemerintah ketika melihat Dumoga menjadi lahan rebutan, membuat terjadinya Operasi Santiago yang menggunakan agresi militer di kawasan tersebut dari tahun 1993 hingga 1994.  Lubang galian emas rakyat ditutup pihak militer menggunakan semen padat. Operasi bersenjata ini cukup efektif menggulung dan mengusir ratusan petani dan ratusan penambang tradisional yang terpaksa  meninggalkan lulung atau daseng  dalam keadaan murung, dingin, dan mencekam.

Dalam catatan Geogre Aditjondro (Penulis bukum, Gurita Cikeas) menyebutkan bahwa di era 80 hingga 90-an ratusan keluarga petani suku Mongondow dan migran Minahasa serta Sangir di lembah Dumoga, dipaksa keluar tidak cuma dari hutan Taman Nasional Dumoga-Bone, melainkan juga dari dataran Dumoga di Kabupaten Bolaang Mongondow. Konon lagi-lagi itu dilakukan demi melindungi kelestarian daerah tangkapan air Proyek Irigasi Dumoga, serta bendungan Toraut yang merupakan bagian dari proyek yang dibiayai lewat pinjaman rakyat Indonesia sebesar 60 juta dollar AS dari Bank Dunia. (lihat G.J. Aditjondro, "Nasib penduduk asli Mongondow di Sulawesi Utara", Suara Pembaruan, 4 Desember 1992).



Dumoga, Pusat Mimpi Para "Ninja" dan "Samurai"

Wilayah Dumoga tak lepas dari cerita macam di film silat Saur Sepuh, koboi-koboi mabuk Amerika, Ninja, dan Samurai.  Orang Sulawesi Utara  pasti pernah mendengar beragam kisah yang  dituturkan lewat berbagai versi cerita soal kesohoran kelompok penambang yang dikenal dengan nama Group 88. Kelompok ini konon kebal terhadap benda tajam dan bisa menghilang.

Sosok Sony Putong mantan atlet Anggar Sulawesi Utara berbakat yang konon kurang diperhatikan KONI setempat, ikut banting setir dan datang mengadu nasib di lembah Dumoga sebagai penambang yang lihai memainkan pedang.

Tersebut pulalah cerita heroik seorang lelaki Mongondow asal Desa Doloduo yang dijuluki Andol (Andalan Doloduo). Ia begitu disegani dan dikenal karena nyali dan keberanianya di lokasi tambang. Sebuah lokasi panas yang sarat konflik baku potong. Selain Andol, dikenal pula nama kelompok dari pemuda bengal nan brutal dengan julukan Poppeye, sebagian besar anggota kelompoknya berasal juga dari Desa Doloduo. Pun sosok perempuan penambang yang namanya cukup tersohor memperlengkap nuansa di rimba Dumoga tak ubahnya seperti adegan film Xena The Warrior of Princess tatkala perempuan yang konon begitu dihormati ini berada ditengah-tengah kelompok lelaki sambil menenteng parang, samurai dan pisau badik terselip di kiri-kanan pinggang, dikenal dengan nama Titin.

Sejak lokasi galian yang dinamai Teluk di rimba Dumoga geger oleh berita ditemukannya lubang galian dengan kadar emas tinggi, (para penambang di Dumoga mengistilahkannya: lubang kancang), maka sejak itu pula Dumoga tersu menjadi pusat mimpi orang-orang yang ingin merubah nasib. Mereka berbondong-bondong ke Dumoga  dengan membentuk grup baik itu karena keterikatan pertemanan, suku, maupun ikatan se-kampung.

Karena tahu bahwa sudah ada kelompok lain yang mula-mula merintis dan menguasai lubang galian tersebut, ditambah lagi informasi bahwa mereka itu bukan penambang kelas daong lemong (kelas ecek-ecek), maka dipersenjatailah diri dengan beragam benda tajam penantang maut yang dibalik itu tersimpan maksud gelap; ingin menguasai lubang rebutan itu dengan cara apapun termasuk baku potong (saling tebas) apabila upaya diplomasi tidak berjalan.

Sebagai contoh, jika ada lubang dengan kadar emas tinggi (lubang kancang), maka lubang itu akan jadi rebutan. Kelompok pertama yang menguasai lubang galian ini akan menjaga lubang tersebut dari gangguan kelompok lain, tak hanya dengan raga melainkan nyawa. Lubang akan dijaga oleh para "pendekar samurai" yang tak segan-segan akan menyembelih leher siapapun yang datang menguasai. Kecuali jika mereka tunduk dibawah peraturan kelompok pertama. Sebagai contoh, kelompok pertama yang menguasai lubang, jika mood atau suasana hati lagi bagus, maka sosok-sosk keras dan sangar ini, bisa berbaik hati dengan memberi kesempatan kelompok yang datang untuk masuk lubang mengambil material untuk diolah. Sebuah kesempatan yang sekonyong-konyong diberikan atas dasar senasib-sepenangungan antar penambang agar bisa saling hidup-menghidupi.

