Selasa, 17 Februari 2015

Laki-laki di Tepi Gapura

foto : arifkoes
Entah bagaimana ceritanya, laki-laki yang kemarin sempat terlihat di gedung sebuah rumah sakit terbesar di kota itu, tiba-tiba sudah menemukan dirinya lunglai di atas tanah, tak jauh dari pintu gerbang sebuah kampung.

Rasa ketidak-nyamanan yang mulai merayap di setiap jengkal tubuhnya, membuat ia bangkit pelan-pelan meski dengan gerakan agak sekarat.

Ia mengusap matanya dan mengitari sekeliling. Sederet tulisan tertangkap melintang di papan gapura:

S-E-L-A-M-A-T D-A-T-A-N-G DI S-O-R-G-A

Ia mengucak matanya lagi, hendak meyakinkan diri. "Selamat datang di sorga? Pah! lelucon macam apa ini?" pekik batinnya. "Apa aku sedang bermimpi?".

Ia mencoba mengingat kejadian terakhir kali sebelum ia berada di gapura itu. Ia tahu, setelah dari apotik rumah sakit, ia singgah di warung makan tempat biasa ia breakfast, launch,and dinner. Tapi tak ada keanehan yang ia temukan ketika berusaha mengais-ngais ingatan itu dengan susah payah.

"Apa aku salah minum obat? Keracunan makanan? Atau ada orang usil yang membiusku? Rampok mungkin?"

Bukankah di TV ia memang pernah menonton berita, ada korban perampokan dibius pelakunya?

Sontak ia meraba setiap kantong baju dan celananya. Memeriksa satu dua barang bawaan, tapi tak satupun raib. Di kantong masih ada beberapa lembar uang yang kusut. Termasuk recehan yang dibungkus dalam sebuah kantong khusus. Beberapa batang rokok yang ia beli di emperan juga masih ada. Memang ada beberapa yang patah, tertindih tubuhnya saat tidur telungkup di atas tanah.

Tapi, apa yang membuat ia bisa begitu saja tiba di gapura sebuah perkampungan yang asing bagi dia. Tak ada cara lain kecuali mencari tahu sendiri. Bisa dimulai pada warga kampung yang nanti lewat di situ. Kampung sorga sebagaimana yang tertulis di gapura.

"Ah, paling-paling ini ulah pemuda-pemuda kampung yang usil" pikirnya.

Ia terkekeh. Batinnya seolah mengatakan kalau orang tua macam diayang tak hanya sekedar pernah makan garamtak mungkin mudah dikibuli. Apalagi oleh pemuda-pemuda usil di kampung yang mungkin kurang kerjaan.

Akhirnya ia putuskan untuk masuk. Baru beberapa meter melepas gapura, ia menemu seorang perempuan berdiri di tepi sebuah telaga.

"Oh, rupanya ada telaga dan perempuan berambut panjang di mulut kampung ini" gumamnya dalam hati lalu pura-pura cuek dengan kenyataan yang ada di depan matanya.

Bersikap acuh tak acuh dan agak angkuh seperti kelakuaanya sebelum terlempar dengan cara misterius di tempat itu, ia terus melangkah penuh kepastian tak ambil peduli.

Tapi langkah demi langkah itu digoyahkan kata batinnya yang sepertinya berbisik untuk balik. Ia putar badan lalu sontak terbelalak ketika tak lagi menemukan perempuan yang baru dilewatinya. Dan telaga itu, cepat kabut turun menutupi permukaan sehingga telaga itu tersamar seperti gundukan salju musim dingin di belahan bumi Eropa.

"Apakah semua ini benar-benar ada? Atau hanya ilusi? Kemana perempuan tadi? Apakah aku juga memang ada di sini?" Ia mencubit kulitnya dan merasakan sakit. "Ya, aku ada. Jelas aku ada" gumamnya.

"Hei, siapa di situ? Apa kau demit penunggu gapura? Jangan sembunyi di situ wahai perempuan"

Ia memang tidak pernah percaya pada kisah-kisah hantu. Apa yang menurutnya dapat ditangkap dengan mata telanjang, dan bisa diraba, adalah bangunan realita atau materi dari sebuah keberadaan. Makanya ia berharap perempuan yang ia lihat tadi dapat ia saksikan mucul kembali dari balik semak. Dan dalam keadaan seperti yang tengah dialaminya, malu bertanya berarti bukan hanya sesat di jalan, melainkan punya kemungkinan masuk lubang buaya.

Tapi perempuan itu tidak muncul. Mungkin terlalu cepat bergerak hingga hilang di jalan raya. Merasa tak peduli, ia memasang rokok lalu melangkah lagi masuk ke dalam kampung.

Di tengah jalan ia merasa lelah. Kepalanya juga agak pening. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak lalu duduk di onggokan batu.

