Sabtu, 07 Maret 2015

Harlabali VS Harlabala

Lukisan Matthias Grunewald 'the Temptation of St.Anthony
Di masa yang telah silam ada dua buah biji jatuh dari langit. Mungkin tercecer dari paruh burung saat melesat terbang melewati awan komolonimbus. Biji itu lalu mendarat ke tanah dan tak berapa lama kemudian tumbuh menjadi pohon.

Pohon yang tumbuh ini setelah dewasa kawin dengan pohon yang ikut tumbuh disebelahnya. Perkawinan kedua pohon ini melahirkan anak kembar. Yang satu diberi nama Kehidupan dan satunya lagi Kematian.

Sebagai anak kembar sifat mereka ternyata berbeda. Seperti dua kutub yang saling bertentangan satu sama lain. Namun demikian kedua orang tua mereka selalu mendukung apa yang sudah menjadi tugas dan pekerjaan anak-anaknya.

Saat beranjak dewasa, Kehidupan berganti nama menjadi Harlabali sedangkan Kematian berganti nama menjadi Harlabala.

Karunia terbesar yang dimilki Harlabali maupun Harlabala adalah masing-masing dari mereka bisa berubah wujud. Semua bergantung dari sikon dan keinginan mereka sendiri.

Dalam tugas keseharian, terkadang Harlabali iri terhadap hasil kerja yang dilakukan Harlabala. Bahkan pernah ada suatu masa dimana Harlabali selalu kebobolan dan tak berkutik sama sekali dengan apa yang dilakukan Harlabala. Hal ini membuatnya dongkol meski ia sungkan untuk melakukan protes.

Prestasi yang dilakukan Harlabala bukan berarti tak mendapat pujian orang tuanya. Termasuk publik saat itu yang senantiasa mendukung setiap usaha yang dilakukannya.

Tapi ada juga suatu masa dimana daya dan upaya yang dilakukan Harlabali berhasil membuat publiknya memuji. Padahal pada masa itu, sukses yang dilakukan Harlabala sedang berada pada puncak kejayaan.

Keduanya lantas menjadi musuh. Untuk menghindari permusuhan semakin berkecamuk, apalagi masing-masing dari mereka sudah dewasa dan memiliki basis masa pengikut yang kian berjubel, mereka diusir dari wilayah yang kian sempit.

Maka mengembaralah Harlabali dan Harlabala ke seluruh wilayah benua yang ada di muka bumi ini.

Namun dalam pengembaraan itu tak jarang mereka saling menelisik keberadaan masing-masing,. Jika dalam suatu benua Harlabala merasa Harlabali semakin sukses menanamkan pengaruhnya, maka Harlabala akan segera mengirimkan kaki-tangan terbaiknya untuk menyusup ke wilayah yang dikuasai Harlabali kemudian melakukan segala daya dan upaya yang tujuannya tak lain adalah untuk memberangus kerja-kerja yang dilakukan Harlabali.

Harlabali yang enggan kecolongan juga bertindak sama. Setiap mendapati berita di suatu benua dimana Harlabala semakin berkuasa dan merajalela, Harlabali mengutus kader-kader terbaiknya untuk mematahkan pengaruh Harlabala.

Kedua anak kembar ini saling berlomba satu sama lain. Hingga pernah pada suatu masa, kedua orang tua anak kembar ini akhirnya ikut campur tangan atas apa yang telah berlangsung, akibat pertikaian antara Harlabali dan Harlabala. Tetapi itu hanya berlangsung sekali-sekali saja. Hingga pada akhirnya kedua orang tua Harlabali dan Harlabala memutuskan untuk tidak akan campur tangan lagi terkait urusan kedua anak kembar itu.

Pernah suatu ketika, di sebuah wilayah benua, Harlabali semakin tergeser dan tak dapat berbuat banyak saat pengaruh Harlabala telah begitu kuat membentuk sebuah tatanan yang bersandar pada Harlabalaisme. Ia bahkan frustasi setelah semakin menyadari bahwa di wilayah itu kedudukannya begitu lemah dan hanya akan menjadi mangsa Harlabala beserta pengikut-pengikutnya.

Dalam keadaan yang demikian ia akhirnya memutuskan untuk pulang menemui kedua orang tuanya.