Saat perang rebutan minyak antara Irak melawan Kuwait yang dibantu Amerika Serikat dan sekutunya bergolak di Kawasan Teluk, ketika itu pula konflik kepentingan terkait pertambangan tradisional di Dumoga, sedang bergejolak. Tak heran salah satu kawasan lubang galian yang menjadi rebutan sekaligus sumber sengketa, dinamai para penambang sebagai kawasan Teluk. Di kawasan Teluk, nyawa orang seolah tidak berharga sama sekali.

Emas memang panas dan memicu pertikaian. Sama halnya dengan perang rebutan minyak antara Amerika Serikat dan Irak di era 90-an.   
Konflik di kawasan Teluk Dumoga, biasanya seringkali pecah karena adanya keengganan dari kelompok lain untuk menuruti aturan kelompok yang mula-mula menguasai kawasan.

Ini yang menjadi pemicu konflik antar penambang yang berhasrat menguasai. Seperti koboi-koboi tak berkuda, mata merah mulut bau alkohol, kelompok ‘berideologi’ hukum rimba ini—yang mendengar ada mimpi kesejahteraan dapat diraih meski hanya semalam—memasuki belantara dengan nyali yang tertanam kuat. Mereka tinggalkan anak istri, pacar, dan keluarga, untuk satu tujuan; kesejahteraan. Di pinggang para “koboi” ini bukan revolfer, melainkan badik yang terselip penuh siaga. Tangan mereka memegang samurai yang siap memenggal leher atau menebas tubuh siapa saja yang berani menghalangi tujuan mereka; Emas!!Gold Glory Gold!

Kelompok dengan kategori seperti disebutkan di atas atas ini, mereka dijuluki Ninja sebab dianggap penyusup. Apalagi saat beroperasi, sebagian besar dari kelompok ini menutupi wajah mereka. Biasanya mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar dan tak kalah brutal.  Tujuan para Ninja yang dilengkapi benda maut seperti parang panjang terbuat dari rem cakram kendaraan—biasa mereka istilahkan samurai—adalah untuk menyerobot antrian. Jika sudah begitu maka adegan seperti dalam film  Saur Sepuh, The Last Samurai, atau Xena The Warrior Princess, akan meletus hingga menyisakan korban yang bisa berujung kematian di kedua-belah pihak setelah saling tebas.

Semua itu adalah hal biasa di lembah Dumoga yang liar dan keras. Hukum yang dipakai adalah hukum rimba. Tak ada pihak korban yang keberatan dan melapor ke Polisi. Tak  ada dendam yang dibawa turun ke kampung. Semua akan diselesaikan lewat "hukum adat rimba" di belantara. Mereka bertarung di arena tambang. Meski akhirnya, seiring waktu berjalan, perkelahian di lokasi tambang dibawa turun ke kampung sehingga tak heran, kejadian-kejadian tarkam di Dumoga nyaris bosan kita dengar. Kesepakatan "adat" yang menyebutkan tak boleh membawa-bawa masalah yang pecah di lokasi tambang turun ke kampung, urung terjaga.

Namun demikian bukan berarti di semua lubang galian terjadi perkelahian tatkala semua kelompok tunduk pada aturan antri. Tidak semua lubang galian juga berkadar emas tinggi. Di galian yang kadar emasnya rendah, suasana adem-adem saja. Bahkan konon ada kawasan yang disebut Panta Putih. Ini semacam kawasan agak lapang yang difungsikan kepada para penambang yang sayang nyawa. Artinya, ketika terjadi sengketa antar grup penambang, bagi para penambang yang netral dan tak mau terlibat baku potong dan kubu-kubuan, segera mengambil posisi ke kawasan Panta Putih agar nyawa tak melayang. Panta adalah bahasa setempat yang jika disalin ke Bahasa Indonesia artinya, Pantat atau Bokong. Istilah Panta Putih dikonotasikan pula kepada mereka yang dianggap penakut atau yang tak punya nyali untuk berkelahi di lokasi tambang.

Masa kejayaan para penambang di Dumoga meledak di era 90-an. Banyak orang tak kenal tua-muda, dari yang sudah beristri maupun bujang, dari status ekonomi tak berpunya menjadi berpunya; Motor keluaran terbaru; kemeja; celana blue jeans baru lengkap dengan sepatu keren model terbaru; jaket kulit; parabola; laser disc; home teater;  dan segala pernak-pernik entertaint untuk hiburan di rumah yang baru pula direhab, atau baru di bangun secara permanen.

Pendek kata, rimba Dumoga telah memberi mereka kesejahteraan hidup, sikap royal, hura-hura, dan filantropi. Meski pada akhirnya masa kejayaan itu terengut dan tergilas roda jaman dan waktu yang berputar bengis kencang, meruntuhkan apa yang pernah dimiliki dan melahapnya hingga tinggal sobekan kisah tua yang manis terselip di balik blue jeans kumal dan mengerang dibekas jahitan luka dihampir sekujur tubuh para Ninja dan veteran Teluk.

