Minggu, 08 Maret 2015

Sekali Lagi, Soal Nova Soputan dan Netizen Reaksioner Berisik


Mereka tak hanya dihujat, tapi dituduh mengingkari sejarahnya selaku anak Mongondow. Mereka tak hanya dibully, tapi dituduh sebagai remaja gengsian untuk sekedar mengaku anak Mongondow. Mereka tak hanya dijadikan bahan olok-olok, tetapi diancam akan ditempeleng satu-satu, kerena mengingkari ke-mongondow-annya. Mereka tak hanya dihina, tetapi diminta agar tak kembali lagi ke tanah Mongondow. Mereka dijadikan samsak tinju para netizen Mongondow, karena dituduh melakukan kamuflase dan mendustai keberadaan mereka selaku anak Mongondow. Mereka bahkan dituduh menyamar, karena malu untuk sekedar mengaku anak Mongondow asli. Mereka tercaci dan dihinakan.

Siapa mereka yang tercaci secara hina-dina itu?

Rupanya yang dimaksud sebagai MEREKA itu (tanpa para pembully sadari) adalah Nova Soputan, perempuan bermarga suku Minahasa, lahir di Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara, yang sepertinya akan merasa lucu (dan terkadang di situ dia akan merasa sedih) karena sepertinya dipaksa kaum reaksioner berisik di Mongondow agar harus mengaku sebagai anak Mongondow asli atau anak Kotamobagu tulen dihadapan Raffi Ahmad dalam acara Dahsyat di RCTI yang tak ada hubungannya sama sekali dengan ke-Mongondow-an.

* * *

Adalah rombongan anak-anak Akademi Keperawatan Totabuan—selanjutnya disingkat Akto—yang tiba-tiba diributkan kalangan netizen di media sosial Facebook, Twitter, Path dan BlackBerry Messenger.

Apa yang terjadi sehingga para aktivis media sosial membully dan menghujat sedemikian sengit?

Sebenarnya, bukan soal apa yang telah dijawabkan Nova Soputan pada Rafi Ahmad mantan cowok Yuni Shara, tetapi soal apa yang telah digeneralisir secara sembarangan sekali kepada anak-anak Akto (Nova adalah mahasiswa Akto), dari orang-orang yang seolah-olah mendaulat kadar Mongondow-nya paling Ori bukan kawe-kawean.

Lalu kenapa anak-anak Akto dituduh melakukan hal-hal sebagaimana yang disampaikan pada awal tulisan ini? Amboiiii....rupanya hanya gara-gara soal percakapan singkat (basa-basi gak penting) yang berlangsung beberapa detik saja antara Raffi Ahmad dan Nova Soputan, bermarga suku Minahasa yang lahir di Ratahan Minahasa Tenggara.

Diketahui bahwa anak-anak Akto sedang dalam urusan studi di Jakarta. Oleh adanya suatu kesempatan, mereka mampir ke studio RCTI menonton program Dahsyat dimana Raffi Ahmad adalah presenter dalam acara itu.

Saat segmen lomba (makan Mie) akan dilangsungkan, Raffi Ahmad memilih 3 penonton untuk dapat berpartisipasi mengikuti segmen tersebut. Nova Saputan adalah peserta terakhir yang terpilih secara acak tatkala dia berdiri di barisan penonton.

Saat lomba baru akan dimulai, Raffi berbasa-basi menanyakan siapa dan dari manakah para peserta yang ikut berpartisipasi dalam segmen tersebut (ingat, hanya basa-basi).

Nova Soputan adalah yang terakhir ditanya. Tak ayal, ketika Raffi bertanya, dari mana? Nova Soputan menjawab, Manado (umumnya orang dari seluruh pelosok SUlawesi utara menjawab dari Manado ketika berada di luar daerah). Raffi bertanya lagi, dari kampus mana? (mungkin karena melihat Nova memakai almamater).  Maka dengan tegas dan lugas, Nova menjawab, dari Akper Totabuan. Sampai di situ saja lalu lomba dimulai hingga acara usai.

Siang harinya (Minggu 08 Maret 2015), kemarin, ributlah penghujatan terhadap anak-anak Akto yang meruyak di media sosial. Tampilnya Nova Soputan sebagai penonton yang tidak mengaku anak Mongondow asli atau anak Kotamobagu tulen (karena dia memang bukan anak Mongondow) pada Raffi Ahmad, menjadi sandaran kaum netizen reaksioner berisik di Bolaang Mongondow Raya, untuk menjaringkan pukat kepada seluruh anak-anak Akto sebagai pemalsu identitas dan pengingkaran terhadap tanah leluhur. (Tanpa menyebut ulang secara keseluruhan tuduhan-tuduhan lain yang tak main-main di awal tulisan, termasuk yang diturunkan Leput Institut pada tulisan edisi Minggu 08 Mare 2015, kemarin.