“Kenapa engkau pulang nak,?” Tanya Ayahnya
“Aku ingin menyampaikan sesuatu”
“Apa itu?”

Harlabali lantas menceritakan apa yang terjadi. Termasuk ketika ia seringkali kalah dengan saudara kembarnya Harlabala yang pengikutnya banyak dan terus berkuasa.

“Tak usah risau nak. Memang demikianlah adanya. Yang terpenting adalah kau jangan putus asa dan bekerjalah sesuai dengan apa yang kau niatkan. Masak kau kalah dengan saudaramu itu,” kata Ayahnya.
“Aku mau berhenti Ayah. Aku capek. Sebaiknya aku di sini saja bersama Ayah dan Ibu,” keluh Harlabali. Ibunya hanya diam melihat anaknya berkeluh kesah.
“Kau tidak harus putus asa nak. Ayah pikir kau hanya perlu berlatih dan harus lebih kuat lagi,”
“Sudah aku coba Ayah, tapi tetap saja percuma. Memang, aku pernah berhasil di suatu benua, tapi itu tak berlangsung lama. Aku lengah dan tak berpikir kalau Harlabala ternyata telah menempatkan orang-orang terbaiknya dan merusak apa yang telah berhasil aku bangun,”

Ibunya tiba-tiba menimpali.

“Kau bisa mencari benua yang baru. Atau mulailah dari wilayah terkecil. Daerah kepulauan mungkin cocok untukmu,”
“Hm, aku sudah pernah coba. Di benua saja aku kalah, mana mungkin bisa di wilayah kecil. Jadi apa aku di situ?”
“Apa kau sudah pernah ke suatu wilayah bernama Nusantara?” sambung Ayahnya. Harlabali tiba-tiba menatap tajam ke Ayahnya.
“Bahkan aku kalah di situ Ayah”
“Ah, tak mungkin”
“Sudahlah Ayah. Aku di sini saja. Bersama Ayah dan Ibu,”
“Tak baik berputus asa nak. Cobalah kembali ke sana. Siapa tahu masih ada harapan,”
“Percuma. Aku sudah beberapa kali kalah di sana. Entah, aku juga tak habis pikir, bagaimana mungkin di wilayah itu saja Harlabala bisa selalu menang. Sepertinya ia menguasai semua wilayah,”
“Itulah tantangan untukmu nak. Ayah dan Ibu hanya berpesan agar kau tak boleh putus asa. Kembalilah ke sana, jalankan tugas-tugasmu dan jadilah pemenang di sana nak”

Tanpa mengiayakan permintaan itu, Harlabali tiba-tiba beranjak meninggalkan perbincangan itu. Kedua orang tuanya hanya diam. Mereka tahu kalau anaknya sedang dalam kondisi bersedih.

Di sekitar wilayah yang telah lama ia tinggalkan, Harlabali duduk di atas sebuah batu. Ia menatap bentangan alam malam itu yang begitu tenang dan damai. Tiba-tiba ia merasa kalau tempat yang telah lama ia tinggalkan itu, nyaris tak ada tanda-tanda bahwa Harlabala yang suka berbuat kerusakan bisa berkuasa di tanah kelahiran mereka.

Seperti mendapatkan angin baru, ia berlari kembali ke Ayah dan Ibunya di rumah.

“Ayah, Ibu, semenjak kepergian aku dan Harlabala, apakah wilayah ini memang begini? Seperti yang saat ini berlaku?”

Ayah dan Ibunya heran, saling bertatap-tatapan.

“Kenapa?” kata kedua orang tuannya hamper bersamaan.
“Bukankah Harlabala tidak dapat menguasai tempat ini?”
“Sudah menjadi kesepakatan agar kalian tidak ada di sini. Mengapa kau bertanya?”
“Ah, tidak. Aku hanya merasa kalau tempat ini cocok untukku. Maukah Ayah dan Ibu mengijinkan aku untuk kembali tinggal di sini?”
“Nak, kau sudah besar. Telah mengembara ke hampir semua benua di muka bumi ini. Tapi tugasmu belum selesai. Kenapa engkau memilih kembali? Apakah kau tega membiarkan Harlabala terus jadi juara di luar sana? Saudara kembarmu itu menyukai kematian. Jadi untuk apa kau ada di sini? Buatlah juga prestasimu. Kau menyukai kehidupan, kenapa tak kau lakukan tugas-tugas itu?”