Saya masih ingat karena pernah mengalami langsung bagaimana para Ninja dan penambang di Dumoga turun ke Kota (Kotamobagu) dan pica kongsi (bagi hasil  penjualan emas). Mereka memborong isi Toko dan menyuruh siapa saja yang lewat di depan mata mereka saat berbelanja untuk mengambil sesuka hati barang dagangan yang dijual. Mereka seolah menyatakan diri : "Ini kami para Ninja dari lembah Dumoga. Silahkan pilih, kami yang bayar, kami punya banyak uang!!". 

Pernah suatu ketika di penghujung tahun 1994, mereka tiba di pusat kota di mana saya dan beberapa teman yang masih mengenakan seragam putih abu-abu berada di emperan toko yang hanya bersebelahan dengan rumah makan Minang. Saat para penambang ini masuk, terdengar oleh kami dari luar lengkingan suara dari salah seorang diantara mereka : "Ator akang makanan harga 3 juta!".   

Amboy, hanya 6 orang dan mereka minta dihidangkan menu dengan patokan harga 3 juta ketika kurs dollar waktu itu Rp 1.500 per dollar. Sebuah kesombongankah, olok-olok, sikap royal, atau pernyataan diri bahwa; kami bukan begundal-begundal yang tak punya uang, jika selama ini kalian memandang kami sebelah mata, sekarang saatnya layani kami, semua menu yang ada di rumah makan ini angkat dan taruh di atas meja.

Nampak para pelayan sibuk tak tahu bagaimana harus menghidangkan menu berpatok Rp 3 juta untuk 6 orang Ninja. Pemilik rumah makan Minang juga nampak sibuk dengan kalkulator yang sebenarnya tak berguna sama-sekali sebab tengoklah, segala menu sudah dihidangkan, bir juga sudah dijejer di meja, tapi belum juga menyentuh angka Rp 3 juta.

Salah seorang dari mereka keluar. Matanya merah liar, mulut beraroma alkohol memakai jaket jeans, ada bekas luka di lengannya.

Saya dan teman-teman diseret satu persatu masuk ke dalam restoran Minang. Tapi karena harga patokan harus genap Rp 3 juta, sekitar 20-an anak SMA di emperan Toko yang tentu sedang kelaparan, ikut di boyong ke dalam.

Setelah makan dengan kenyang, kami digampar rokok per orang dua bungkus, lalu dikasih beberapa lembar uang yang cukup membuat masing-masing dari kami bisa mentraktir teman-teman di kantin sekolah selama 3 hari berturut-turut. 

Masih kuat pula ingatan ini membayangkan adegan para Ninja menghambur-hamburkan uang di jalan membagikan kepada orang-orang yang. Sebuah pemandangan yang tak seperti film Robin Hood.


Dumoga Menuju Bolteng

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Dumoga memberi simpulan catatan tersendiri bagi rakyatnya. Seperti merupakan suatu keharusan, pihak-pihak berkepentingan di Dumoga mulai menggelorakan isu pemekaran demi terselenggaranya upaya penataan dan pengelolaan Dumoga dengan lebih baik. Upaya yang sempat diwarnai gelombang demonstrasi oleh rakyat Dumoga bersatu di Kantor DPRD Bolmong menghasilkan pemekaran Dumoga menjadi 4 Kecamatan.  

Tak cukup dengan itu, pada tahun 2010 Dumoga kembali "bergolak". Seolah mengikuti jejak 5 saudara kembarnya (Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut, Kota Kotamobagu), negeri lumbung beras ini menuntut diadakanya pemekaran dalam rangka pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng). Presidium Pemekaran terbentuk. Tim Verifikasi sudah turun. Apa selanjutnya??

Sambil menunggu babak berikut, ada berderet harapan dan keinginan yang hendak kita buncahkan ke negeri Mokodoludut, negeri Manggopa KilatSalamatiti dan Silagondo. Negeri yang kini dihuni beragam suku yang saat ini masih tetap setia mempertahankan kedamaian dan ketenangan dalam konteks persaudaraan dan hidup berdampingan yang senantiasa terjaga. Sekalipun iklim sosial dan stabilitas di Dumoga bisa tiba-tiba cepat "panas" dan "meledak" bahkan untuk hal-hal kecil saja.

Kita hilangkan imej yang tersemat di Dumoga sebagai negeri brutal, negeri para geng, ‘koboi-koboi’ mabuk, ahli pedang, dan tukang bakalae. Kita jauhkan dari imej negeri yang mengutamakan hukum rimba sebagai jalan keluar dalam menyelesaikan perkara. Kita jaga imej lumbung beras nan damai tentram tetap terjaga sebagai jalan menuju Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng) seperti yang di-idam-idamkan rakyat Dumoga saat ini. 

Dumoga adalah negeri para Bogani. Negeri para pemberani yang di negeri indah nan kaya inilah pertama kali berdiri kerajaan Bolaang Mongondow dibawa tampuk kepemimpinan Datu Mokodoludut. Jangan jadikan Dumoga menjadi Negeri Ngeri....