"Keparat! Apa aku salah minum obat?"

Lagi-lagi ia mengeluh menyalahkan diri. Selalu terusik dengan situasi yang membuatnya merasa rumit. Ia raba kantong baju sebelah kiri. Merogoh plastik bungkusan obat lalu mengais isinnya. Tak ada yang aneh. Itu obat sakit kepala. Bukan pil koplo yang pernah diberi sekumpulan anak sekolah untuknya, sebagai sogok karena memergoki anak-anak itu di sebuah rumah kosong. Ia diminta agar tak melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah yang biasa memberi sebungkus nasi untuknya.

"Sorga? Pah! inikah sorga? Penuh jalan berlubang, kerikil tajam, bebatuan yang mengelupas dari aspal, ilalang, tak ada buah-buahan segar ranum, macam inikah sorga seperti kata gapura itu? Orang-orang di sini mungkin sinting. Dan entah siapa lurah atau kepala desanya" Gumamnya memprotes.

Ia lalu buru-buru bangkit dan berjalan lagi. Merasa ia seperti Si Buta Dari Goa Plato sebagai seorang lelaki berkumis tebal dalam Nietzsche di Pintu Sorga.

"Jangan sampai penjaga kampung sorga ini akan kaget dan menertawai saya sambil berseru; hai Nietzsche berhenti. Kamu seorang ateis, kamu tidak boleh hidup di sorga". gumamnya.

"Ah, aku akan menjawab; Siapa bilang aku mau hidup di sorga. Aku mau mencari Tuhan. Aku tidak berhasil membunuh-Nya di dunia" sergahnya.

Ia tertawa, lalu kembali berjalan hingga tibalah ia di perkampungan yang nampak lusuh.

"Masya Allah.... inikah yang disebut sorga seperti yang tertera di gapura itu?" Ia berdecak panjang sembari menggeleng-gelengkan kepala tanda tak suka.

Seorang perempuan parubaya tiba-tiba muncul dari balik pos kamling. Ia melihatnya sebagai kesempatan.

"Ibu, boleh saya bertanya?"

Perempuan ini menoleh. "Kenapa?" katanya.

"Apakah betul ini di sorga?"

Tanpa menjawab, perempuan paruh baya itu memutar badan lalu pergi.

"Hei, kemana?"

Perempuan itu tak peduli. Malah berlari kecil meninggalkan dia. Kejadian ini membuatnya semakin sadar bahwa dia tidak sedang berada di sorga.

"Dasar tolol!" Ia tepuk jidatnya sendiri. "Jelas ini bukan sorga. Kenapa aku terlalu bodoh bertanya demikian"

Seorang pemuda lantas lewat. Ia menyapa. Pemuda ini tak merespon.

"Hei anak muda"

Tak ada jawaban. Pemuda itu terus berjalan.

"Pemuda..!!?" Ia berteriak.

Pemuda ini lalu memungut batu sebesar biji kedondong lalu melemparnya. Ia bergeser sebisa mungkin. Batu itu terbang hampir mengenai wajahnya.

"Dasar sableng!" pekik pemuda itu kemudian berlalu.

Akhirnya ia merasa kalau sebaiknya diam. Percuma bertanya jika yang ia dapatkan hanyalah perlakuan tak manusiawi. Bukankah diam itu emas?

Ia duduk di bawah pohon kersen. Di situ ada barang-barang rongsokan bergunduk. Segala ember, televisi rusak, plastik shampo, odol, obat antiseptik, botol kemasan air mineral, bir kaleng, popok bayi, botol kemasan sabun sirih pencuci vagina, ban mobil yang setengahnya sudah terbakar, dan segala yang ia lihat itu adalah sarang penyakit; malaria, disentri dan mungkin kolera. Itu adalah gundukan sampah.

"Pantas orang-orang disini pada sakit semua" gumamnya lalu mencari tempat lebih nyaman agar ia mampu berpikir dengan lebih baik. Ia percaya bahwa faktor lingkungan turut mempengaruhi pola sikap dan pola tindak orang.

Ia masuk ke pos kamling kampung itu. Tapi belum sempat melewati pintu, ia membatalkan niatnya. Itu bukan pos kamling, bisiknya dalam hati. Tapi WC umum yang tingkat kejorokannya sudah mampu menggambarkan perilaku orang-orang di kampung sorga ini. Ia pergi meninggalkan segala pesing dan tinja di situ.

Sekarang langkahnya terhenti di depan halaman sebuah bangunan yang sepertinya terawat. Ia masuk dan berselonjor di tangga bangunan itu, menunggu orang baik datang.