Pembaca, di mana kewarasan kita selaku orang Mongondow yang merdeka dan tahu menggunakan akal sehat kita sehingga dapat menempatkan diri dalam tindak dan pikir yang bisa dicerna logika? Bagaimana mungkin kita mengaku orang Mongondow yang berakal sehingga seharusnya beradab, namun secara tiba-tiba menjerumuskan diri dengan cara mempersempit logika kemudian menjadi kaum netizen reaksioner berisik dan otoritarian yang seolah-olah memaksakan kehendak kepada Nova Soputan, gadis bermarga suku Minahasa dan lahir di Ratahan, supaya mengaku sebagai orang Mongondow tulen atau anak Kotamobagu asli di hadapan Raffi Ahmad di acara Dahsyat RCTI? (Semua bully kalian terampang nyata di medsos, dan percuma dihapus sebab sudah di screenshoot sehingga biarlah jadi pelajaran bagi para generasi netizen selanjutnya).

Lalu logika macam apa yang dipakai dan disimpulkan para netizen reaksioner berisik Mongondow sehingga nekat melemparkan jala ke seluruh anak Akto, yang dituduh memalsukan identitas Mongondow atau dituduh tak berbudaya karena malu mengaku anak Mongondow asli atau anak Kotamobagu tulen? 

Nova Soputan seorang diri saja yang ditanyai Raffi; "Dari mana?" Kok kalian yang harus meradang bak kebakaran jenggot (kalaupun berjenggot) atau kebakaran kening Sinchan, gara-gara Nova Soputan yang bermarga suku Minahasa dan lahir di Ratahan Minahasa Tenggara itu menjawab bahwa dia dari Manado dan kuliah di Akper Totabuan? dan secepat itu menyeruduk kemana-mana dengan cara menggeneralisir persoalan secara bengkok. 

Nah, apa yang salah dengan jawaban itu? Adalah kemerdekaan dan hak dari Nova Soputan berdarah Minahasa untuk menjawab, dia dari mana dan kuliah di mana. Percakapan singkat bermakna basa-basi dan jawaban Nova Soputan yang menyebut dirinya dari Manado namun kuliah di Akper Totabuan itukah yang membuat kadar ke-mongondow-an kalian para penghujat yang miskin data bakal luntur? 

Lalu kalian kaum netizen reaksioner alay dan berisik di Mongondow, maunya kalian Nova Soputan harus menjawab apa supaya tidur kalian bisa pulas dan mendengkur tanpa pica pagi main Clash of Clan? Apakah harus dengan menjawab bahwa dia (Nova Soputan) adalah anak Mongondow asli atau Kotamobagu tulen? Begitu? Agar kalian orang-orang yang seharusnya merdeka tidak menjadi kaum reaksioner berisik dan fasis di Mongondow untuk sekedar tenang dalam dengkur? Helloooo.....Betapa sewenang-wenang dan kampretnya kehendak itu. Di mana pengetahuan budaya kalian dalam menghormati etika dan adab yang seharusnya merdeka dari picik?

Makin menggemaskan lagi ketika Anggota DPRD Sulut dari Bolaang Mongondow Raya, Ardiansyah Imban ikut-ikutan sesat pikir bersama kaum netizen reaksioner berisik, menghujat anak-anak Akto yang disangkanya tidak mengaku sebagai orang Mongondow di hadapan si ganteng Raffi Ahmad. Amboii....bapak dewan yang terhormat, apakah Anda tidak menonton kalau Nova Soputan, (perempuan bermarga suku Minahasa dan lahir di Ratahan Minahasa Tenggara), seorang diri lah, yang ditanyai Raffi? Bukan keseluruhan anak-anak Akto yang saat itu cuma jadi penonton?

Wahai orang-orang yang tiba-tiba menjadi kaum reaksioner berisik bin fasis bin otoritarian, bukankah menggeneralisir suatu persoalan hanya menunjukkan betapa logika kalian hanya setinggi tumit.


Tulisan Sebelumnya :

Dahsyatnya Nova Soputan, Dihujat Gara-Gara Hanya Menyebut dari Akper Totabuan (Tanpa Mongondow)