Harlabali memohon. Ia bahkan memaksa sembari merengek dihadapan orang tuanya. Saat itulah Ayahnya murka.

“Cukup! Tak sudi aku menerima anak yang lemah dan berputus asa. Tempat ini hanya untuk mereka yang telah selesai mengerjakan tugas-tuganya. Ini bukan tempat bagi orang-orang kalah dan yang tak berputus asa. Jika kau mau aku terima kembali di sini, maka selesaikan tugasmu di luar sana. Bukan datang untuk merengek-rengek dihadapanku. Sungguh aku malu punya anak macam kau!”

Harlabali tertegun. Tak pernah ia menyangka Ayahnya tega berbuat itu. Ibunya juga hanya diam. Tidak membelanya. Meski ada kesedihan terpancar dari raut wajah orang tua itu.

Ayahnya lantas keluar meninggalkan Harlabali dan Ibunya. Ia Nampak begitu kecewa.

Ketika itu Ibu Harlabali mendekat. Harlabali dipeluknya erat. Ia lalu membisikkan sesuatu.

“Ibu bukan tak ingin membelamu nak. Tapi Ayahmu benar. Selesaikan dulu tugas-tugasmu baru kau boleh pulang kemari. Ibu tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, bukankah berjuang itu perlu. Tak boleh berputus asa nak. Buatlah Ibu dan Ayah bangga dengan perbuatanmu. Cobalah untuk pergi ke wilayah yang Ayahmu sebutkan tadi. Siapa tahu ada banyak kesempatan untuk merubah keadaan di sana,”

Keesokan harinya, Harlabali berangkat. Ia mengembara lagi dan sampailah ia ke wilayah Nusantara.

Hari pertama di Nusantara, bumi tak mampu menampung air matanya. Dengan kekuatan yang tersisa, ia bahkan telah beberapa kali berubah wujud sebagai kepentingan penyamaran agar Harlabala yang nampaknya sudah berkuasa di wilayah itu tak dapat mendeteksi kehadirannya.

Tapi, baru 2 bulan lamanya di Nusantara, muncul desas-desus tentang kehadirannya yang cepat jadi bahan pergunjingan.

Harlabala lantas diberi tahu. Semula ia tidak percaya, namun setelah sederet data dan informasi dibeber oleh para pengikut dan loyalisnya, Harlabala akhirnya mendapatkan keyakinan.

“Jadi dia ada di sini sekarang?”
“Betul tuan”
“Meski kalian juga sebenarnya belum tahu pasti di mana ia sembunyi dan kelompok-kelompok mana yang kini ada dibelakangnya,”
“Kita sedang menyusun rencana untuk itu tuan,”
“Hm, gampang. Besok, kalian menyusup ke kantor-kantor kejaksaan dan pengadilan. Pengaruhi jaksa agar menuntut  mati terdakwa narotika. Begitupun semua hakim, pengaruhi isi kepala dan hatinya agar tak sungkan-sungkan memvonis mati para terdakwa. Jangan lupa ya, bukan terdakwa yang korupsi, rampok, apalagi pelaku pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Pilihlah terdakwa narkotika. Kita jadikan eksperimen untuk mengusir orang-orang Harlabali dari negeri ini. Semua Harlabalisme yang datang, kita bunuh. Wilayah ini unik. Peperangan di sini harus berbeda. Aku tak mau ambil resiko. Ingat, Harlabali itu sebenarnya memiliki kekuatan. Dibanding aku, ia bisa mengganti-ganti wujudnya tanpa batas. Jadi jangan pernah beri kesempatan. Bunuh sepuluh orang besok sebagai ucapan selamat datang Harlabala untuk Harlabali,”

Titah itu segera dijalankan. Para pengikut dan loyalis Harlabala sudah sepakat bahwa hanya Harbalaisme yang boleh berkuasa di wilayah itu. Tidak untuk Harlabali.

“Harlabala harus menang. Bunuh para Harlabali, bunuh para Harlabali! Harlabala harus menang!” teriak para Harbalais.