Sekelompok bocah yang muncul dari arah jalan raya, datang menghampirinya. Sepertinya bocah-bocah penasaran ini hendak tahu siapa orang asing yang datang ke kampung mereka dan berselonjor sembarangan di tangga rumah ibadah.

"Om dari mana om?" tanya seorang bocah yang paling berani diantara mereka.

Ia tak menjawab. Bocah lain saling bisik cekikikan.

"Dari mana Om?" bocah itu mengulang.

Sekelumit kejadian yang baru saja dialaminya mulai dari gapura, seorang perempuan parubaya di dekat pos kamling, dan pemuda yang melemparinya dengan batu, adalah peristiwa yang membuat segenap niat dalam benaknya mengatakan bahwa; adalah percuma meladeni bocah-bocah ini. Ia malah berpikir, bisa jadi bocah-bocah inilah yang menulis di papan gapura; Selamat Datang di Sorga.

"Om sudah makan?" ulang bocah tak mau menyerah.

"Mungkin dia bisu" seloroh yang lain.

"Dia tidak bisu, barangkali sedang sakit" timpal yang gendut.

"Om sakit?"

"Mungkin dia gila?"

"Ya, dia sinting. Hati-hati jangan terlalu dekat"

Ia diam tak bereaksi. Ia tahu semua akan percuma. Bagi dia bocah-bocah ini adalah anak orang-orang sinting yang tak pernah diajari sopan santun.

"Hei, Om. Kenapa tak mau bicara"

Bocah yang paling usil mulai menantang. Ia lantas mengumpulkan pasir dan kerikil. Dalam situasi yang demikian, diam mungkin tak selamanya emas. Tapi ia bertahan. Sepertinya menunggu gerangan apa yang bakal terjadi. Ia menyimak.

Merasa bahwa orang yang mereka kerubungi ini adalah orang gila, si bocah usil mulai membisiki teman-temannya. Sepertinya merencanakan sesuatu.

Betul. Mereka menghujaninya dengan kerikil. Ia sudah menduga itu akan terjadi. Makanya ia bersigap menghindar. Hujan kerikil itu meleset. Bocah-bocah itu gagal tertawa.

Tapi tak semua bocah disitu usil. Salah satu diantara mereka melerai teman-temannya untuk tidak berbuat jahat pada orang asing ini. Terjadi perdebatan diantara mereka. Yang tak sepakat lalu memilih ke rumah kepala desa hendak melaporkan bahwa ada orang gila di rumah ibadah.

"Apa kamu tidak tahu kalau orang gila biasa berak dan kencing di sembarang tempat? Ayo Randi kita laporkan dia ke pak kepala desa. Ini rumah ibadah. Harus di jaga kesuciannya,"

Saat itu terucap dari salah seorang bocah si pembuat ide hujan pasir dan kerikil, laki-laki yang disangka gila ini menggerutu dalam hati; "Tai kucing, orang di sini yang tukang berak dan kencing di sembarang tempat. Lihat sana di pos kamling. paling kakakmu, pamanmu, atau bapakmu yang melakukan itu," bisiknya.

"Kenapa kamu menyangka kalau orang ini gila?" tanya salah seorang bocah kepada temannya yang hendak pergi.

"Coba lihat tampang dan dandananya? Kakak saya tadi bilang orang asing ini yang tidur di gapura sejak kemarin"

"Ya, dia gila. Lihat dia tak mau bicara," timpal yang lain. Mereka kemudian berlalu, hendak melaporkan ke kepala desa.

Hanya satu orang bocah yang tertinggal. Merasa peduli, ia mendekat dan mulai bertanya.

"Om dari mana?" tanyanya.

Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Bagaimana mungkin ia akan mengatakan kepada bocah ini kalau ia dari rumah sakit. Atau ketika dari apotik, ia singgah di warung makan kemudian keluar beli rokok di emperan dan tiba-tiba saja sudah menemukan dirinya di gapura kampung.

"Apa Om memang bisu?" tanya bocah ini lagi sembari memberi tanda isyarat.

"Aku tidak bisu?" Akhirnya ia memilih bicara. Bocah didepannya senang dan mulai bersemangat.

"Kenapa Om bisa ada di sini? Om darimana?" kejar sang bocah.

Nampaknya ia akan jujur menjawab bahwa ia dari rumah sakit, atau dari apotik, dan akhirnya terlempar secara misterius di gapura kampung. Tapi, sepertinya sanksi. Ia enggan merusak pertemuan dan komunikasi yang mulai terbangun baik itu.

Tiba-tiba,

"Om,"

"Ya.

"Apa Om baik-baik saja?"

"Tidak. Kenapa?"

"Tidak sakit?"

"Tidak"

"Kok kepala Om berdarah?"

Ia meraba kepalanya. Sejurus dengan itu ada cairan berwarna merah kini membasahi telapak tangannya. Darah itu mengucur deras. Ia kebingungan. Bocah juga bingung.

"Eh, aku kenapa?" Tanyanya panik dengan wajah yang nampak pucat. Tanpa pikir panjang bocah dihadapannya sontak membuka baju lalu diberikan pada laki-laki asing itu. Darah mulai tercecer di lantai rumah ibadah.

"Aku kenapa dik? Aku kenapa?" Ia terus panik.

"Tidak tahu Om. Tiba-tiba saja aku melihat ada darah di kepala Om,"

Ia ambil baju bocah baik hati itu lalu ditekankannya ke kepalanya. Ia merasa lega, tapi sekonyong-konyong lunglai sembari melihat kilatan cahaya di plafon rumah ibadah itu.

"Aku di mana dik, Aku di mana? Di mana?? Aku di mana dik? tolong aku...tolong aku......". Suaranya pelan dan sekarat. Bocah dihadapannya panik tak tahu mau buat apa.

"Tolong aku....tolong......"

"Aku di mana dik.... Sebenarnya aku  di mana....?"

"Om, di rumah ibadah sekarang, Om di rumah ibadah" Jawab sang bocah dengan bibir yang gemetar. Ia sebenarnya hendak lari minta bantuan orang-orang di kampung, tapi mendadak ia tak bisa bergerak. Seperti ada kekuatan yang menahan kakinya. Ia cuma bisa bicara.

"Di rumah ibadah? Aku di rumah ibadah??"

"Iya, Om. Bersabarlah. teman-teman saya sedang cari bantuan. Sebentar lagi mereka datang bersama pak kepala desa"

"Ah, tak usah. Aku cuma ingin tahu kalau aku di mana sekarang?"

"Om sedang berada di rumah ibadah sekarang, bertahanlah Om,"

"Bukankah ini di sorga dik?? Bukankah aku sedang berada di sorga sekarang? Aku tadi membacanya di papan gapura"

Bocah dihadapannya sontak diam. Dia mundur beberapa langkah. Mukanya pucat.

"Aku di sorga kan dik? Aku di sorga kan? Tolong katakan sesuatu, katakan sesuatu apa yang adik ketahui, tolong ucapkan sesuatu," Suaranya parau dan sekarat.

"Dik...tolong dik katakan sesuatu...".

Kilatan cahaya di plafon rumah ibadah itu membuatnya silau. Suaranya sekarat seperti tertahan di kerongkongan. Mulutnya terbata-bata. Sepertinya mengeja sesuatu yang entah apa.

"Kalau begitu katakan pada keluargaku dimanapun mereka berada, bahwa aku di sorga sekarang. Katakan sama mereka dik, katakan bahwa setelah kejadian itu, sekarang aku berada di sorga,"

Bocah didepannya diam dalam keadaan pucat. Ia benar-benar ketakutan.

* * *

Rombongan warga kampung datang bersama pak kelapa desa. Mereka memasuki halaman rumah ibadah. Beberapa bocah yang tadi melapor juga nampak di barisan warga yang berdatangan.

"Mana orang itu?" Tanya pak kepala desa.

"Tadi dia di situ pak, duduk bersama Randi," kata salah seorang bocah yang ada di tengah-tengah rombongan.

Tapi mereka tak menemukan siapa-siapa. Kecuali Randi sang bocah yang mereka tinggalkan bersama orang asing tadi.

"Randi, di mana orang gila itu?" Tanya pak kepala desa, sedangkan warga lainnya mengitari rumah ibadah tapi tak menemukan apa yang mereka cari.

"Randi, di mana orang gila itu?" ulang pak kepala desa lagi.

Randi tak bergeming. Ia cuma duduk bersimpuh dalam keadaan gemetar. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya gemeretak.

"Hey, kamu kenapa nak?" seorang warga menepuk bahu bocah itu hingga akhirnya sang bocah tiba-tiba berteriak histeris. Warga yang tengah mengitari rumah ibadah sontak berkerumun mengelilingi sang bocah.

Mereka lalu manyasarnya dengan berbagai pertanyaan. Termasuk kemana perginya orang asing itu. Tapi bocah itu kebingungan. Bagaimana mungkin ia akan menceritakan apa yang dialaminya kepada orang-orang di situ. Apalagi ketika ia menyadari bahwa ternyata ia tak pernah membuka bajunya untuk diberikan pada orang asing itu sebagai penambal luka di kepala.

"Anak ini harus dibawa ke dokter. Jangan-jangan orang asing itu sudah mengerjainya" usul salah seorang warga. Kepala desa setuju.

Di jalan, ketika di boyong warga kampung pulang ke rumah, bocah ini berbisik dalam hatinya. Sepertinya doa;

"Semoga Om benar-benar berada di sorga sekarang,"